Tugu Demarkasi Van Mook Di Sumatera Barat

0 42

Tugu Demarkasi Van Mook Di Sumatera Barat

Belanda masih ingin mengusai Indonesia sebab merasa bahwa Indonesia adalah miliknya. Sehingga dia melakukan berbagai upaya guna mendapakan kembali Indonesia, termasuk melalui perlawanan dan meja perundingan. Sejak 10 Februari 1946 telah terjadi perundingan antara Indonesia-Belanda sebelum selanjutnya terjadi perundingan. Keinginan Belanda untuk terus memperluas wilayah kekuasaannya, yang kemudian dikenal dengan garis demarkasi Van Mook, yaitu garis terdepan dari pasukan Belanda setelah Agresi Militer sampai perintah genctan senjata Dewan Keamanan PBB tanggal 4 Agustus 1947.

Pada 29 Agustus 1947 secara sepihak Belanda memproklamasikan garis demarkasi van Mook. Garis van Mook menjadi garis batas antara daerah kedudukan masing-masing pihak pada saat gencatan senjata dilaksanakan. Pada umumnya garis ini menghubungkan titik-titik terdepan dari kedudukan tentara Belanda dalam penyerbuan atas wilayah RI sehingga menutup daerah-daerah yang secara efektif dikuasai oleh pihak RI. Dan untuk mencapai penyelesaian politik, pihak RI harus menerima garis van Mook.

Penetapan garis demarkasi van Mook itu, maka pasukan RI yang berada di daerah kantong (demiliterized zone) harus ditarik ke daerah RI. Daerah kantong adalah daerah yang berada di belakang Garis van Mook, yakni garis yang menghubungkan dua daerah terdepan yang diduduki Belanda. Dengan demikian Belanda yakin kematian RI tinggal soal waktu saja. Alasan yang dikemukakan oleh van Mook dalam gerakan-gerakannya sesudah penghentian tembak-menembak ialah operasi pengamanan (gerilya dianggap perampok).

Menanggapi tindakan van Mook tersebut, wakil PM. A. K. Gani mengirim telegram ke Dewan Keamanan PBB pada tanggal 29 September membeberkan pelanggaaran-pelanggaran Belanda dan mendesak agar DK memerintahkan Belanda menarik mundur pasukannya ke tempat kedudukan sebelum penyerangan. Usul ini hanya mendapat dukungan dari Rusia dan Australia (anggota DK) dan India.

Dalam perkembangan selanjutnya garis demarkasi van Mook ini tetap dipertahankan oleh Belanda. Dalam perundingan Renville, garis van Mook diterima sebagai batas kedudukan militer kedua pihak, sehingga garis van Mook disebut juga “garis status quo Renville”.

Tujuan Belanda melakukan serangan atas RI yang dimulai sejak 21 Juli 1947 ialah penghancuran RI. Untuk mencapai tujuan tersebut, Belanda tidak bisa melakukannya sekaligus, karena itu pada tahap pertama Belanda harus mencapai sasaran sebagai berikut:

  1. Politik, yaitu pengepungan ibukota RI dan penghapusan RI dari peta (menghilangkan de facto RI);
  2. Ekonomi, yaitu merebut daerah-daerah penghasil bahan makanan (daerah beras di Jawa Barat dan Jawa Timur) dan bahan ekspor (perkebunan di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera serta pertambangan di Sumatera);
  3. Militer, yaitu penghancuran TNI.

Jika fase pertama dapat dicapai dengan baik, maka fase kedua, yaitu fase penghancuran RI secara sempurna akan dapat dilakukan. Namun agresi militer Belanda I ternyata tidak berhasil mencapai tujuan fase pertama. Ibukota RI memang terkepung dan hubungan ke luar negeri sulit karena pelabuhan-pelabuhan penting dikuasai oleh Belanda. Ekonomi RI mengalami kesulitan pula karena daerah RI yang merupakan penghasil beras jatuh ke tangan Belanda. Tetapi dalam usahanya menghancurkan TNI, Belanda mengalami kegagalan.

TNI dalam Perang Kemerdekaan I mempraktekkan sistem pertahanan linear (mempertahankan garis pertahanan) yang ternyata tidak efektif, sehingga TNI terusir dari kota-kota. Akan tetapi TNI tidak mengalami kehancuran, lalu bertahan di desa-desa. Kelak dalam Perang Kemerdekaan II TNI mempraktekkan siasat perang rakyat semesta dengan bergerilya.

Source https://rangkiangbudaya.wordpress.com https://rangkiangbudaya.wordpress.com/2013/10/21/tugu-demarkasi-van-mook-di-sumatera-barat/
Comments
Loading...