Situsbudaya.id , Yogyakarta – Siapa sangka, sebuah kawasan bekas tambang batu yang gersang kini menjelma menjadi salah satu ikon wisata paling populer di Yogyakarta. Tebing Breksi, yang terletak di Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman, adalah bukti nyata bagaimana kreativitas dan konservasi alam dapat berjalan beriringan menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.
Asal-Usul: Kawasan Tambang Rakyat Selama Puluhan Tahun
Jauh sebelum dipadati wisatawan, Tebing Breksi merupakan area penambangan batu alam yang menjadi sumber mata pencaharian utama warga setempat sejak tahun 1980-an. Batuan di kawasan ini dikenal sebagai batuan breksi yang terbentuk dari abu vulkanik Gunung Api Purba Nglanggeran jutaan tahun yang lalu.
Selama berdekade-dekade, warga memahat tebing ini secara manual untuk diambil batunya sebagai bahan bangunan. Aktivitas ini menyisakan guratan-guratan artistik yang tidak disengaja pada dinding tebing, yang di kemudian hari justru menjadi daya tarik visual utama.
Momentum Perubahan: Penelitian Geologi dan Larangan Menambang

Titik balik Tebing Breksi terjadi pada tahun 2014. Saat itu, para peneliti geologi menemukan bahwa batuan di lokasi tersebut merupakan endapan abu vulkanik dari letusan Gunung Api Purba yang sangat langka dan memiliki nilai ilmiah tinggi.
Berdasarkan temuan tersebut, pemerintah menetapkan kawasan ini sebagai Heritage Geologi atau Cagar Alam Geologi. Akibatnya, segala aktivitas penambangan resmi dilarang untuk melindungi formasi batuan purba tersebut. Larangan ini sempat membuat warga sekitar khawatir akan kehilangan mata pencaharian mereka.
Kreativitas Warga: Mengubah Pahat Menjadi Seni

Alih-alih membiarkan kawasan tersebut terbengkalai, masyarakat yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis) berinisiatif mengubah bekas tambang tersebut menjadi destinasi wisata. Dengan sentuhan seniman lokal, dinding-dinding tebing mulai dipahat dengan relief-relief indah, seperti gambar naga, tokoh pewayangan, dan ornamen seni lainnya.
Pada 30 Mei 2015, Sri Sultan Hamengkubuwono X meresmikan Tebing Breksi sebagai kawasan wisata resmi. Sejak saat itu, ribuan pasang mata setiap bulannya datang untuk menikmati kemegahan tebing kapur setinggi 30 meter ini.
Daya Tarik: Keindahan Sunset dan Panggung Seni

Kini, Tebing Breksi tidak hanya menawarkan pemandangan tebing yang eksotis. Di bagian atas tebing, pengunjung bisa menikmati panorama 360 derajat yang memperlihatkan Gunung Merapi, Candi Prambanan, hingga keindahan matahari terbenam (sunset) yang memukau.
Fasilitasnya pun kian lengkap dengan adanya Tlatar Seneng, sebuah amfiteater atau panggung pertunjukan terbuka dengan latar belakang tebing yang megah. Tempat ini sering digunakan untuk konser musik, pertunjukan seni tradisional, hingga acara pernikahan.
“Tebing Breksi adalah simbol kebangkitan masyarakat Sambirejo. Dari memahat batu untuk dijual, kini kami memahat masa depan melalui pariwisata,” ujar salah satu pengelola kawasan tersebut.