Telaga Senggreng, Waduk Buatan Peninggalan Belanda

0 84

Telaga Senggreng, Waduk Buatan Peninggalan Belanda

Telaga Senggreng merupakan waduk buatan di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Telaga tersebut merupakan salah satu bangunan peninggalan penjajah Belanda yang masih tersisa di kawasan Malang selatan.

Lokasi Telaga Senggreng pada zaman dahulu kala masih berupa tebing yang di bawahnya mengalir sungai kecil nan jernih yang berasal dari beberapa sumber mata air yang banyak berada di sekitar tebing tersebut. Sumber yang paling besar bernama Sumber Kromoleo. Pemerintah Hindia-Belanda berkeinginan agar air dapat dimanfaatkan secara maksimal, untuk pertanian, perikanan, tempat mandi penduduk, dan tempat bersantai melepas lelah bagi penduduk sekitar yang seharian bekerja keras menggarap lahan pertaniannya dan lain-lain. Maka, melalui assisten Wedono (yang waktu itu penduduk biasa menyebutnya Ndoro Sten atau yang sekarang disebut Camat) mereka memerintahkan penduduk sekitar untuk membuat tanggul untuk membendung sungai limpahan Sumber Kromoleo agar menjadi waduk buatan yang airnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Atas perintah Ndoro Sten tersebut, masyarakat sekitar, terutama warga Desa Senggreng bergotong-royong mengadakan kerja bakti membuat tanggul. Bahan-bahannya antara lain terdiri dari ijuk (dalam Bahasa Jawa disebut duk), tanah uruk dan lain-lain. Tak butuh waktu lama, maka jadilah waduk buatan tersebut. Daerah sekitarnya disebut Dawuhan (berasal dari kata dawuh atau perintah dalam Bahasa Jawa), yang hingga kini menjadi sebutan bagi daerah sekitar waduk buatan tersebut.

Ternyata waduk buatan tersebut memiliki banyak nama sebutan dari orang-orang. Ada yang menyebutnya Waduk Dawuhan, Rowo Kromoleo, Tanggul Duk Tumpuk, dan lain-lain. Namun, sebutan itu kurang dikenal oleh masyarakat luar desa. Sebutan “Rowo” pun sebetulnya kurang tepat, karena rawa identik dengan tanah lembek yang jika terinjak akan menyeret penginjaknya masuk dalam tanah. Sementara waduk buatan tersebut merupakan genangan air bening yang berasal dari sumber air yang jernih. Oleh karena itu, dengan tujuan agar masyarakat luar daerah lebih mudah mengenal letak daerah tersebut, nama Telaga Senggreng lebih layak disematkan.

Telaga Senggreng tampak masih asri dan jauh dari sentuhan modernisasi sebagai tempat wisata komersial. Telaga ini menjadi simbol semangat dan kemauan masyarakat Desa Senggreng di masa itu yang patut diacungi jempol. Dalam kondisi politik masih dalam jajahan Belanda, mereka mampu membangun tanggul air yang hingga kini dapat mengairi sawah sampai seluas +52 Ha.

Waduk buatan ini berada di antara dua desa ‘juara’, yaitu Desa Senggreng yang merupakan Juara Nasional tahun 1999 dan Desa Sambigede sebagai Juara Kabupaten Malang tahun 2004. Luasnya mencapai +14 Ha, dengan debit air hingga +25 liter/detik. Kedalaman air telaga bervariasi antara 1 sampai 10 meter, di mana di tepi telaga terdapat dua buah sumber air yang cukup besar.

Air tawarnya mengalir sepanjang tahun, tidak pernah surut walaupun musim kemarau panjang melanda dan tidak pernah meluber di saat musim hujan tiba. Kondisi yang demikian ini sangat memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai objek wisata air. Terlebih letak geografisnya yang sangat strategis, lokasi yang sangat mudah dijangkau, dengan kondisi jalan menuju Desa Senggreng beraspal Hotmix, maka sangatlah sayang jika potensi ini dibiarkan begitu saja tanpa adanya upaya dari para pihak yang berkompeten mengembangkannya sebagai salah satu solusi dalam mengurangi angka kemiskinan di daerah tersebut.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2017/03/29/telaga-senggreng-waduk-buatan-peninggalan-belanda/
Comments
Loading...