Surau Pasar (Masjid Raya Pariaman)

0 11

Surau Pasar (Masjid Raya Pariaman)

Syech M. Jamil merupakan seorang ulama dan pedagang di Pariaman yang berasal dari Tiku. Syech M. Jamil lahir sekitar tahun 1843. Sebagai pedagang, Syech M. Jamil berdagang sampai ke Malaysia. Dalam proses berdagang ke Malaysia, Syech M. Jamil juga menuntut ilmu agama Islam di Pahang, Malaysia. Setelah menuntut ilmu agama Islam di Malaysia, Syech M. Jamil pulang ke Tiku, dan kemudian menetap di Pariaman tepatnya di Kampung Perak Nagari Pasar. Syech M. Jamil meninggal tahun 1928 dengan usia 85 tahun Untuk menyebarkan Agama Islam di Pariaman, Syech M.

Jamil membangun sarana ibadah di Kampung Perak dengan nama Surau Ampaleh yang kemudian berganti nama menjadi Suaru Anjuang. Pembangunan Surau Ampaleh ini sekitar tahun 1860-1870 M. Dengan makin bertambahnya penduduk Nagari Pasar, maka Syech M. Jamil bersama masyarakat Nagari Pasar Pariaman, membangun tempat peribadatan yang baru sekitar tahun 1300 H atau sekitar tahun 1879 M, dengan proses pembangunan memakan waktu sekitar 4 tahun, dengan lokasi pembangunan disamping Surau Anjuang. Setelah pembangunan surau baru-masjid dibangun sarana pendukung lainya seperti madrasah, surau suluk.

Masjid bertingkat dua, pada tingkat pertama berukuran 21 x 21 meter dan pada tingkat kedua berukuran 9,5 x 9,5 meter ini memiliki atap tumpang sebanyak lima buah, terlihat dari luar bangunan ini merupakan bangunan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau Tahun 2018 dengan satu lantai tetapi setelah masuk ke dalam bangunan maka pada bagian atas terdapat loteng yang dihubungkan dengan sebuah tangga dibagian belakang bangunan. Bagian loteng ini terbuat dari bahan kayu yang merupakan satu rangkaian dengan kerangka atap dan plafond.

Bagian tubuh bangunan tersusun dari bata berplester yang dibagian ruang utama masjid terdapat sembilan buah tiang dan salah satunya merupakan tiang utama atau soko guru yang berada di tengah-tengah bangunan. Pada syaf terdepan terdapat tiang-tiang yang dihubungkan dengan lengkungan, bagian tersebut membedakan antara syaf pertama dengan syaf yang ada di belakangnya. Pada tahun 1992 masjid dipugar oleh pengurus masjid. Bangunan masjid ditopang oleh 9 tiang dan satu tiang soko. Arsitektur masjid mencirikan arsitektur masjid tipe bodi-chaniago. Atap masjid awalnya terbuat dari ijuk dan telah diganti dengan seng. Disamping masjid terdapat makam Syekh Moh. Jamil yang dimakamkan pada tahun 10 Februari 1928. Disamping masjid terdapat surau pasar yang beratap tumpang tiga dan terbuat dari kayu. Surau ini difungsikan untuk tempat mengaji.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kota-Pariaman.pdf
Comments
Loading...