Surau Lubuak Bauk Tren Bagonjong

0 46

Surau Lubuak Bauk Tren Bagonjong

Surau adalah tempat dimana fungsi Surau sebagai tempat belajar agama, belajar alur pasambahan, atau seni berunding, juga di halamannya pada malam hari digunakan untuk latihan silat, serta tempat tinggal bagi anak laki-laki yang sudah akil baliq. diSurau kaum inilah pendidikan dasar seorang anak Minangkabau dimulai. kita banyak mengenal tokoh-tokoh asal Minangkabau yang sukses pendidikan dasarnya adalah pendidikan Surau terkhusus Surau kaum.

Kompleksitas bagian dan fungsi Surau juga tergambar seni arsitektur bangunannya yaitu bercorak tanduk kerbau seperti salah satunya Surau Lubuak bauk di Batipuh Baruh. Batipuh, salah satu daerah yang tercatat dalam Tambo dan sejarah Sumatera Barat, tuan Gadang batipuh. Gelar kebesaran kerajaan Pagaruyung yang dikenal dengan Harimau Campo Koto Piliang, dan juga masa Belanda, masyarakat Batipuah juga pernah melakukan penyerangan terhadap tangsi Belanda di tahun 21 Februari 1841 yang dikenal dengan pemberontakan Batipuah. Batipuah sudah dikenal sejak dahulunya. Bahkan Surau Lubuk Bauk ini,salah satu lokasi syuting film Tenggelamnya Kapal Van der dan tempat Buya Hamka Mangaji.

Kalau menuju Kota Batusangkar dari kota Padang Panjang, Surau Lubuak Bauk ini sangat mudajh ditemui karena letaknya tidak jauh dari jalan lintas Padang panjang- Batusangkar atau ± 6 km dai kota Padang panjang. Surau Lubuak Bauk yang berseni Arsitektur khas Minangkabau masih mempertahankan ciri khas bangunan sezaman yaitu terbuat dari kayu dengan denah persegi. Luasnya ±155 m²  tinggi sampai atap 13 m. Surau Lubauk bauk yang terdiri dari tiga lantai ini memiliki satu menara tinggi lantai dasar dari permukaan tanah ±1.40 m ukiran bagian luar terdapat ukiran. Benar-benar paduan seni arsitektur Minangkabau. Seni arsitektur Surau lubauh bauk masih bersifat vernacularartinya masih original dan belum tersentuh pengaruh luar.

Surau pada umumnya di Minangkabau yang dihalamannya terdapat kolam pada pintu masuk terdapat lafash Bismillahirahmanirahim. Menurut ceritanya, Surau ini dibangun oleh para ninik mamak yang berasal suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku sekitar tahun 1896 dan diperkirakan selesai tahun 1901. Tanah Surau ini berasal dari wakaf Datuk Bandaro Panjang.Surau ini dibangun sepenuhnya dengan bahan utama kayu Surian dengan corak bangunan dari Koto Piliang yang dapat dilihat dari susunan atap dan adanya menara. Tahun 1989 telah dilakukan studi kelayakan dan dilakukan pemugaran awal tahun 1993. 

Surau Lubuak bauk ada 30 tiang penyanggah. Lantai I Bangunan Surau terdiri atas tiga lantai, yaitu lantai I, II, dan III. Denah lantai I berukuran 12 × 12 m. Lantai II berukuran 10 × 7,50 m, lebih kecil dari lantai I. Untuk masuk ke lantai II melalui sebuah tangga kayu. Di dalam lantai II tiang utama (empat tonggak) juga diberi ukiran-ukiran yang berpola sama dengan tiang di lantai I. Lantai III berdenah bujur sangkar berukuran 3,50 × 3,50 m. Di tengah-tengah ruangan terdapat satu tiang dengan tangga melingkar untuk naik ke menara. Sedangkan bagian luar lantai III membentuk empat serambi . Ada empat serambi melambangkan Jurai nan Ampek Suku, agama, dan lambang dan empat tokoh pemerintahan (Basa Empat Balai) kerajaan Pagaruyung. Sedangkan ukiran pakis di bagian luar serambi melambangkan kebijaksanaan, persatuan, dan kesatuan dalam nagari.

Source https://rangkiangbudaya.wordpress.com https://rangkiangbudaya.wordpress.com/2016/05/10/surau-lubuak-bauk-tren-bagonjong/
Comments
Loading...