Surau Gadang Bintungan Tinggi Padang Pariaman

0 24

Surau Gadang Bintungan Tinggi

Surau ini dibangun pada tahun 1864 oleh Syech Abdul Rahman yang dipergunakan sebagai masjid jami’ dan tempat mengajar Alquran. Secara morfologis, surau ini mempunyai bentuk yang sama dengan surau-surau lainnya di Minangkabau (Sumatera Barat). Hal ini ditandai dengan bangunan/ruang utama yang berdenah bujur sangkar (persegi panjang), atapnya berbentuk tumpang (tingkat), dan lantai yang ditinggikan (panggung).

Keseluruhan bangunan terbuat dari kayu beratap tumpang 3 (tiga) terbuat dari seng, bangunan sekarang merupakan hasil pemugaran Balai Pelestarian Purbakala pada tahun 2004. Bangunan utama ditopang oleh 44 buah. Tiang dalam 23 buah yang terdiri dari tiang utama sebanyak 9 buah tiang, tiang soko guru 1 buah dan berukir, tiang gantung 8 buah, tiang mihrab 4 buah dan 1 buah tiang utama yang disangga oleh pasak yang berbentuk mata angin. Susunan kayu ini dipasang dengan bentuk melintang diagonal.

Bangunan utama berdenah bujur sangkar dengan ukuran panjang 11 m dan lebar 11 m, sementara bangunan mesjid berbentuk pamnggung dengan tinggi kolong 120 cm, untuk masuk ke ruang utama terdapat tangga naik dari bata berplester yang berspesi kapur. Ruang utama ini disangga oleh 1 (satu) buah tiang maco (suku guru) dengan ukuran diameternya 55 cm. Tiang macu berbentuk segi delapan dan bermotif hias ukiran sulur-suluran, tiang ini masih asli. Di bagian atas tiang macu mulai dari loteng/atap pertama sampai ke atap tinggkat 3 di ikat (disangga) oleh tiang-tiang melintang diagonal. Tiang maco ini dikelilingi oleh tiang-tiang penyangga lainnya berjumlah 8 (delapan) buah dengan ukuran diameternya 25 cm.

Tiang-tiang penyangga ini yang masih asli sebanyak 7 (tujuh) buah, 2 (dua) buah lainnya sudah diganti dengan yang baru. Jendela dalam ruangan utama semuanya berjumlah 12 (dua belas) buah yang terdapat di sisi utara dan selatan masing-masing 4 buah, di sisi barat dan timur masing-masing 2 buah. Sekeliling ruang dari bagian tepi dinding ke bagian tengah bagian lotengnya diberi plafon selebar 1 m, keadaan ini terlihat seolah-olah terdapat lantai dua. Pintu masuk berada di sisi timur sebanyak dua buah, engsel-engsel pintu masih terlihat asli dengan ukuran besar. Di sisi selatan dari pintu masuk terdapat sebuah bedug, sampai sekarang bedug ini masih di tabuh ketika memanggil warga masyarakat untuk berkumpul wirid.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kabupaten-Padang-Pariaman.pdf
Comments
Loading...