Stasiun Kereta Api Simpang Haru Padang

0 16

Stasiun Kereta Api Simpang Haru

Pembangunan stasiun Simpang Haru sejalan dengan pembangunan jalur kereta api sepanjang Padang sampai Sawahlunto yang dimulai pada tanggal 6 Juli 1889 untuk memperlancar transportasi angkutan batu bara dari Sawahlunto ke pelabuhan Emmahaven (kini Teluk Bayur). Pembangunan jalur kereta api tersebut dimulai dari jalur dari Pulau Aie (Muaro Padang) – Padang Panjang, diteruskan ke jalur Padang Panjang – Bukittinggi (selesai 1891), Padang Panjang – Solok (selesai 1892), kemudian jalur Solok – Muaro Kalaban dan Padang – Teluk Bayur yang juga selesai pada tahun 1892. Stasiun Simpang Haru Kota Padang, Sumatera barat dibangun demi kelancaran perkeretaapian.

Stasiun ini berfungsi sebagai induk sekaligus pusat yang menjangkau dan membawahi seluruh stasiun di Sumbar. Pembangunan Stasiun ini dimulai pada 6 Juli 1889, tujuan untuk memperlancar transportasi angkutan batu bara dari Sawahlunto ke Pelabuhan Emmaheven (Teluk Bayur sekarang). Pembangunan stasiun juga didirikan 4 los besar dengan kontuksi besi di jalan Sawahan untuk bengkel kereta api. Pendirian bengkel ini agar perkeretaapian di Sumbar tidak bergantung pada Jawa. Tidak jauh dari bengkel ini didirikan gedung-gedung penyimpanan lokomotof. Selain itu, ada 3 los khusus dari kayu. Bengkel inilah membuat segala sesuatu untuk keperluan kereta api arah Kayu Tanam, arah ke Teluk Bayur dan pembanguan jembatan Seberang Padang.

Bangunan stasiun Simpang Haru merupakan bangunan bergaya arsitektur “Indische Empire”, dengan ciri-ciri seperti : teras depan yang luas, gevel depan yang menonjol, kolom-kolom gaya Yunani yang menjulang keatas. Bentuk bangunan berupa bentang lebar dengan bentuk atap pelana ditambah dengan lubang sirkulasi udara panas diatasnya, bentuk ini sangat ideal dengan bentang lebar dapat menampung banyak penumpang maupun pengantar yang berada di dalam stasiun. Bentuk maupun pola pintu serta jendela mempunyai ciri khas Indies, yaitu tinggi dan besar, dan selalu di ikuti dengan ornamen disekeliling kusen pintu berupa tempelan keramik.

Ornamen jendela yang berfungsi sebagai sirkulasi udara maupun pencahayaan, dibuat sedemikian rupa, sehingga bangunan cukup mendapat cahaya dan udara dari luar. Pola, bentuk dan warna lantai maupun plint, pada stasiun ini mempunyai corak dan warna yang sama yaitu putih, dapat diidentifikasikan jika pada jamannya warna ini merupakan trendsetter pada bangunan umum. Plafond dari bahan kayu yang mampu meredam panas yang timbul serta langit2 yang tinggi memungkinkan tempat berkumpulnya udara panas sehingga ruangan yang ada dibawahnya akan menjadi lebih sejuk, mengingat iklim geografis daerah tropis.

Batas antara selasar dan jalur rel kereta api di gunakan marmer kasar yang fungsinya sebagai pembatas, tidak licin, serta kuat/keras. Bentuk atap sederhana dengan bukaan ventilasi maupun “double gevel” sehingga seperti atap bertingkat yang memungkinkan angin maupun udara panas bisa bersirkulasi dengan baik. Ciri khas bangunan arsitektur kolonial adalah proporsi bangunan yang tidak skalatis terhadap manusia, memungkinkan menjadi bentuk yang megah, mengingat stasiun ini dipergunakan banyak orang atau dapat menampung penumpang maupun pengantar yang akan pergi, maka sirkulasi udara dan aliran udara panas dapat mengalir dengan baik dan lancar.

Penggunaan struktur baja pada bentuk bangunan kolonial sangatlah jarang dan tidak lazim, mengingat stasiun ini memerlukan bentangan yang lebar, penggunaan struktur yang tepat pada masa itu adalah dengan penggunakan struktur baja. Hampir semua bangunan menggunakan struktur baja untuk mendapatkan bentangan yang lebar, mulai dari struktur kolom, kuda-kuda, balok maupun konsol, dan untuk masa itu mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Selasar yang lebar untuk tampias air hujan dan sinar matahari langsung, Pada sistem drinase vertikal ini, bangunan telah memiliki dengan baik, sehingga air pembuangan dari atap dapat mengalir lancar ke pembuangan.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kota-Padang.pdf
Comments
Loading...