Stasiun Kereta Api Pulo Aie

0 40

Stasiun Kereta Api Pulo Aie

Kota Padang sebagai kota kolonial tumbuh dan berkembang karena pengaruh penetrasi Belanda. Selain sebagai pusat administratif dan pusat kegiatan ekonomi, kota kolonial juga ditandai dengan terpusatnya bangunan-bangunan pemerintahan di sana. Mulai dari kantor residen, atau gubernur, bank, kantor polisi, kantor pos, penjara, gudang-gudang, asrama tentara, dan loji-loji dagang. Belanda tak sekedar mengendalikan wilayahnya bertempat di kawasan ini, tapi juga menjadikannya pusat kegiatan perdagangan, ekonomi, militer dan politik. Disepanjang Batang Arau terdapat kawasan pusat Pemerintahan Sumatera Barat (keletakan kantor Gouvernements van Sumatera’s Westkust dan kantor Residentie Sumatera’s Weskust). Kantor Residentie Sumatera’s Weskust pada dahulunya merupakan kawasan keletakan loji yang selain merupakan pusat kegiatan pemerintahan, juga merupakan kawasan perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat Eropa khususnya masyarakat Belanda.

Selain sebagai pusat pemerintahan, Padang dahulu juga sebagai pusat perniagaan, terlihat di sepanjang tepi Batang Arau terdapat bangunan dan gudang-gudang perniagaan dimasa pemerintahan Kolonial Belanda. Di kawasan kota lama inilah rempah-rempah hasil bumi yang dibawa dari pedalaman Minangkabau, seperti; pala, beras, rotan, tembakau, kopra, pinang, kopi, kulit manis, coklat, damar, dan hasil bumi lainnya, tidak heran jika di kawasan ini terdapat gudang dan toko-toko perniagaan. Di kawasan Kota Lama ini terdapat  beberapa pasar, yaitu; Pasa Gadang, Pasa Batipuh dan Pasa Mudiak. Bukan hanya pedagang dari Padang yang berdagang di Pasa Gadang, tetapi ada pedagang dari pedalaman Minangkabau, seperti Solok, Batipuh, Sumpu, Kumango, Bukittinggi, Pesisir, Batusangkar, dan Pariaman. Lalu Suku Mandailing dan juga keturunan India atau yang dikenal pedagang Keling. Sebelum mengenal kereta api para pedagang ini membawa dagangannya dengan menggunakan Pedati dan menggunakan kapal melalui Pelabuhan Batang Arau.

Perkeretaapiaan di Sumatera Barat dimulai dengan ditemukannya sumber alam batubara di Sawahlunto oleh Willem Hendrik de Greve pada tahun 1868. Setelah itu Pemerintah Kolonial Belanda merencakan pembangunan tiga serangkai, yaitu: pembangunan tambang batubara di Sawahlunto, pembangunan jalur kereta api dan pembangunan pelabuhan baru Teluk Bayur (Emmaheaven).

Jalur kereta api pertama dibangun pada bulan Juli 1891  dari stasiun Pulo Aie menuju stasiun Padangpanjang. Empat bulan kemudian jalur dari Padangpanjang diteruskan sampai Bukittinggi, selesai pada bulan November 1891. Sementara pembangunan jalan kereta api dari Padangpanjang ke Muara Kalaban sepanjang 56 Km dapat diselesaikan sampai bulan Oktober 1892. Kemudian tahun 1894 diselesaikan jalan antara Muara Kalaban–Sawahlunto, sedangkan lintas Bukittinggi–Payakumbuh diselesaikan tahun 1896, dilanjutkan sampai Limbanang yang diselesaikan tahun 1921. Dalam kurun waktu 22 tahun dapat diselesaikan pembangunan jalur kereta api sepanjang 230 km. Jalur lintas Lubuk alung-Pariaman selesai pada tahun 1908, Pariaman-Naras selesai pada Januari 1911, sedangkan jalur Muarakalaban-Muarasijunjung selesai pada tahun 1924.

Kereta api ini digunakan untuk mengangkut batubara dari Sawahlunto menuju Padang, di Pelabuhan Teluk Bayur untuk dijual ke Eropa menggunakan kapal laut. Selain untuk mengangkut batubara, kereta api juga digunakan untuk jasa penumpang dan barang.

Kereta api sebagai alat trasnportasi umum yang mempunyai peranan penting bagi perkembangan ekonomi di Sumatera Barat. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, kerata api digunakan untuk mengangkut penumpang, barang-barang keperluan masyarakat dan hasil bumi, seperti rempah-rempah dari pedalaman Minangkabau untuk dijual di Padang melalui stasiun Pulo Aie. Setiap harinya stasiun Pulo Aie ramai dikunjungi oleh warga kota. Keadaan ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk mencari rezeki dengan berdagang dan menjadi buruh.

Pada tahun 1960-an stasiun ini selalu ramai dikunjungi oleh calon pemunpang dan aktifitas bongkar barang, sehingga perekonomian masyarakat pada saat itu mengeliat, namun dengan berkembangannya kendaraan bermotor di kota Padang, mengakibatkan keberadaan kereta api mulai tergantikan oleh bus dan truk. Bus dan truk dianggap lebih cepat dibandingkan kereta api ditambah lagi keadaan gerbong yang sudah tua dan dinding-dinding gerdong banyak yang berlubang, sehingga calon penumpang beralih ke kendaraan bus dan truk.

Hal ini mengakibatkan menurunnya aktifitas perekonomian masyarakat disekitar stasiun Pulo Aie, apalagi setelah stasiun Pulo Aie ditutup pada tahun 1983. 

Pedagang yang berdagang di stasiun Pulo Aie, sudah tidak berdagang lagi, dan ada juga yang memilih berdagang ditempat lain. Sedangkan buruh ada sebagian yang masih menjadi buruh ada juga yang pergi mencari pekerjaan lain. Setelah stasiun Pulo Aie ditutup, kawasan ini menjadi sepi, keadaan ini berbanding terbalik dengan keadaan pada tahun-tahun sebelum stasiun Pulo Aie ditutup

Source https://rangkiangbudaya.wordpress.com https://rangkiangbudaya.wordpress.com/2016/02/15/stasiun-kereta-api-pulo-aie/
Comments
Loading...