Stasiun Kereta Api Pangkalan Berandan Sumatera Utara

0 85

Stasiun Kereta Api Pangkalan Berandan

Stasiun ini berada di jalan lintas Medan – Besitang Kelurahan Brandan Timur Kecamatan Babalan Kabupaten Langkat. Stasiun ini ditutup  sekitar tahun 2002, beberapa faktor yang membuat jalur ini di tutup adalah runtuhnya jembatan Kereta api sei bingei akibat banjir besar pada tahun 2002 dan juga batalnya pengoperasian KA semen yang berujung penonaktifan stasiun ini. Secara astronomis terletak pada koordinat N4 01.338 E98 17.418.

Bangunan dari masa kolonial sekitar 1886 ini memiliki arsitektur eropa (artdeco). Pintu masuk memiliki dua daun pintu terbuat dari kayu jati, dan pada bagian atasnya memiliki ventilasi yang dibentuk 1/2 lingkaran, ditutup dengan kaca patri dan memiliki tralis besi. Pada bagian tepian pintu dan ventilasi ini memiliki 3 profil jendela. Bentuk pintu dan ventilasi tersebut diikuti pada bagian jendela yang ada di samping kiri dan kanan pintu masuk. Pada bagian dinding bangunan antara bagian kaki dengan bagian badan dipisahkan dengan lis. Bagian kaki bangunan diberi warna gelap, sedangkan pada bagian badan diberi warna krem. Hanggar tempat penumpang menunggu diberi atap dengan konstruksi baja dan dari plat besi (seng).

Pada bagian depan bangunan ini terdapat ciri khas bangunan eropa dengan pilar pilar bulat seperti bangunan bangunan khas yunani. Pilar pilar ini memberikan aksen yang sangat kuat bagi keindahan bangunan ini. Tiang-tiang ini menopang atap beranda depan. Masing masing penyangga terdiri dari dua tiang bulat dan pada bagian bawah merupakan balok beton.

Plafon teras depan terdiri dari balok balok besar kayu yang menjadi penopang balok balok kecil yang menjadi landasan papan papan kayu sebagai plafon. Hampir 90 persen bagian atap terbuat dari bahan kayu. Bagian depan stasiun ini terdapat beberapa jendela dan pintu. Dinding bangunan ini mempunyai ketebalan 50 cm. Dinding bangunan terbuat dari beton dengan komposisi bahan antara lain semen, pasir, bata, dan kapur. Pada bagian luar diberikan plasteran dari campuran semen, pasir dan kapur. Kondisi dinding bangunan pada umumnya sudah banyak mengalami kerusakan terutama karena faktor alam dan manusia.

Kondisi bangunan pada sisi dalam yaitu di bagian peron stasiun terlihat ada perbedaan. Pada bagian ini bagian tidak terdapat pilar pilar penyangga seperti pada bagian depan. Atap bangunan yang berbentuk pelana bertumpu pada kuda kuda atap yang terbuat dari kayu. Elemen struktural berupa konsol terbuka sebagai penyangga atap terlihat seperti pada gambar.

Pada sisi ini atap lebih memanjang keluar sebagai tempat berteduh atau menunggu kereta api yang akan datang dan pergi. Bangunan stasiun ini mempunyai panjang 45 meter dan lebar 8,5 meter. Dalam bangunan ini terdapat ruangan ruangan yang dibuat menurut fungsinya pada masa lampau. Ada ruangan khusu kepala stasiun, ruangan kantor karyawan, ruangan kantin, ruangan penjualan karcis, gudang penyimpanan, dan ruang kontrol teknis.

Terdapat sebuah ruangan lebar ditengah stasiun. Ruangan ini pada bagian depan terdapat lengkung besar ditengah dan lengkung kecil di samping kiri dan kanannya. Pada masa lampau kemungkinan ruangan ini digunakan sebagai ruang tunggu atau ruang mengantri karcis. Pada bagian atap terbuat dari genteng yang tersusun pada rangkaian reng dan usuk.

Terdapat jendela jendela kaca pada bagian depan dan belakang stsiun. Jendela tersebut berukuran panjang 1,3 dan tinggi 1,5 meter. Jendela jendela ini berfungsi sebagai ventilasi dan loket karcis. Lantai bangunan terbuat dari semen warna hitam. Pada bagian belakang peron menggunakan lantai cor blok.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbaceh/stasiun-kereta-api-pangkalan-berandan/
Comments
Loading...