Stasiun Kereta Api Brumbung Demak

0 18

Stasiun Kereta Api Brumbung

Stasiun Kereta Api Brumbung (BBG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Brumbung, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang yang berada pada ketinggian + 18 m di atas permukaan laut. Stasiun Brumbung terletak di Jalan Genefo Utara, Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat laut Pasar Ganefo, atau timur BRI Unit Mranggen ± 450 m.

Bangunan Stasiun Brumbung ini merupakan salah satu bangunan awal peninggalan masa Hindia Belanda dalam sejarah perkeretaapian. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan adanya pembangunan jalur rel yang pertama kali di Hindia Belanda, yaitu Semarang-Tanggung sepanjang 25 kilometer, pada tahun 1867. Proyek pembangunan jalur rel beserta stasiunnya dikerjakan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dengan ukuran rel 1435 mm (NIS breedspoor).

NIS adalah perusahaan perusahaan kereta api swasta yang didirikan pada 27 Agustus 1863, menjadi perusahaan pertama di wilayah Hindia Belanda. NIS didirikan setelah menerima konsesi dari pemerintah Hindia Belanda untuk pembangunan jalur kereta api pertama. Jalur ini menghubungkan Semarang dan Yogyakarta melalui Kedungjati dan Solo, termasuk jalur cabang dari Kedungjati menuju Ambarawa untuk mendukung kepentingan militer Hindia Belanda.

Jalur yang menghubungkan Semarang hingga Yogyakarta itu merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden. Istilah vorstenlanden ini digunakan orang Belanda dalam sejarah Jawa untuk menyebut daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan empat monarki asli Jawa pecahan dari Dinasti Mataram, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.

Stasiun ini memiliki 7 jalur yang terbagi dalam dua emplasemen. Emplasemen selatan memiliki tiga jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus, yang arah barat laut menuju Stasiun Alastua dan yang arah tenggara menuju Stasiun Kedungjati. Sedangkan, emplasemen utara memiliki 4 jalur dengan jalur 5 dan 6 sebagai sepur lurus. Jalur 5 menuju ke Stasiun Tegowanu, dan jalur 6 menuju Stasiun Alastua.

Dilihat dari letaknya bangunan stasiun ini, bisa dikatakan tergolong unik bila dibandingkan dengan keberadaan stasiun lain pada umumnya. Keunikannya terletak keberadaan bangunan utama dari stasiun ini yang diapit oleh lintasan rel kereta api. Itulah kenapa Stasiun Brumbung dikatakan sebagai stasiun berperon pulau, karena stasiun ini memiliki dua emplasemen yang mengapit bangunan stasiun. Jadi, seolah-olah bangunan stasiun itu membentuk sebuah pulau.

Tipe stasiun seperti ini biasanya terjadi bila stasiun tersebut merupakan stasiun yang mempunyai percabangan. Karena mulai tahun 1922 dari stasiun dibuatkan jalur rel Brumbung-Gubug-Gabringan oleh NIS sepanjang 46 kilometer. Jalur ini merupakan bagian dari jalur Soerabaja-Gambringan-Samarang. Pembuatan jalur rel berukuran 1067 mm (NIS normaalspoorlijnen) rampung pada tahun 1924, dan kemudian dari jalur tersebut diteruskan dengan pembangunan jalur Brumbung-Samarang-Tawang. Jadi, semenjak tahun 1924 itu, dari Stasiun Brumbung terhubung dengan dua jalur utama, yaitu jalur rel Semarang-Vorstenlanden dan Semarang-Surabaya.

Stasiun Brumbung ini merupakan stasiun kelas III/keci namun memiliki bangunan stasiun yang lumayan besar yang berdiri di atas areal lahan yang cukup luas. Hal ini disebabkan karena di stasiun ini menjadi pertemuan dua jalur utama tersebut. Selain itu, stasiun ini masih ramai akan aktivitas stasiun pada umumnya, seperti menaikkan dan menurunkan penumpang maupun bongkar mudat barang. Setiap hari akan disinggahi KA Kedung Sepur (kereta komuter), dan menjadi tempat persilangan bagi sejumlah kereta api jarak jauh seperti KA Matarmaja maupun Brantas.

Source http://kekunaan.blogspot.com http://kekunaan.blogspot.com/2018/05/stasiun-kereta-api-brumbung.html
Comments
Loading...