situsbudaya.id

SMP 1 Kota Solok Sumatera Barat

0 46

SMP 1 Kota Solok

SMP 1 Solok merupakan bangunan tinggalan kolonial Belanda. Bangunan asli yang masih tertinggal adalah ruangan guru dan kepala sekolah. Pada masa Belanda bangunan ini dahulunya dipakai sebagai sekolah HIS (Hollands Inlandse School). Keberadaan HIS ini, tidak terlepas dari perkembangan pendidikan di zaman kolonial Belanda dan diberlakukannya “Politik Etis” di Indonesia. Secara umum politik etis ini juga disebutkan sebagai “balas budi” dari kolonial Belanda kepada daerah jajahan terkait berbagai perlakukan terhadap daerah jajahannya.

Pengaruh politik etis dalam bidang pengajaran dan pendidikan sangat berperan sekali dalam pengembangan dan perluasan dunia pendidikan dan pengajaran di Hindia Belanda. Salah seorang dari kelompok etis yang sangat berjasa dalam bidang ini adalah Mr. J.H. Abendanon (1852–1925) yang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan selama lima tahun (1900–1905). Sejak tahun 1900 inilah berdiri sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah.

HIS (Holland Indische School) ini diperuntukan bagi warga pribumi. Secara umum dasar didirikannya HIS (Holland Indische School) adalah keinginan yang kuat dari rakyat Indonesia sendiri untuk mendapatkan pendidikan ala Barat. Hal itu merupakan akibat dari perubahan kondisi sosial ekonomi di kawasan Timur Jauh yang telah diperkenalkan pada masa Politik Etis yang diberlakukan kepada Indonesia. Selain itu juga diorong oleh organisasi-organisasi yang telah berdiri di Indonesia pada waktu itu, seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Apalagi dengan didirikannya sekolah untuk orang-orang Cina di Indonesia yaitu Hollands Chinese School (HCS).

Kurikulum yang dipakai HIS adalah sesuai yang tercantum dalam Statuta 1914 No. 764, yaitu meliputi semua pelajaran ELS (Europese Lagere School). Di HIS diajarkan membaca dan menulis bahasa daerah dalam aksara Latin dan Melayu dalam tulisan Arab dan Latin. Namun disini, yang lebih ditekankan adalah pelajaran bahasa Belanda yang sampai memakan waktu lebih dari enampuluh enam persen dari waktu belajar.

Diperkirakan bangunan ini didirikan pada awal tahun 1900-an. Bangunan utama yang masih asli merupakan ruangan guru dan kepala sekolah yang terdapat ditengah-tengah bangunan sekolah. Secara umum sampai sekarang bangunan ini masih tetap dipertahankan keasliannya oleh pihak sekolah..

Bangunan SMPN 1 Solok memiliki denah dasar huruf U dengan orientasi menghadap utara. Atap terbuat dari seng dengan kerangka-kerangkanya terbuat dari kayu, atap pada bagian facade berbentuk pelana, sedangkan atap lainnya berbentuk limasan. Tubuh bangunan terbuat dari gabungan kerangka yang terbuat dari kayu dan dindingnya terbuat dari sasak yang diberi plester. Bangunan lama dari sekolah saat ini telah dikelilingi dengan bangunan baru yang memiliki dua lantai. Bangunan lama saat ini terdiri dari delapan buah ruangan.

Ruang-ruang tersebut saat ini dipergunakan sebagai ruang tata usaha, gudang, ruang kesenian, ruang masak, ruang belajar komputer, ruang wakil kepala sekolah, dan ruang UKS. Sisi utara dari bangunan memiliki tiga buah pintu dan empat buah jendela, dan disetiap bukaan tersebut pada bagian atasnya memiliki ventilasi (lubang udara), di sisi barat dan timur masing-masing memiliki enam buah bukaan yang masing-masing terdiri dari dua buah pintu dan empat buah jendela. Bagian lantai saat ini sudah diganti menggunakan lantai keramik. Salah satu komponen bangunan yang telah dirubah adalah bagian lantai yang sudah dikeramik.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/category/info-budaya/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/cagar-budaya-kota-solok/
Comments
Loading...