situsbudaya.id

Situs Tosora Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan

0 121

Lokasi Situs Tosora Kabupaten Wajo

Situs Tosora Kabupaten Wajo terletak di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan.

Situs Tosora Kabupaten Wajo

Untuk mencapai situs tersebut, dapat ditempuh melalui jalan darat, yaitu dari Paria sekitar 32 km dan langsung dari kota Sengkang ibu kota Kabupaten Wajo sekitar 15 km. Dari sejak dahulu sampai sekitar tahun 1980-an, Tosora dapat pula dicapai dengan melalui jalan air yaitu dengan mempergunakan perahu dari Sengkang lewat Sungai Walannae (Cenrana) terus masuk ke danau-danau yang ada di sekitar Tosora yang berhubungan langsung dengan sungai Walannae, dan langsung berlabuh di sisi barat Tosora. Namun jalan air tersebut, sejak tahun 1990-an sudah tidak dapat lagi dilewati karena terusan yang menghubungkan antara danau-danau yang ada di sekitar Tosora dengan Sungai Walannae sudah diputuskan sehingga menyebabkan danau menjadi kering dan dijadikan penduduk sebagai areal persawahan.

Secara topografis Tosora terdiri dari dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian antara 18 – 32 m dpl.Jenis tanah pada umumnya adalah tanah alluvial yang berwarna coklat tua dan coklat muda, merupakan campuran antara tanah liat dengan butiran-butiran pasir halus.Jenis tanah tersebut terbentuk dari endapan Sungai Walannae. Perbukitan Tosora sebagai pusat Kerajaan Wajo, dikelilingi oleh lima danau, yaitu Danau Latalibolong, Danau Lababa, Danau Seppengnge, Danau Latanparu, dan Danau JampuE. Kelima danau tersebut letaknya berada di sebelah barat, selatan, dan timur situs Kota Tosora, sedangkan pada arah utara terdapat perbukitan yang menghubungkannya dengan Cinottabi.

Di sekitar Tosora juga mengalir beberapa sungai kecil yang merupakan anak Sungai Walannae yang sebagian bermuara ke danau. Secara geologis diketahui bahwa danau-danau yang ada di sekitar Tosora, merupakan sisa dari aliran Sungai Walannae yang bergeser ke arah barat, bahkan dari data sejarah dapat diketahui bahwa aliran sungai sekarang yang jaraknya sekitar 2 km dari Tosora, merupakan perpindahan sungai yang disengaja oleh masyarakat Kerajaan Wajo, yaitu pada tahun 1740 Belanda menyerang Wajo lewat sungai, maka rakyat dikerahkan untuk menimbun aliran Sungai Walannae agar Belanda tidak dapat menyerang secara langsung pusat Kerajaan Wajo di Tosora. Akibat dari penimbunan tersebut, maka aliran Sungai Walannae berpindah ke arah barat (Patunru, 1983).

Temuan arkeologis sebagai bukti kehadiran dan kedudukan Tosora dalam pentas Sejarah Kerajaan Wajo, dapat disaksikan dengan terdapatnya peninggalan budaya berupa puing-puing dan reruntuhan sisa bangunan, seperti mesjid tua, musallah, geddong, gedung bunga, benteng, bekas pelabuhan, makam-makam kuno, dan peninggalan berupa sisa-sisa peralatan perang seperti meriam, peralatan untuk kehidupan sehari-hari seperti berbagai jenis dan bentuk keramik. Peninggalan-peninggalan tersebut banyak yang sudah mengalami kehancuran dan bahkan punah akibat faktor alam maupun manusia.Bentuk dan fungsi peninggalan arkeologis tersebut, secara ringkas dapat dibaca dalam uraian selanjutnya.

Source http://www.arkeologi-sulawesi.com//index.php http://www.arkeologi-sulawesi.com//berita-138/situs-tosora-kabupaten-wajo.html
Comments
Loading...