Situs Tonroa Sulawesi Selatan

0 39

Lokasi Situs Tonroa

Situs Tonroa terletak di dusun Tonroa, desa Camba-Camba, Kecamatan Batang, Sulawesi Selatan.

Situs Tonroa

Situs ini berada di atas sebuah perbukitan yang memiliki punggung yang relatif datar yang dimanfaatkan penduduk sebagai lahan pemukiman, perkebunan, dan terutama persawahan. Sebagian besar lahan persawahan menurut informasi penduduk memiliki potensi bahan alat batu berupa gamping, kalsedon, chert, andesit yang bisa kelihatan di musim kemarau ketika sawah tidak olah.

Situs di Tonroa tidak memperlihatkan lapisan tufa yang menunjukkan kurangnya pengaruh letusan gunung api purba pada kawasan ini. Tetapi bolder-bolder batunya yang in-situ memperlihatkan kuatnya distribusi batuan andesit dan basalt sebagaimana tampak pada areal situs yang disurvei. Batuan kalsedon dalam bentuk kerakal dan kerikil lebih banyak ditemukan pada pematang sawah yang sangat luas. Oleh karena semua sawah sedang diolah, pilihan survei hanya dilakukan di sebuah kebun jagung sebagai sampel.

Bagian kawasan situs yang disurvei hanya seluas kurang lebih 1 ha di atas Bukit Parangtinambung. Situs tersebut merupakan lahan perkebunan jagung milik Karaeng Cacceng Daeng Jarre. Kebun ini di sebelah utara berbatasan dengan jalan poros Jeneponto – Bantaeng dengan tepaian kebun tepat pada tebing terjal tidak jauh dari sungai Camba-Camba yang mengalir dari timurlaut lalu membelok ke selatan pada ujung bukit situs. Sebelah selatan situs yang disurvei berbatasan dengan jalan kampung berasapal dan hamparan sawah sangat luas. Sebelah timur merupakan lahan tidur dengan bolder-bolder batu andesit dan basalt, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan sungai Camba-Camba.

Sebagai pilihan aktivitas hidup manusia, situs ini sangat potensial. Lahan subur dengan humus tebal berhara tinggi di sebelah selatan dan lembah di utara beserta sungai yang memudahkan memantau hewan buruan dari bibir bukit memberi dukungan tinggi bagi manusia prasejarah. Kondisi lingkungan makro yang baik untuk kehidupan manusia prasejarah didukung pula oleh morfologi perbukitan yang seolah-olah membentuk lingkaran benteng alam, sehingga melingkungi lembah utara situs tempat berbagai binatang buruan. Di perbukitan utara juga tumbuh pula berbagai flora hutan yang banyak memenuhi kebutuhan manusia. Di lahan situs yang disurvei sendiri tumbuh vegetasi “Kaju Tanmate”, nangka, jambu, mangga, dan kelapa.

 Dalam survei yang dilakukan secara random (acak), ditemukan banyak bahan alat batu, terutama dari jenis chert dan basalt yang penduduk namakan batu macca’. Dari situs ini kebanyakan artefak yang ditemukan masih dalam bentuk kurang sempurna, kemungkinan karena tingkat teknologi atau keterampilan manusia pendukung yang masih rendah atau mungkin mereka terus mencoba semua bahan sampai menemukan yang terbaik untuk dibawa dan dipakai, sedangkan alat yang kurang baiklah yang ditinggalkan di situs. Selain itu, banyak temuan lainnya hanya berupa tatal, sementara artefak yang memperlihatkan bentuk mendekati sempurna hanya beberapa saja berupa flakes.

Selain alat batu juga ditemukan alat pemukul (hammer) dari batuan chert yang kedua sisi dan dasar pukul dipangkas. Dari survei ini, walaupun jumlah bahan, tatal dan alat batunya tidak sebanyak di situs-situs bagian barat Jeneponto, tetapi untuk sementara dapat dikatakan  bahwa situs tersebut merupakan perbengkelan sekaligus sebagai hunian manusia masa lalu. Untuk lebih pastinya, maka  survei diperluas lagi ke arah selatan, tepatnya kelurahan Togo-Togo, Kecamatan Batang.

Source http://www.arkeologi-sulawesi.com//index.php http://www.arkeologi-sulawesi.com//berita-54/situs-tonroa-cambacamba-jeneponto-.html
Comments
Loading...