Situs Togo-Togo Sulawesi Selatan

0 78

Lokasi Situs Togo-Togo

Situs Togo-Togo terletak di dalam wilayah Lingkungan Bulorapa’, Kelurahan Togo-Togo, Kecamatan Batang abupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Situs Togo-Togo

Kawasan Togo-Togo merupakan bentang morfologi perbukitan gelombang lemah diselingi lembah yang landai. Lembah antara dua perbukitan sekitar situs dijadikan lahan persawahan penduduk yang masih sangat tergantung pada hujan. Sementara perbukitan rendah di kawasan ini pada umumnya dijadikan sebagai lahan perkebunan jagung. Pada kawasan situs ini potensi air sangat ditunjang oleh sungai yang mengalir melintang memotong lembah di kaki perbukitan sebelah barat situs. Di kaki bukit sebelah selatan juga terdapat aliran sungai yang melintang utara – selatan dan bermuara di Laut Flores.

Dengan lahan yang cukup subur, kawasan Togo-Togo tumbuh berbagai vegetasi, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tanaman jangka pendek berupa jagung, kacang dan sayuran. Sementara tanaman jangka panjang berupa kelapa, lontar, nangka, jambu, jeruk, mangga, jati, dan lain-lain. Tanaman jangka panjang banyak berasosiasi dengan pemukiman penduduk, sebagai tanaman halaman sekaligus berfungsi sebagai pembatas lahan kepemilikan.

Zona situs yang disurvei berada pada kaki perbukitan rendah di sebelah timur pada bagian sebelah dalam yang bersentuhan dengan lembah luas. Pengamatan yang dilakukan memperlihatkan adanya potensi bahan alat batu di kawasan perkebunan jagung, berupa kerakal batu andesit, basalt dan kerikil batuan kalsedon. Batuan-batuan tersebut dijadikan batas saluran air di dalam kebun. Sayang sekali karena pemilik lahan tidak memberi izin pengamatan artefak, di zona kebun jagung tidak dapat disurvei secara memadai.

 Di situs Togo-Togo artefak batu hanya ditemukan di pekarangan rumah penduduk pada lahan yang cukup datar. Artefak batu yang ditemukan dinamakan penduduk batu macca’ atau batu cina (istilah lokal yang berbeda dengan kawasan Jeneponto Barat, meliputi kecamatan Bangkala, Bangkala Barat dan Tamalatea). Artefak batu yang ditemukan sama dengan di situs Camba-Camba tidak memperlihatkan bentuk yang baik dan jumlah yang sedikit. Dalam pengamatan belum ditemukan suatu konsentrasi temuan artefak batu yang padat, sebagaimana di Jeneponto Barat. Jenis batuan yang dimanfaatkan untuk alat batu berupa gamping. Sejauh pengamatan penelitian, batuan gamping kersikan (chert) sangat jarang dipakai, meskipun sumberdaya bahan tersedia di kawasan situs ini.

Problem kontekstual ini akan menjadi isu menarik dibahas dalam sintesa data hasil penelitian. Gambaran temuan alat batu yang ditemukan tentu akan memperlihatkan hubungan antara kondisi lingkungan alam, teknologi dan kebutuhan manusia pendukungnya.

Source http://www.arkeologi-sulawesi.com//index.php http://www.arkeologi-sulawesi.com//berita-53/situs-togotogo.html
Comments
Loading...