Situs Tippulu Kulo Sulawesi Selatan

0 75

Lokasi Situs Tippulu Kulo

Situs Tippulu Kulo terletak di Tippulu Kecamatan Kulo, Sulawesi Selatan.

Situs Tippulu Kulo

Keramik yang menunjukkan kronologis tua dan beberapa temuan melalui naskah-naskah kuna ditemukan di Kulo. Naskah kuna yang ditemukan berbahasa bugis dengan aksara bugis lontara yang mengungkapkan di dalamnya beberapa silsilah yang mengungkapkan  mula keberadaan manusia bermukim di Sidenreng, dan ada juga naskah di dalamnya mengungkapkan tentang keberadaan Tomanurung di Tanete Barru.

Naskah yang menyebutkan nama-nama Raja Sidenreng yang pertama sampai ke-21. Adalah sebagai berikut :

  1. We Bolong Pattina.
  2. La Malliboreng
  3. La Pawowoi
  4. La Makkara
  5. We Tipulinge
  6. We Pawawoi
  7. La Batara
  8. La Pasampoi
  9. La Pateddungi
  10. La Patiroi
  11. La Makkaraka
  12. La So’ni 1665 M
  13. La Tenri Sempe
  14. La Mallewai
  15. La Makkarawu
  16. Towappo 1675-1755 M
  17. La Pawawoi 1755-1830 M
  18. La Pangoriseng 1830-1882 M
  19. Sumange Rukka 1882-1905 M
  20. La Sadapotto 1905-1909 M
  21. La Cibu 1909-1949 M.

 Data keramik yang dikumpulkan dalam penelitian ini dilakukan secara selektif, yaitu yang dianggap mewakili fungsi dan bentuk. Secara keseluruhan keramik yang dikumpulkan adalah berasal dari Cina, Thailand, Vietnam, Eropa dan Jepang. Kepadatan keramik dijumpai pada situs Bocco Rijang. Menunjukkan pertanggalan antara abad XIII-XX M. Dari analisis, yang dilakukan fragmen keramik tersebut mewakili bentuk dan fungsi sebagai mangkuk, piring, guci, tempayan,dan cepuk (lihat tabel dan foto temuan keramik).

Umumnya keramik asing tersebut digunakan sebagai wadah kubur dari hasil penggalian penduduk, kini sebagian masih tersimpan di rumah penduduk  di wilayah  Sereang dan daerah situs lainnya. Isi wadah ini berupa abu jenazah, tulang-tulang manusia dan berasosiasi dengan manik-manik dan uang perunggu.

Keramik asing berupa piring lebar yang difungsikan sebagai wadah ari-ari  oleh keturunan bangsawan di Tippulue Kecamatan Kulo kini masih digunakan ketika keluarganya yang  melahirkan. Oleh keluarga Pak Andi Badararuddin menjelaskan bahwa wadah ari-ari  ini digunakan secara turun temurun oleh keluarga beliau.

Gerabah merupakan peralatan yang banyak digunakan dalam kegiatan sehari-hari, dan merupakan hasil budaya manusia yang dibuat secara tradisional. Tanah liat merupakan bahan baku utama dalam industri gerabah. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, maka gerabah dibakar mencapai temperature tertentu untuk dianggap matang.

Berdasarkan hasil penelitian dari Balai Arkeologi Makassar  bahwa  fragmen gerabah ditemukan di semua situs pemukiman kuna di Sidenreng Rappang, yang ditemukan umumnya polos dan ada diantaranya memiliki variasi garis-garis dan bunga-bunga.. Berdasarkan bentuknya, fragmen gerabah dapat merefleksikan kegiatan rumah tangga sehari-hari, seperti memasak, makan, mengangkat air, meramu dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut tampak pada bentuk-bentuk periuk, tempayan, dan mangkuk.

Keseluruhan fragmen gerabah yang dapat dikumpulkan adalah sebanyak 151 buah dan menyebar pada beberapa situs disepanjang DAD (daerah aliran danau) dari pengamatan yang dilakukan menunjukkan kepadatan temuan gerabah terdapat di situs pemukiman tua di Sidenreng Rappang, secara kuantitas fragmen gerabah yang terterah pada tabel temuan tidak banyak. Hal ini disebabkan karena pemetikan sampel yang dilakukan pada semua situs adalah selektif dalam pengertian fragmen gerabah yang diambil hanya memiliki atribut kuat seperti hiasan, tepian, dasar, karinasi, dan telinga (pegangan) untuk mengetahui fungsi dan bentuknya.

Source http://www.arkeologi-sulawesi.com//index.php http://www.arkeologi-sulawesi.com//berita-188/situs-tippulu-kulo.html
Comments
Loading...