Situs Tampinna Luwu Timur Sulawesi Selatan

0 93

Lokasi Situs Tampinna

Situs Tampinna terletak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Situs Tampinna

Menurut tradisi lisan Luwu “Tampinna” telah menjadikan dirinya sebagai tempat aktivitas ekonomi dengan menjadi pusat ikat kayu untuk keris (sarung atau warangka) yang diproduksi di tempat lain di Luwu (Caldwell; Sumantri, 2007). Akses ke situs ini adalah dari Kampung Turunan Bajo (pelabuhan orang Bajau) yang penghuninya masih mengakui dirinya sebagai keturunan bajo, walaupun dirinya menggunanakan bahsa Bugis ketimbang bahasa Bajau. Situs ini terletak di sepanjang perbatasan utara kanal dimana kanal Tampinna, Lakawali dan Langkasa bertemu, sebelum bersatu menuju ke laut sebagai satu sungai besar. Kawasan ini dilingkungi benteng tanah dan diapit dua kanal yang disebut sebagai Benteng Tampinna, meskipun dinding tanah benteng ini sudah tidak teramati lagi.

Posisi secara astronomi situs Tampinna adalah 2°37’.41” Lintang Selatan atau 120° 58’.31” Bujur Timur meruapakan sebuah hutan dengan vegetasi yang memperlihatkan bekas budidaya manusia di masa lalu. Sekeliling situs adalah tambak sehingga banyak tersingkap midden. Berdasarkan informasi penduduk setempat bahwa ketika mereka menggali tambak terkadang menemukan keramik tua dan tulang-tulang manusia serta serpihan maupun benda-benda perunggu dan besi. Selain itu, penduduk juga sering menemukan peti mati (duru=bahasa setempat) bersama-sama keramik, artefak besi (pedang, parang, pisau, mata tombak), gelang perunggu dan manik-manik. Sebagian dari temuan penduduk tersebut masih tersimpan, sehingga tim peneliti dapat memotret dan mengindentifikasi benda-benda tersebut.

Survei yang dilakukan tim Balar Makassar tahun 2008 pada beberapa tempat di situs Tampinna berhasil mengumpulkan sejumlah pecahan keramik Cina dari abad ke-16 M terutama pada pematang-pematang tambak di sebelah barat bekas kotak gali tim OXIS tahun 1999. Selain itu, tim juga memperluas kisaran survei ke arah kompleks penguburan Islam dan hanya menemukan pecahan keramik Cina (Ming) abad 16 M. Tampaknya wadah keramik yang berisi abu dan tulang manusi atau kremasi maupun wadah penguburan dengan peti kayu (temuan penduduk) tidak mempunyai hubungan dengan pekuburan Islam tersebut, tetapi lebih dengan tradisi penguburan suku Bajau sesudah abad ke-14 M.

Source http://www.arkeologi-sulawesi.com//index.php http://www.arkeologi-sulawesi.com//berita-60/situs-tampinna-luwu-timur.html
Comments
Loading...