Situs Patirthan Sumber Jeding Malang

0 107

Situs Patirthan Sumber Jeding

Situs Sumber Jeding terletak di Dusun Jeding, Desa Junrejo, Kota Batu. Di Desa Junrejo sendiri terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Rejoso, Dusun Jeding dan Dusun Junwatu. Lokasi Sumber Jeding berada di tengah permukiman padat penduduk, berdekatan dengan Polres Batu dan gedung DPRD Kota Batu. Sumber mata air ini berada di antara dua pohon beringin besar yang tumbuh di belakang kanan kiri kolam patirthan. Saat ini sumber ini telah dinyatakan sebagai salah satu situs sejarah yang dilindungi oleh Dinas Pariwisata Kota Batu. Menurut Arkeolog Dinas Pariwisata Kota Batu, situs Sumber Jeding ini dahulu adalah kolam peninggalan dari Kerajaan Singhasari.

Sumber Jeding merupakan sumber air alami yang dibentuk menjadi kolam dengan denah bujur sangkar berukuran 7,8 X 7,8 M. Dinding kolam diperkuat dengan susunan batu bata besar dan beberapa balok batu. Di bagian tengah patirthan terdapat dua kolam, satu kolam di dalam dan satu kolam lainnya di luar. Patirthan menghadap ke utara, terlihat dari deretan anak tangga yang berada di sisi utara.

Kekunaannya terlihat dari adanya dinding bata kuna di sekitar sumber air, akan tetapi tampak banyak penambahan yang dilakukan oleh warga dusun setempat. Pada bagian atas dinding bata kuna sudah ada penambahan berupa dinding semen dan di tengah sumber terdapat panggung dari beton yang digunakan sebagai tempat melakukan ritual religi masyarakat sekitar. Bangunan baru itu dibangun tepat di atas patirthan. Di sisi selatan terdapat tatanan dinding patirthan yang masih asli. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar patirthan, Sumber Jeding merupakan puncak dari punden berundak yang ada di bawah patirthan namun telah tertutup tanah.

Sumber Jeding sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk keperluan sehari-hari, seperti untuk mandi, mencuci, dan sumber air empang yang terletak di lahan rendah di sisi utaranya. Letak sumber yang diapit oleh dua pohon beringin besar dan rerimbunan pohon bambu di jalan menuju sumber membuat Sumber Jeding masih dianggap sakral oleh masyarakat. Walaupun ada penambahan bangunan di patirthan, keadaan sumber masih dapat dinyatakan terawat dan airnya pun masih mengalir keluar dan jernih.

Setiap tahun, pengunjung di Sumber Air Jeding ini selalu bertambah karena tidak hanya warga setempat yang mandi, banyak juga warga dari luar desa yang ikut mandi di tempat ini. Sebelum shalat Idul Fitri, warga selalu datang ke sini untuk mensucikan diri. Tepat dini hari menjelang pelaksanaan Shalat Idul Fitri, sambil membawa penerangan obor yang terbuat dari bambu (oncor) warga mulai berjalan kaki menuju Sumber air Jeding. Pada pagi itu mereka melaksanakan tradisi Padusan yaitu mensucikan diri dengan mandi besar. Ada keyakinan di kalangan masyarakat, mandi besar ini tidak hanya mensucikan mereka saat Idul Fitri, tapi juga bisa membuat mereka awet muda dan memperlancar rejeki.

Saat ini Sumber Air Jeding dijaga oleh seorang juru kunci bernama Wasimin. Sebelum mandi, para warga membaca doa berbahasa Jawa dengan dituntun oleh juru kunci Sumber Air Jeding. Lalu secara bergantian warga mandi di Sumber Jeding tersebut. Doa sebelum mandi besar itu adalah sebagai berikut, “Bismillah niat ingsun adus dino riyoyo, ancek-ancekku watu gumilang, aling-alingku godhong sentino, srut pekutut kangene owah sogih ungkuhi banyu, badanku nyekseni banyu, raup sepisan tanggal sepisan, raup ping pindo tanggal ping pindo, raup ping telu tanggal telu, raup ping papat tanggal ping patbelas, kadimas kadisongko, ing ringin anom badan gawe ngapur.”

Kadang ada juga warga saat mandi mencampurkan air sumber ini dengan kembang lima warna. Bahkan konon bau wanginya sampai berhari-hari tidak hilang. Ada anggapan dari warga bila sudah mandi besar di sumber ini, mereka merasa lebih sreg untuk melaksanakan Shalat Id. Kebiasaan padusan di Sumber Jeding ini memang sudah dilakukan secara turun temurun.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/4623/situs-patirthan-sumber-jeding/
Comments
Loading...