Situs Patande dan Salabu Sulawesi Selatan

0 108

Lokasi Situs Patande dan Salabu

Situs Patande dan Salabu terletak di Desa Wewangriu, Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Situs Patande dan Salabu

Dalam naskah I La Galigo kedua situs ini merupakan toponim penting dalam wilayah kekuasaan kerajaan Luwu masa lalu yang disebut “wewangriu”. Pada masa lalu nama Wewangriu adalah bentukan baru untuk sebuah desa yang terdapat di sebelah timur pelabuhan sungai Malili. Kedua situs ini terletak di tepi bagian selatan Sungai Larona yang membujur dari timur ke barat hingga pesisir pantai dan sekarang merupakan pemukiman padat penduduk .

Sesuai informasi penduduk setempat pada beberapa waktu yang lalu bahwa seringkali mereka menemukan sejumlah besar wadah keramik, tembikar, gelang perunggu dalam penggalian barang antik tahun 1980-an serta berdasarkan hasil ekskavasi yang telah dilakukan oleh OXIS PROJECT tahun 1999, maka survei yang telah dilakukan di kedua situs ini berupa pengamatan lingkungan dan kolekting artefak berupa fragmen keramik dan tembikar yang berada di antara pemukiman penduduk, guna melengkapi data sebelumnya. Secara sporadis pada beberapa lokasi ditemukan adanya deposit midden kerang laut, selain itu, pada permukaan juga banyak dijumpai kerikil batu besi yang diduga sebagai limbah buangan dari PT. INCO atau memang krikil alamih yang merupakan pecahan bongkah-bongkah batu besi yang banyak terdapat pada bukit dan gunung di sekitar kota Malili.

Adapun artefak yang ditemukan berupa pecahan keramik dan tembikar, khusus temuan pecahan tembikar yang sebagian memiliki dekorasi dan sebagian juga ada yang polos. Sesuai dengan atribut berupa kulitas dan teknologinya diperkiran jenis tembikar yang ditemukan ini berasal dari masa pra-Islam, sedang fragmen keramik yang dikumpulkan berasal dari Dinasti Ming, Cing, Thailand dan Eropa yang diperkiran berumur antara abad 15-19 M. Secara fungsional pecahan-pecahan keramik yang ditemukan umumnya dari pecahan wadah mangkuk, piring dan tempayan. Walaupun toponim kedua situs ini tidak dilansir dalam legenda tokoh epik La Galigo, namun penemuan pecahan keramik dan tembikar memberi indikasi perangnya sebagai pelabuhan dagang yang memungkinkan kontak dengan Bandar-bandar yang letaknya sangat jauh.

Jika melihat kondisi dari morfologi bentang alamnya, tampak pelabuhan sungai Malili tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Pengaruh transpormasi alam, misalnya perubahan  aliran sungai juga tidak tampak, mengingat sungai Malili dibentuk secara alami oleh cekungan perbukitan yang curam dan sangat tidak memungkinkan berubah arah karena meander bentukan baru. Oleh karena itu, situs-situs yang ada ditepi Sungai Larona ini sebagai pelabuhan dan memainkan peran melayani kapal-kapal niaga terus-menerus sejak abad XV M sampai sekarang. Sekarangpun Sungai Larona masih menjadi pelabuhan nelayan dan pelabuhan ekspor-inpor barang.

Source http://www.arkeologi-sulawesi.com//index.php http://www.arkeologi-sulawesi.com//berita-58/situs-patande-dan-salabu.html
Comments
Loading...