Situs Pasir Lulumpang Garut

0 106

Lokasi Situs Pasir Lulumpang

Situs Pasir Lulumpang terletak di Kampung Cimareme, Desa Cimareme, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Situs Pasir Lulumpang

Berita kepurbakalaan situs Pasir Lulumpang baru muncul pada Bulan November 1993, berdasarkan laporan Kandepdikbud Kabupeten Garut tentang adanya dua objek arkeologis di Desa Cimareme, Kecamatan Banyuresmi, yang sebelumnya objek ini belum pernah tercatat oleh hasil N.J. Krom di dalam Rapporten van den Oudheidkundigen Diens in Nederlandsch Indie (ROD tahun 1914). Kemudian peninjauan dilakukan ke situs ini oleh Tim dari Balai Arkeologi Bandung pada Bulan Juni 1994 dan Februari 1995.

Pasir Lulumpang memiliki batas alam di sebelah timur adalah sungai yang berair hanya di musim hujan, sebelah barat mengalir sungai Cijangkameong dan Cimuara yang kedua sungai airnya mengalir ke Sungai Cimanuk yang terletak di sebelah utara situs, di Baratlaut situs terdapat Gunung Haruman dan Kaledong serta bekas rawa Rancagabus yang sebagian masih berair, serta Gunung Haruman m,erupakan puncak tertinggi di kawasan itu.

Pasir Lulumpang terletak dengan arah utara-selatan dan kemiringan sekitar 45° di tepi sebelah timur laut rawa Ranca Gabus. Rawa Ranca Gabus membentang di antara beberapa bukit atau pasir yaitu Pasir Lulumpang, Pasir Kiara Payung, Pasir Tengah, Pasir Kolocer, Pasir Astaria, Pasir Luhur, Pasir Gantung, Pasir Tanjung, Pasir Malaka. Di sebelah utaranya mengalir Sungai Ciledug yang mengandung banyak bebatuan. Situs Pasir Lulumpang temuannya berupa dua buah punden berundak. Punden I terletak pada sisi barat bukit yang menempati lahan seluas 73 x 38 x 42 m, dengan orientasi punden ke arah timur-barat. Punden I terdiri dari 13 undakan/teras dari bahan batu andesit.

Situs Pasir Lulumpang merupakan peninggalan dari tradisi megalitik berupa punden berundak yang dilengkapi lumpang-lumpang batu, hal ini merupakan satu model bangunan punden yang sebelumnya belum pernah dijumpai. Lumpang-lumpang batu itu seakan-akan menjadi pengganti menhir yang sering dijumpai melengkapi bangunan-bangunan punden berundak seperti punden berundak Lebak Cibedug, Pangguyangan (Cisolok). Lumpang-lumpang batu yang melengkapi punden berundak di Situs Pasir Lulumpang kiranya merupakan artefak-artefak simbolik dalam konteks yang berkaitan denagn sistem religi megalitik. Lumpang-lumpang batu di situs punden berundak Pasir Lulumpang diperkirakan memiliki fungsi dalam kaitan pemujaan yang diselenggarakan oleh komunitas-komunitas pendukungnya.

Tujuan pemujaan dengan menggunakan lumpang batu atau batu dakon sebagai media upacara diperkirakan berhubungan dengan upacara-upacara kesuburan/pertanian untuk keberhasilan panan nantinya atau sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhahasilan panen yang dicapai. Upacara-upacara semacam ini masih biasa diselenggarakan oleh komunitas-komunitas petani tradisional di daerah Jawa Barat, yang lazim disebut upacara Hajat Bumi; ngalaksa; serentaun seperti yang masih dilakukan secara adat oleh komunitas Badui, Cikondang, Subang, Sukabumi.

Situs Pasir Lulumpang dapat dikembangkan sebagi objek wisata budaya karena temuan dari masa budaya megalitik cukup bervariasi jenisnya ada punden berundak, lumpang batu, menhir, fitur akan merupakan daya tarik bagi pelajar atau mahasiswa yang berminat di bidang sejarah dan purbakala. Dengan tersedianya sarana trasportasi berupa kendaraan angkutan kota dan ojeg akan lebih memudahkan wisatawan sampai ke sini.

Source http://www.disparbud.jabarprov.go.id/ http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=108&lang=id
Comments
Loading...