Situs Napo Sulawesi Barat

0 60

Lokasi Situs Napo

Situs Napo terletak di daerah bekas Kerajaan Balanipa, Sulawesi Barat.

Situs Napo

Dalam konteks situs Napo sebagai bekas awal Kerajaan Balanipa di Mandar terdapat beberapa variabilitas temuan dalam radius 17.600 m2 yang kini sebagian besar telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan perkebunan. Satu-satunya lokasi dalam radius Napo yang tidak digunakan sebagai lahan perkebunan adalah makam Todilaling yang telah diberi pagar di sekelilingnya. Gelar Todilaling bagi raja pertama Balanipa itu diberi oleh masyarakat setelah meninggal. Pada masa hidupnya bernama I Manyambungi.

Situs Napo dikelilingi oleh buttu (gunung) dan lembah yang erat kaitannya dengan sejarah berdirinya kerajaan Balanipa seperti Tammejarra dan bekas pelabuhan Gadde terletak di sebelah selatan, sebelah timur laut (60o) terletakgunung Mosso dan situs Todang-Todang  di sebelah utara (20o), dan barat laut terletak situs Samasundu, sebelah barat lembah/perkampungan Napo. Keseluruhan situs itu (Tammejarra, Mosso, Todang-Todang, Samasundu) merupakan appe banua kayyang (empat kampung besar) yang merupakan daerah pappuangan(persekutuan) kerajaan Balanipa.

Di puncak bukit Napo terdapat 2 batu yang ditancapkan sebagai tanda penguburan. Namun tidak ada yang mengetahui secara pasti identitas orang yang dimakamkan di tempat itu. Namun yang jelas bahwa batu yang ditancapkan itu masih disakralkan hingga sekarang dan seringnya para pezirah mengunjunginya, bahkan sebagian besar dari pengunjung bernazar di tempat itu yang dibuktikan dengan adanya ikatan-ikatan kain pada nisan dan juga pada pohon besar yang terletak di sampingnya. Di tengah-tengah bukit terdapat pohon beringin yang besar dan di dalamnya terdapat makam dengan nisan pipih berada di antara batang pohon tersebut.

Makam yang terdapat di antara batang pohon beringin itu adalah makam I Manyambungi yang merupakan raja Balanipa I bergelar Todilaling. Nisan makam sulit diukur karena terjepit oleh pohon yang berakar besar. Dua makam di antaranya termasuk nisan baru yang belakangan ini masyarakat memberi tanda berupa kain putih sebagai proses perilaku masyarakat yang menziarahinya. Keseluruhan makam yang terdapat di puncak bukit masih sering mendapat perlakukan istimewa dari masyarakat yang mengunjunginya.

Source http://www.arkeologi-sulawesi.com//index.php http://www.arkeologi-sulawesi.com//berita-62/situs-napo.html
Comments
Loading...