Situs Lembu Peteng di Desa Karangkates

0 69

Situs Lembu Peteng di Desa Karangkates

Situs Lembu Peteng terletak di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Tak banyak masyarakat sekitar yang mengetahui asal-usul situs purbakala tersebut, sehingga keberadaannya masih menjadi sesuatu yang misterius bagi mareka.

Kawasan Lembu Peteng di Desa Karangkates itu berupa hamparan lahan pertanian yang cukup luas. Di antara hamparan lahan pertanian itu terdapat satu lokasi yang disakralkan masyarakat setempat. Mereka menyebutnya brak atau bangunan joglo yang lebih dikenal dengan sebutan situs Lembu Peteng. Pada situs tersebut terdapat benda purbakala berupa lumpang batu, pohon beringin, dan sumber Pacet yang sayangnya kini sudah terendam Bendungan Lahor.

Warga sekitar kerap mengadakan kegiatan Sadranan dan kelompok tani di situs Lembu Peteng tersebut. Mereka mengadakannya sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas rezeki yang bisa dinikmati pasca-panen. Salah satu cara yang mereka lakukan dengan menggelar barikan dan tandakan, yang juga dihadiri para pejabat pemerintahan hingga rakyat biasa.

Nama Lembu Peteng ini diyakini warga setempat berasal dari kata Lumbu Peteng. Nama itu dipilih karena berawal dari adanya tanaman Lumbu yang banyak tumbuh di bawah pohon beringin yang sangat rindang dan gelap (atau dalam Bahasa Jawa disebut peteng). Lama kelamaan, sebutan Lumbu Peteng itu bergeser menjadi Lembu Peteng.

Ada pula yang menyebutkan asal-usul nama Lembu Peteng berasal dari seekor lembu (kerbau) yang nyasar ke area bawah pohon beringin yang terkenal gelap (dalam Bahasa Jawa: peteng). Lembu milik warga yang lepas itu tiba-tiba saja menghilang di bawah pohon dan tidak pernah kembali. Daerah itu pun dinamakan Lembu Peteng.

Jika melihat Kitab Negarakertagama, kawasan situs Lembu Peteng diyakini sebagai kawasan yang ditinggali seorang pejabat pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit. Banyak hal yang menguatkan dugaan tersebut, mulai dari keberadaan pohon beringin, lumpang batu, dan brak. Lumpang batu dikenal sebagai tempat untuk pengolahan hasil bumi (padi/jagung). Pohon beringin dipercaya sebagai simbol kebesaran yang ada di rumah pejabat kerajaan. Brak merupakan tempat kegiatan (barikan/tandakan). Sementara hampara persawahan sendiri merupakan wujud dari kesejahteraan yang diberikan para pembesar kerajaan.

Pada Kitab Negarakertagama pupuh 88 bagian ke 2 dan 3 disebutkan, “Berkatalah Sri nata Wengker di hadapan para pembesar dan wadana: ‘Wahai, tunjukkan cinta serta setya baktimu kepada baginda raja, cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu, jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina. Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah,”. Sedangkan dalam Kitab Negarakertagama pupuh 91 bagian 1 disebutkan, “Pembesar daerah ingin membadut dengan para lurah, Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan, Solah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan,”.

Nama Lembu Peteng juga disebutkan dalam Kitab Pararaton. Menurut kitab tersebut, Lembu Peteng adalah salah seorang anak dari Arya Wiraraja, Adipati Sumenep yang banyak jasanya dalam awal pendirian Kerajaan Majapahit. Bersama Gajahmada, ia turut berjuang menumpas pemberontakan di berbagai wilayah Kerajaan Majapahit. Atas jasa-jasanya, itu ia pun diangkat menjadi Tumenggung.

Dalam Kitab Pararaton bagian 5 disebutkan, “(anak Wiraraja yang bernama Nambi, Peteng (yang dimaksud adalah Lembu Peteng) dan Wirot (yang dimaksud adalah Wirot Made), semua prajurit baik, melawan tentara Daha di bagian utara itu, dikejar diburu oleh Raden Wijaya,”. Sedangkan dalam Kitab Pararaton bagian 9 disebutkan, “Setelah Kembar kembali dari Sadeng, lalu menjadi bekel araman, Gajah Mada menjadi Angabehi, Jaran Baya, Jalu, Demang Bucang, Gagak Nunge, Jenar dan Arya Rahu mendapat pangkat, Lembu Peteng menjadi Tumenggung,”.

Jika benar sosok Lembu Peteng (yang merupakan seorang Tumenggung) pernah tinggal di kawasan situs Lembu Peteng, maka kuat dugaan kawasan tersebut merupakan bekas Katemenggungan. Bukti keberadaan hamparan persawahan, pohon beringin, sumber Pacet (yang sayangnya kini sudah menghilang), lumpang batu, dan tradisi barikan dan tandakan yang masih digelar di brak, makin menguatkan dugaan tersebut.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2019/06/17/menguak-asal-usul-situs-lembu-peteng-desa-karangkates/
Comments
Loading...