Situs Kompleks Makam Makam Saidil Mukammal

0 56

Situs Kompleks Makam Makam Saidil Mukammal

Situs Kompleks Makam Makam Saidil Mukammal  berada di Gampong (Desa) Merduati, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Secara astronomis, situs ini berada di koordinat 5°33’18.5″N 95°18’51.3″E dengan luas areal ± 736 m2. Batas-batas situs, antara lain: sebelah Utara berbatasan dengan pagar situs dan pertokoan, sebelah Selatan berbatasan dengan pagar situs dan tanah kosong, sebelah Barat berbatasan dengan pagar situs dan ruko, dan sebelah Timur berbatasan dengan pagar situs, jalan lorong situs dan pertokoan. Situs Kompleks Makam Saidil Mukammal dalam kondisi terawat, memiliki fasilitas pelindungan berupa pagar situs, papan nama situs, papan larangan, meunasah dan juru pelihara.

Lokasi Situs Kompleks Makam Saidil Mukammal atau Mukammal berada di areal inti kehidupan ekonomi bisnis di Kota Banda Aceh. Lokasinya terletak di belakang pertokoan Jalan Pantee Kuluu, Gampong Merduati, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Asal usul penamaan Kompleks Makam Saidil Mukammal diketahui telah ada sebelum peristiwa Tsunami Tahun 2004 lalu. Sebelum kejadian tersebut, di kompleks ini terdapat nisan Saidil Mukammal, Sultanah Safiatuddin dan beberapa nisan kuno lainnya. Nisannya memiliki ciri khas tipe Aceh Darussalam. Akibat tsunami, , nisan-nisan kuno tersebut hilang dan belum ditemukan sampai sekarang.

Di lokasi Makam Saidil Mukammal saat ini, tersisa 5 (lima) buah makam yang semunya tidak insitu lagi. Adapun nisan ini tersebar akibat hempasan gelombang tsunami, lalu  dipasang/didirikan atas inisiatif juru pelihara di lokasi sekarang (areal situs) karena khawatir nisan-nisan rusak akibat tertimbun tanah dan rumput.

Namun demikian, juru pelihara memastikan bahwa nisan kuno yang masih ada itu merupakan nisan kuno asli yang memang sejak awal berasal dari lokasi ini. Berikut deskripsinya:

Makam 1, memiliki nisan kuno tipe pilar (dipercaya sebagai makam Saidil Mukammal), terbuat dari batu pasir (sand stone). Pada bagian kaki terdapat juga nisan kuno tipe gada dengan kondisi patah.

Makam 2, memiliki nisan kaki dan kepala terbuat dari batu granit dengan bentuk tipe bulat lonjong.

Makam 3, memiliki nisan kuno tipe pipih bersayap, terbuat dari batu pasir (sand stone). Kondisi sayap nisan telah patah dan bagian mahkotanya juga patah. Pada badan nisan terdapat panel berinskripsi dengan tulisan “La ilaaha ilallah, nisan ini nisan inangda/baginda/ananda, Syah ‘Alam Raja Iskandar Muda.”

Makam 4, memiliki nisan tipe pipih bersayap, terbuat dari batu pasir (sand stone). Sayap pada nisan telah patah, tetapi masih memilik puncak (kepala) nisan   berbentuk lampu kandil yang sudah aus. Pada bagian puncak terdapat kaligrafibertulis “La Ilaaha ilallah”. Demikian juga di bagian badan nisan terdapat panel yang berisikan kalimat tauhid “La Ilaaha ilallah”.

Makam 5, memiliki nisan kuno tipe balok (gada) yang bagian puncaknya telah patah. Nisan terbuat dari batu pasir (sand stone).

Data Sejarah

Saidil Mukammal memiliki nama lengkap Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Said Al-Mukammal Ibnu Sultan Firmansyah Ibnu Sultan Inayatsyah yang  menjadi Sultan Kerajaan Aceh Darussalam antara tahun 1588-1604 Masehi. Sultan ini adalah sultan ke- 10 pada urutan para sultan Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada masa kekuasaan Saidil Mukammal, Kerajaan Aceh Darussalam mulai didatangi bangsa Eropa seperti Portugis, Belanda, Perancis, dan Inggris. Pada masa itu, pelabuhan utama Kerajaan Aceh ada empat, yaitu Pantai Cermin, Daya, Pidie, dan Pasai. Disebutkan pada masa Sultan Saidil Mukammal, Kerajaan Aceh sangat sibuk dengan perdagangan lada.

Menurut laporan John Davis, pada masa ini sudah banyak tauke-tauke Tionghoa menempati satu tempat khusus. Demikian juga saudagar-saudagar Portugis, Gujarat, Arab, Benggali dan India, sudah banyak berdiarn di situ. Laporan lain mengatakan bahwa telah banyak hadir pedagang-pedagang asing dari berbagai bangsa, seperti: Arab, Cina, Persia, Siam, Turki, Pegu, Benggala, Portugal, dan Spanyol.

Pada masa Al-Mukammal, perdagangan Aceh maju pesat. Beliau mendapat bintang kehormatan dari Sultan Turki Muhammad Khan yang mengirim banyak hadiah, salah satunya kuda Tizi yang sangat bagus. Disebutkan, militer laut Kerajaan Aceh berkekuatan memiliki 100 kapal perang dan  setiap kapal bisa ditempatkan 400 prajurit. Salah saorang Laksamana Angkatan Laut adalah wanita dan dialah yang diperkenalkan belakangan ini dengan nama Malahayati. Alat senjata yang dipergunakan dari pada tornbak, keris, pedang, panah dan sebagainya.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbaceh/profil-situs-kompleks-makam-saidil-mukammal-oleh-ambo-asse-ajis-pramubakti-balai-pelestarian-cagar-budaya-aceh/
Comments
Loading...