Situs Istana Kota Lama Tanjungpinang

0 33

Situs Istana Kota Lama

Menurut keterangan sejarah pada masa Raja Ibrahim yang bergelar Sultan Ibrahim Syah I menjadi Sultan Johor, maka ditugaskannya Laksamana Tun Abdul Jamil untuk membuka dan membangun Hulu Sungai Carang pada tahun 1673 yang kemudian daerah tersebut dikenal dengan Hulu Riau. Kemudian sebagai Sultan Johor yang berkedudukan di Riau adalah Sultan Ibrahim Syah yang mangkat tahun 1685. Kerajaan Johor dikenal sebagai Kerajaan Johor-PahangRiau-Lingga yang pada waktu itu diperintah oleh Raja Kecil dengan pusat pemerintahan berkedudukan di Hulu Riau. Pada saat peperangan Raja Kecil kalah oleh Tengku Sulaiman yang dibantu oleh lima orang bugis asal Luwu yaitu Daeng Perani, Daeng Marewah, Daeng Celak, Manambun, dan Daeng Kemasi.

Peperangan berakhir pada tahun 1722 dan pada tanggal 4 Oktober 1722 Tengku Sulaiman dilantik menjadi Sultan Riau pertama dengan gelar Sultan Sulaiman badrul Alamsyah I. Pada saat itu pula Daeng Marewah diberi kehormatan memangku jabatan sebagai Yang Dipertuan Muda (Raja) Riau I (1722-1728), dan setelah wafat digantikan oleh Daeng Celak sebagai Yang Dipertuan Muda Riau II (1728-1745). Pusat Kesultanan Kerajaan Riau berkedudukan di Sungai Carang, Hulu Riau dan makin dikenal ketika Raja Haji fi Sabilillah menjadi Yang Dipertuan Muda Riau IV menggantikan daeng kamboja sebagai Yang Dipertuan Muda III. Raja Haji fi Sabilillah kemudian mendirikan Istana baru di Pulau Biram Dewa, yang dikenal dengan nama Istana Kota Piring. Pada masa sekarang pusat Kesultanan Kerajaan di Hulu Riau dikenal dengan sebutan Kota Lama dan Pulau Biram Dewa sebagai Kota Baru.

Istana tersebut terletak di lahan datar dekat pantai (bibir sungai). Sisa bangunan tembok yang terbuat dari kerekel bauksit dicampur dengan semen. Berjarak 30 m dari garis pantai sisi selatan. Sisa bangunan pertama pada saat ditemukan membujur dari barat-timur sepanjang 3 m yang bagian ujung timur terputus, dulunya pernah tersambung dengan tembok di sisi timurnya yang melintang utara-selatan sepanjang 6 m. Pada sisi barat masih tersambung dengan tembok yang melintang utara-selatan sepanjang 6 m sejara dengan tembok yang melintang utara-selatan di sisi timur. Ujung tembok yang melintang utara selatan tersebut baik di sisi barat maupun timur tersambung tembok setinggi 5 m membjur barat-timur sepanjang 9 m. Ujung tembok uyang membujur barat-timur ini tersambung dengan tembok yang melintang utara-selatan mengarah kebagian dalam situs menjauhi pantai di selatannya sepanjang 3,5 m.

Pada bagian dalam ± 32 m ke arah utara terdapat sisa bangunan berupa tembok setinggi 4 m melintang utaraselatan, dan ujungnya tersambung ke arah timur dengan tembok sepanjang 40 m membujur barat-timur. ± 40 m ke arah barat dari sisi bangunan kedua terdapat sisa bangunan ketiga yang berupa tembok sisi timur melintang utara-selatan sepanjang 4m, dan ujung utaranya tersambung dengan tembok membujur barat-timur sepanjang 8 m, dan ujung baratnya tersambung dengan tembok yang melintang utaraselatan sepanjang 4 m, sehingga denah tembok menyerupai huruf U, ± 0,5 m. Selain sisa bangunan terdapat pula makam yang ditandai dengan adanya nisan sederhana terbuat dari batu alam tanpa pengerjaan, dan tersebar dekat sisa bangunan.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Provinsi-Kepulauan-Riau.pdf
Comments
Loading...