situsbudaya.id

Situs Gua Tengkorak Konawe Utara Sulawesi Tenggara

0 62

Lokasi Situs Gua Tengkorak Konawe Utara

Situs Gua Tengkorak Konawe Utara terletak di desa Wawontoaho, Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Situs Gua Tengkorak Konawe Utara

Sekeliling situs merupakan lingkung perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh pihak PTPN XIV dan perusahaan swasta serta usaha perkebunan milik masyarakat setempat. Orientasi gua menghadap 15˚ ke utara dengan ketinggian mulut gua ± 10 meter dari permukaan tanah yang ada disekitarnya atau sekitar 60 meter di atas`permukaan laut.

Proses pembentukan gua dari hasil pelapukan batu gamping (limestone) akibat rembesan air yang masuk ke dalam celah-celah batu sehingga terbentuk loronglorong gua. Lebar mulut gua adalah 2,3 meter, panjang 15 meter dan tinggi gua (dari lantai hingga atap gua) adalah 8-11 meter (lihat gambar). Gua ini memiliki banyak celah dan 2 buah lorong yang mengarah ke selatan serta memiliki ornamen, seperti stalagtit dan stalagmit. Selanjutnya intensitas cahaya dalam gua tergolong rendah (remangremang) dan memiliki kelembapan yang tinggi akibat tetesan air dari langitlangit gua yang berlangsung secara terus-menerus sehingga dinding dan langitlangit gua dipenuhi oleh tumbuhan lumut, serta akibat rembesan itu memberi pengaruh permukaan lantai yang sebagian sudah runtuh atau miring.

Sesuai keterangan penduduk setempat bahwa gua ini diperuntukkan sebagai lokasi penguburan leluhurnya. Hal ini, sesuai indikasi arkeologis yang ditemukan dipermukaan gua, seperti tengkorak dan tulang belulang manusia, fragmen keramik (guci atau tempayan), fragmen tempayan gerabah (polos dan hias), fragmen botol kaca, fragmen gelang perunggu, batu giling, fragmen kerang (laut dan darat), fragmen artefak besi serta manik-manik dan patungpatung tanah liat.

Jika melihat frekuensi dan varian temuan arkeologis di dalam gua ini yang sangat padat, memberi petunjuk bahwa penguburan di gua ini berlangsung secara intensif dari generasi ke generasi, setidaknya hingga jauh memasuki masa sejarah (praIslam). Lanjut dari keterangan penduduk setempat bahwa fragmen keramik dan gerabah yang tersebar dipermukaan gua adalah wadah penyimpanan tulang belulang leluhur mereka, sedang temuan lainnya berfungsi sebagai barang bawaan serta (bekal kubur) ke alam arwah.

Khusus temuan tempayan keramik (baik pecahan maupun yang utuh) berdasarkan atribut kuat yang dimiliki, seperti glasir (teknik), bahan (stone ware), bentuk (guci-tempayan), warna (coklat-kekuningan) dan pola hiasnya (hiasan naga) diperkirakan keramik dari Dinasti Ming (abad 15 M). Sementara berdasarkan bentuk dan pola hias gerabah yang ditemukan di gua Tengkorak I (tumpal, garis geometris, spiral dan bulatan) memiliki persamaan dengan pola hias gerabah yang ditemukan di situs lainnya, seperti di Sulawesi Selatan secara khusus maupun di daerah lain di Indonesia ataupun di Asia Tenggara.

Selain bentuk tempayan, gerabah yang terdapat di situs ini merupakan jenis wadah periuk, bahkan ada sebagian yang memiliki jelaga (bekas pemakaian) serta sebagian memiliki slip (lapisan penutup pori) berwarna merah dan pembakaran yang cukup tinggi. Sementara temuan jenis kerang (molusca) berasal dari habitat laut (veneridae, dan gastropoda) dan habitat darat (potaminidae yang dominan dan beberapa jenis lainnya).

Adapun jenis temuan artefak logam dapat dikenali fungsinya berdasarkan bentuknya, yaitu gelang dan sejata tajam. Gelang yang ditemukan hanya 1 buah (tetapi dari info penduduk bahwa dulunya gelang seperti itu banyak sekali) memiliki patinasi (lapisan karat) berwarna hijau, sehinngga dapat dipastikan menggunakan bahan perunggu dan artefak senjata yang berkorosi coklat kemungkinan dibuat dari bahan besi. Jika berdasarkan temuan kerang yang jumlah sangat banyak, khusunya dari spisies potaminidae dan veneridae meneberi petunjuk bahwa kemungkinan sebelum gua ini difungsikan sebagai tempat penguburan adalah tempat bermukim oleh komunitas`manusia dan dari masa tertentu. Kerang tersebut kemungkinan sebagai sampah makanan dan fragmen gerabah kemungkinan wadah yang dipakai untuk memasak.

Kondisi situs ini sekarang sangat memprihatinkan, sebab sebagian besar wadah keramik dan tempayan beserta bekal kuburnya sudah dijarah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Namun sebagian dari temuan arkeologi dari situs ini masih tersimpan disalah satu rumah penduduk Wiwirano, seperti guci keramik, patungpatung tanah liat dan beberapa artefak logam. Hal ini diperparah lagi dengan adanya vandalisme yang terdapat pada dinding gua dan sisasisa pembakaran untuk memasak dari orangorang yang berkebun di sekitar gua.

Source http://www.arkeologi-sulawesi.com//index.php http://www.arkeologi-sulawesi.com//berita-72/situs-gua-tengkorak-konawe-utara.html
Comments
Loading...