Situs Candi Koto Rao Pasaman

0 30

Situs Candi Koto Rao

Situs Candi Koto Rao dapat dihubungkan dengan keberadaan Prasasti Kubu Sutan. Jika dilihat dari susunan katanya, dapat disimpulkan bahwa Sri Indrakila Partawapuribhaya adalah sebuah tempat yang besar atau sebuah kompleks yang di dalamnya terdapat sebuah tempat atau bangunan bernama Pitamahadara. Selain itu, juga dapat disimpulkan bahwa Raja Bijayendra‐sekhara beragama Hindu. Hal ini dapat dilihat dari nama tempat suci yang dijadikan sebagai lokasi pemujaannya, yaitu Pitamahadara dan SriIndrakila Partawapuribhaya. Pertama, kata “pitamahadara” berasal dari gabungan dua kata, pitamaha dan dara. Pitamaha adalah nama lain Dewa Brahma, sedangkan Dara adalah istri. Jadi, Pitamahadara dapat diartikan sebagai tempat pemujaaan atau peristirahatan bagi istri Dewa Brahma.

Sebagaimana diketahui Dewa Brahma adalah salah satu dewa yang hidup dalam pantheon agama Hindu.10 Kedua, kata “Sri Indrakila Parwata‐puribhaya” dapat diartikan sebagai istana di gunung yang bercahaya tempat bagi Dewa Indra. Sebagaimana diketahui, Dewa Indra adalah dewa yang juga hidup dalam kepercayaan agama Hindu. Dari kesimpulan di atas, terdapat satu hal yang menarik untuk dihubungkan lebih lanjut dengan temuan candi di Bukit Koto Rao, yaitu aktivitas pemujaan yang dilakukan oleh Raja Bijayendrasekhara di Sri Indrakila Parwatapuribhaya. Sebagaimana telah disebutkan, Sri Indrakila Parwata‐ puribhaya dapat diartikan sebagai istana di gunung, sehingga dapat diperkirakan bahwa tempat pemujaan tersebut berada di atas gunung atau bukit. Sementara itu, sampai saat ini belum pernah diketemukan candi di perbukitan atau di gunung di dekat lokasi prasasti ini, kecuali Candi Koto Rao yang ditemukan di Bukit Koto Rao baru‐baru ini. Berdasarkan hal tersebut, dapat diperkirakan bahwa situs percandian di Bukit Koto Rao inilah yang dimaksud sebagai Sri Indrakila Parwatapuribhaya dalam Prasasti Kubu Sutan.

Jika asumsi tersebut di atas benar, maka dating atau pertanggalan relative dan latar belakang keagamaan dari situs percandian di Bukit Koto Rao pun dapat ditentukan perkiraannya, yaitu pada akhir abad ke‐14 M dan berlatar belakang agama Hindu. Dengan dapat diperkirakannya pertanggalan relatif dari situs di Koto Rao ini, dapat dikatakan bahwa situs candi khususnya dan situs masa klasik lainnya di Kabupaten Pasaman mempunyai pertanggalan yang sezaman dan eksis pada abad ke‐14 M. Sementara itu, berdasarkan analisis komparatif di atas, fungsi situs percandian di Bukit Koto Rao pun dapat diperkirakan, yaitu sebagai tempat pemujaan bagi istri Dewa Brahma. Namun demikian, belum dapat diperkirakan istri Dewa Brahma manakah yang dipuja di tempat ini, apakah Aditi, Sarasvati (Brahmi, Satarupa, Savitri) ataukah Gayatri? Situs percandian di Bukit Koto Rao diperkirakan merupakan bangunan suci sebagaimana dimaksudkan dalam Prasasti Kubu Sutan, Sarasvati, Gayatri, Aditi ataukah lainnya.

Situs percandian di Bukit Koto Rao mempunyai latar belakang agama Hindu dan berasal dari abad ke‐14 M. Situs percandian di Bukit Koto Rao juga yaitu Sri Indrakila Parwatapuribhaya, yang didirikan sebagai pemujaan untuk istri Dewa Brahma (Pitamahadara). Namun demikian, belum dapat diketahui istri Dewa Brahma yang mana dimaksud, apakah merupakan situs pemukiman kuna. Hal ini ditunjukkan oleh temuan gerabah dan makam kuna. Selain itu, juga didukung oleh kepercayaan dan keyakinan masyarakat Rao bahwa asal‐usul mereka berasal dari Bukit Koto Rao. Masyarakat pendukung situs percandian di Bukit Koto Rao merupakan masyarakat yang sudah mempunyai sistem pengetahuan dan sistem teknologi yang cukup tinggi sesuai dengan kondisi zamannya.

Hal ini salah satunya ditunjukkan oleh adanya keterpaduan antara aspek teknis dengan aspek keagamaan dalam pemilihan lokasi pendirian candi di Bukit Koto Rao. Selain itu, juga ditunjukkan oleh teknologi yang digunakan dalam pendirian struktur pondasi candi. Masyarakat yang pernah bermukim di kawasan Bukit Koto Rao telah mengalami peralihan dua zaman agama, yaitu dari Hindu ke Islam. Hal ini ditunjukkan oleh keberadaan temuan makam kuno yang berasal dari tradisi Islam (berorentasi utara‐selatan). Proses peralihan dua zaman agama tersebut di atas salah satunya mengakibatkan masyarakat yang pernah bermukim di kawasan Bukit Koto Rao mempunyai perilaku budaya (cultural behavior) berupa berupa pengunaan ulang (reuse) terhadap bagian‐bagian bangunan Hindu (candi) untuk bangunan‐bangunan Islam (makam).

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kabupaten-Pasaman.pdf
Comments
Loading...