situsbudaya.id

Situs Candi Bumiayu Diduga Peninggalan Kerajaan Galuh pada Abad Kesembilan

0 220

Situs peninggalan Hindu di Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, akan diekskavasi Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta. Tujuannya agar peninggalan arkeologi periode Hindu di wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah bisa terkuak.

Sejarawan Brebes, Wijanarto mengatakan dengan kajian dan ekskavasi dari Balai Arkeologi Yogyakarta, akan membuktikan keterpengaruhan Kerajaan Galuh yang terletak di Sunda atau Jawa Barat dengan wilayah di sekitarnya yang mencapai Banyumas dan Brebes.

“Kerajaan Galuh yang merupakan kerajaan Sunda mencakup wilayah Banyumas, dan Brebes Selatan yakni di Bumiayu dan sekitarnya.

Kerajaan Galuh merupakan kerajanan Hindu di Pulau Jawa, yang wilayahnya terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Serayu dan Cipamali (Pemali) di sebelah timur. Kerajaan ini adalah penerus dari kerajaan Kendan, bawahan Tarumanagara.

Pria yang juga menjabat Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dinparbudpora) Brebes itu mengatakan artefak yang ditemukan banyak mengandung unsur Hindu. Antara lain batu Lembu Andhini, umpak dan bangunan pintu gerbang kecil.

Selain itu, banyak unsur keterkaitan antara Brebes dan Banyumas dengan Kerajaan Galuh di Jawa Barat. Hal tersebut dilihat dari nama daerah, cerita rakyat (folklore) dan bahasa.

“Di Brebes ada nama daerah Galuhtimur, serta nama yang mirip dengan nama Sunda semisal Cipamali, Cikesal, Ciserat dan lain-lain,” ucapnya.

Begitu dengan bahasa atau pemilihan kata (diksi) yang digunakan di dua bahasa yang memiliki kemiripan. Sebagian warga Brebes juga ada yang menggunakan Bahasa Sunda semisal di Salem dan Bantarkawung.

Selain itu, dari cerita rakyat yang memiliki kemiripan. Misalnya cerita tentang Lutung Kasarung dan Ciung Wanara.

Ia menduga daerah di Brebes tersebut merupakan desa perdikan, yakni daerah di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh di luar Sunda yang mengelola pajak sendiri untuk kemakmuran rakyat.

“Biasanya, desa perdikan ditetapkan pada masa Hindu karena telah berjasa pada kerajaan. Sehingga desa itu tidak mengirimkan upeti ke kerajaan, melainkan mengelola pajak sendiri untuk kemakmuran rakyatnya,” tuturnya.

Terkait benda peninggalan tersebut, ia berharap agar eksekutif dan legislatif bersama-sama menjaganya. Dimaksudkan agar artefak tersebut tetap terus terjaga dan identitas pada masa lalu Brebes bisa diketahui.
“Jangan sampai kita amnesia sejarah. Mari merawat dan meruwat jejak sejarah itu,” tandasnya.
Apalagi, kata dia, Brebes sudah memiliki Perda tentang Pelestarian Benda Cagar Budaya yakni Perda No 10 tahun 2015.

Comments
Loading...