Situs Bonto Tangnga Sulawesi Selatan

0 67

Lokasi Situs Bonto Tangnga

Situs Bonto Tangnga terletak di dalam wilayah Dusun Bontotangnga, Desa Bontotangnga, Kecamatan Tamalate Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Situs Bonto Tangnga

Morfologi lahan situs merupakan bentang alam perbukitan gelombang lemah diselingi yang pada lembah antara perbukitan mengalir air pada musim hujan, tetapi kering pada musim kemarau. Eksploitasi batuan oleh penduduk dilakukan terutama pada kaki bukit, tempat sentrum artefak alat batu ditemukan. Bentang morfologi situs ini disebelah utara berbatasan dengan persawahan dan jalan raya yang memberi jarak sosial dengan kampung Tanetea.

Di sebelah selatan gugusan perbukitan terdapat lembah yang dimanfaatkan penduduk sebagai perkebunan jagung dan kacang tanah. Sebelah timur situs terdapat kampung Lantaka, sedangkan di sebelah baratnya terdapat kampung Ujung Tanah dengan persawahan rendah rawan banjir yang kemungkinan di masa lalu merupakan rawa.  Pedataran yang berada di sisi utara, selatan dan barat situs relatif subur yang sangat kontradiktif dengan zona situs yang tandus dan sepanjang waktu tidak bisa dimanfaatkan untuk pertanian apapun.

Semua permukaan situs memperlihatkan singkapan tufa dan pada beberapa bagian menampakkan batu gamping, bolder yang berpotensi batu kalsedon atau chert. Kandisi lapisan tanah yang tandus dimanfaatkan penduduk sekarang menambang batu, pekuburan dan lahan pemeliharaan sapi dan kuda. Di atas tiga zona perbukitan situs ini hanya tumbuh vegetasi pohon “tanmate” (nama lokal),  lontar, dan rumput semak.

 Meskipun pada musim kemarau lahan situs yang tandus masih memiliki sumber air di kaki perbukitan sebelah utara yang sampai sekarang masih dimanfaatkan penduduk setempat. Oleh karena ukuran dan potensi airnya, penduduk setempat menyebut sumber air di kaki perbukitan Bulu Bontotangnga dengan nama “Bubung Loe”. Potensi air juga dapat diperoleh dari aliran Sungai Saroangin di sebelah barat, dekat kampung Ujung Tanah. Sungai ini mengalir dari utara menuju muara di Laut Flores yang jaraknya kira-kira 4 kilometer dari situs.

Di lereng sampai kaki perbukitan situs dimanfaatkan penduduk untuk permukiman, terutama di sisi utara. Di sisi selatan merupakan lahan tidur yang belum banyak dimanfaatkan; di ujung barat kaki perbukitan dimanfaatkan untuk kebun kelapa serta tumbuhan lain. Di lembah perbukitan dijadikan perkebunan jagung, serta ditanami pohon mangga, jambu, kapok, lontar, serta tumbuh palm secara liar.

Pada areal situs ditemukan moluska laut, dan tembikar. Kehadiran molluska memperlihatkan hubungan dengan pantai yang berlangsung juga sampai sekarang. Para pemukim berusia tua di sekitar situs pada umumnya masih ingat bahwa batu-batu bahan artefak juga digunakan sebagai media pemantik api dengan menggunakan ijuk. Artefak batu yang ditemukan memperlihatkan dominasi pemanfaatan bahan gamping dan chert. Meskipun demikian, dibandingkan dengan situs Karama I dan II serta situs Kalimporo’ eksploitasi bahan batuan untuk alat batu di masa lalu pada situs Bontotangnga tidak seintensif di situs Karama dan Kalimporo, sebagaimana ditampakkan oleh limbah batu (tatal) yang tersingkap. Sebaran alat batu juga lebih terkonsentrasi pada zona perbukitan sebelah barat, tepatnya pada lereng utara hingga kaki bukit yang berbatasan dengan jalan kampung.

Berdasarkan pengamatan lingkungan makro, situs Bontotangnga potensial menjadi sumber bahan alat batu manusia prasejarah serta bermukim pada punggung atau lerengnya. Pada lokasi situs mereka dapat dengan mudah memantau hewan buruan lembah-lembah yang berada di keempat sisinya. Untuk sumber air pemukim dapat memanfaatkan mata air di kaki bukit sebelah utara atau sungai Saroanging yang berada kira-kira 2 kilometer sebelah barat situs.

Source http://www.arkeologi-sulawesi.com//index.php http://www.arkeologi-sulawesi.com//berita-48/situs-bonto-tangnga.html
Comments
Loading...