Situs Benteng Lipu Sulawesi Tenggara

0 80

Lokasi Situs Benteng Lipu

Secara administratif Benteng Lipu masuk dalam wilayah Kampung Lipu Kelurahan Lakonea Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara, yang berjarak ± 1 km dari Ibu Kota Kecamatan Kulisusu, Sulawesi Tenggara.

Situs Benteng Lipu

Akses menuju kawasan ini sangat mudah, yakni dengan menggunakan kendaraan bermotor maupun berjalan kaki karenaletaknya yang berada di tengah kota.Secara Astronomi, Benteng Lipu berada pada titik koordinat 04° 47’ 03.4” LS – 123° 10’ 49.1” BT dengan ketinggian mencapai 43 m diatas permukaan laut. Batas-batas wilayah Benteng Lipu meliputi sisi sebelah Timur benteng yang berbatasan dengan perkebunan jambu mete, sisi sebelah Barat langsung berbatasan dengan jalan aspal dan wilayah pemukiman, sebelah Utara berbatasan dengan hutan semak dan sebelah Selatan berbatasan langsung dengan jalan aspal dan perkebunan jambu mete.

Situs Benteng Lipu merupakan satu-satunya benteng dengan kondisi terawat, dan dijadikan sebagai wilayah pemukiman adat yang cukup padat. Hampir sebagian wilayahnya terdiri atas bangunan rumah penduduk, beberapa bangunan bersejarah, dan sebagian lainnya meliputi beberapa jenis vegetasi yang di dominasi oleh tanaman konsumsi seperti pepaya, kelapa, mangga, ubi kayu, pohon kapuk, bambu dan jenis tumbuhan semak.

Pada Benteng Lipu terdapat lima buah pintu/gerbang yang oleh masyarakat setempat disebut Lawa. Tiap-tiap pintu/gerbang ini memiliki nama yang merujuk pada arah kampung atau objek dimana pintu/gerbang tersebut menghadap. Lawa Ea (Pintu/Gerbang Utama, Ea dalam bahasa kulisusu berarti besar), Lawa Mata Oleo ( Pintu/Gerbang menuju kampung mata oleo, Lawa Yi Lemo (Pintu/Gerbang menuju kampung Lemo), Lawa Eebula (Pintu/Gerbang menuju sumur Eebula), Lawa Mopusu dan sebuah pintu lain oleh masyarakat setempat tidak disebut sebagai lawa, namun disebut Kabhongka. Secara keseluruhan, benteng lipu memiliki 7 bastion yang bergungsi sebagai tempat mengintai dan meletakan meriamdengan lantai berterap.

Panjang Benteng Lipu mencapai 1883 m dengan luas 12,95 Ha dengan ketebalan struktur mencapai 2 – 3m, sedangkan ketebalan sudut terutama pada sisi bagian Utara mencapai 5.40 m dan tingginya bervariasi antara 1 – 2m tergantung kondisi kontur tanah. Seperti halnya ciri benteng-benteng lokal khususnya yang berada di Sulawesi Tenggara, konstruksi struktur Benteng Lipu tidak lagi memperlihatkan bentuk aslinya seperti pada ciri benteng-benteng lokal. Struktur keseluruhan benteng telah diberi perekat berbahan semen untuk merekatkan batu koral sebagai bahan baku pembuatan benteng. Tidak diketahui secara pasti apakah struktur dan konstruksi Benteng Lipu benar-benar masih tetap pada bentuk dan posisinya yang asli atau tidak karena menurut keterangan Kasim (salah satu informan dan juru kunci) tercatat bahwa benteng telah di pugar oleh Pemda setempat secara bertahap mulai dari tahun 1997 sampai tahun 2000 dan pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 2007.

Situs Benteng Lipu merupakan satu-satunya benteng dengan kondisi terawat, dan dijadikan sebagai wilayah pemukiman adat yang cukup padat. Hampir sebagian wilayahnya terdiri atas bangunan rumah penduduk, beberapa bangunan bersejarah, dan sebagian lainnya meliputi beberapa jenis vegetasi yang di dominasi oleh tanaman konsumsi seperti pepaya, kelapa, mangga, ubi kayu, pohon kapuk, bambu dan jenis tumbuhan semak.

Pada Benteng Lipu terdapat lima buah pintu/gerbang yang oleh masyarakat setempat disebut Lawa. Tiap-tiap pintu/gerbang ini memiliki nama yang merujuk pada arah kampung atau objek dimana pintu/gerbang tersebut menghadap. Lawa Ea (Pintu/Gerbang Utama, Ea dalam bahasa kulisusu berarti besar), Lawa Mata Oleo ( Pintu/Gerbang menuju kampung mata oleo, Lawa Yi Lemo (Pintu/Gerbang menuju kampung Lemo), Lawa Eebula (Pintu/Gerbang menuju sumur Eebula), Lawa Mopusu dan sebuah pintu lain oleh masyarakat setempat tidak disebut sebagai lawa, namun disebut Kabhongka. Secara keseluruhan, benteng lipu memiliki 7 bastion yang bergungsi sebagai tempat mengintai dan meletakan meriamdengan lantai berterap.

Panjang Benteng Lipu mencapai 1883 m dengan luas 12,95 Ha dengan ketebalan struktur mencapai 2 – 3m, sedangkan ketebalan sudut terutama pada sisi bagian Utara mencapai 5.40 m dan tingginya bervariasi antara 1 – 2m tergantung kondisi kontur tanah. Seperti halnya ciri benteng-benteng lokal khususnya yang berada di Sulawesi Tenggara, konstruksi struktur Benteng Lipu tidak lagi memperlihatkan bentuk aslinya seperti pada ciri benteng-benteng lokal. Struktur keseluruhan benteng telah diberi perekat berbahan semen untuk merekatkan batu koral sebagai bahan baku pembuatan benteng. Tidak diketahui secara pasti apakah struktur dan konstruksi Benteng Lipu benar-benar masih tetap pada bentuk dan posisinya yang asli atau tidak karena menurut keterangan Kasim (salah satu informan dan juru kunci) tercatat bahwa benteng telah di pugar oleh Pemda setempat secara bertahap mulai dari tahun 1997 sampai tahun 2000 dan pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 2007.

Situs Benteng Lipu merupakan satu-satunya benteng dengan kondisi terawat, dan dijadikan sebagai wilayah pemukiman adat yang cukup padat. Hampir sebagian wilayahnya terdiri atas bangunan rumah penduduk, beberapa bangunan bersejarah, dan sebagian lainnya meliputi beberapa jenis vegetasi yang di dominasi oleh tanaman konsumsi seperti pepaya, kelapa, mangga, ubi kayu, pohon kapuk, bambu dan jenis tumbuhan semak.

Pada Benteng Lipu terdapat lima buah pintu/gerbang yang oleh masyarakat setempat disebut Lawa. Tiap-tiap pintu/gerbang ini memiliki nama yang merujuk pada arah kampung atau objek dimana pintu/gerbang tersebut menghadap. Lawa Ea (Pintu/Gerbang Utama, Ea dalam bahasa kulisusu berarti besar), Lawa Mata Oleo ( Pintu/Gerbang menuju kampung mata oleo, Lawa Yi Lemo (Pintu/Gerbang menuju kampung Lemo), Lawa Eebula (Pintu/Gerbang menuju sumur Eebula), Lawa Mopusu dan sebuah pintu lain oleh masyarakat setempat tidak disebut sebagai lawa, namun disebut Kabhongka. Secara keseluruhan, benteng lipu memiliki 7 bastion yang bergungsi sebagai tempat mengintai dan meletakan meriamdengan lantai berterap.

Panjang Benteng Lipu mencapai 1883 m dengan luas 12,95 Ha dengan ketebalan struktur mencapai 2 – 3m, sedangkan ketebalan sudut terutama pada sisi bagian Utara mencapai 5.40 m dan tingginya bervariasi antara 1 – 2m tergantung kondisi kontur tanah. Seperti halnya ciri benteng-benteng lokal khususnya yang berada di Sulawesi Tenggara, konstruksi struktur Benteng Lipu tidak lagi memperlihatkan bentuk aslinya seperti pada ciri benteng-benteng lokal. Struktur keseluruhan benteng telah diberi perekat berbahan semen untuk merekatkan batu koral sebagai bahan baku pembuatan benteng. Tidak diketahui secara pasti apakah struktur dan konstruksi Benteng Lipu benar-benar masih tetap pada bentuk dan posisinya yang asli atau tidak karena menurut keterangan Kasim (salah satu informan dan juru kunci) tercatat bahwa benteng telah di pugar oleh Pemda setempat secara bertahap mulai dari tahun 1997 sampai tahun 2000 dan pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 2007.

Situs Benteng Lipu merupakan satu-satunya benteng dengan kondisi terawat, dan dijadikan sebagai wilayah pemukiman adat yang cukup padat. Hampir sebagian wilayahnya terdiri atas bangunan rumah penduduk, beberapa bangunan bersejarah, dan sebagian lainnya meliputi beberapa jenis vegetasi yang di dominasi oleh tanaman konsumsi seperti pepaya, kelapa, mangga, ubi kayu, pohon kapuk, bambu dan jenis tumbuhan semak.

Pada Benteng Lipu terdapat lima buah pintu/gerbang yang oleh masyarakat setempat disebut Lawa. Tiap-tiap pintu/gerbang ini memiliki nama yang merujuk pada arah kampung atau objek dimana pintu/gerbang tersebut menghadap. Lawa Ea (Pintu/Gerbang Utama, Ea dalam bahasa kulisusu berarti besar), Lawa Mata Oleo ( Pintu/Gerbang menuju kampung mata oleo, Lawa Yi Lemo (Pintu/Gerbang menuju kampung Lemo), Lawa Eebula (Pintu/Gerbang menuju sumur Eebula), Lawa Mopusu dan sebuah pintu lain oleh masyarakat setempat tidak disebut sebagai lawa, namun disebut Kabhongka. Secara keseluruhan, benteng lipu memiliki 7 bastion yang bergungsi sebagai tempat mengintai dan meletakan meriamdengan lantai berterap.

Panjang Benteng Lipu mencapai 1883 m dengan luas 12,95 Ha dengan ketebalan struktur mencapai 2 – 3m, sedangkan ketebalan sudut terutama pada sisi bagian Utara mencapai 5.40 m dan tingginya bervariasi antara 1 – 2m tergantung kondisi kontur tanah. Seperti halnya ciri benteng-benteng lokal khususnya yang berada di Sulawesi Tenggara, konstruksi struktur Benteng Lipu tidak lagi memperlihatkan bentuk aslinya seperti pada ciri benteng-benteng lokal. Struktur keseluruhan benteng telah diberi perekat berbahan semen untuk merekatkan batu koral sebagai bahan baku pembuatan benteng. Tidak diketahui secara pasti apakah struktur dan konstruksi Benteng Lipu benar-benar masih tetap pada bentuk dan posisinya yang asli atau tidak karena menurut keterangan Kasim (salah satu informan dan juru kunci) tercatat bahwa benteng telah di pugar oleh Pemda setempat secara bertahap mulai dari tahun 1997 sampai tahun 2000 dan pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 2007.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/category/info-budaya https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/445/
Comments
Loading...