Sejarah Museum Perjuangan Yogyakarta

0 345

Lokasi Museum Perjuangan

Museum Perjuangan terletak di Jl. Kolonel Sugiono No. 24, Brontokusuman, Mergangsan, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55153.

Sejarah Museum Perjuangan 

Dalam rangka peringatan setengah abad kebangkitan nasional, di Yogyakarta pada tahun 1958 telah dibentuk sebuah panitia yang diberi nama “Panitia Setengah Abad Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta”. Panitia tersebut diketuai oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan beranggotakan kepala-kepala jawatan, wakil-wakil dari kalangan militer dan polisi, pemimpin-pemimpin partai dan organisasi dari segala aliran dan keyakinan yang tergabung dalam Panitia Persatuan Nasional (PPN), kaum cerdik cendekiawan dan karya.

Pada tanggal 20 Mei 1958, di halaman Gedung Agung, Yogyakarta diadakan upacara peringatan setengah abad kebangkitan nasional. Selain itu juga dilakukan rangkaian kegiatan antara lain kerja bakti, gerakan menambah hasil bumi, mengumpulkan bingkisan untuk dikirim kepada kesatuan-kesatuan yang sedang berjuang menumpas pemberontakan, serta mengadakan ziarah ke makam para pahlawan nasional. Meski demikian, panitia merasa ada sesuatu yang kurang. Oleh karena itulah muncul gagasan Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku ketua Panitia Setengah Abad Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengadakan suatu peninggalan kepada generasi mendatang.

Ndalem Brontokusuman terletak di belakang Museum Perjuangan Yogyakarta. Seusai upacara tanggal 20 Mei 1958, diadakan rapat panitia. Rapat berhasil membentuk Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional yang anggotanya terdiri dari anggota Dewan Pimpinan Panitia Peringatan Setengah Abad Kebangkitan Nasional Yogyakarta. Sebagai tempat berdirinya monumen Sri Sultan Hamengkubuwana IX memberikan sebagian halaman nDalem Brontokusuman.

Arti Dan Makna Bangunan Museum Perjuangan

Koleksi Museum Perjuangan

Bangunan Museum Perjuangan secara keseluruhan memiliki arti dan makna sesuai dengan tujuan bangunan didirikan. Bangunan gedung berbentuk bulat silinder dengan garis tengah 30 meter dan tinggi 17 meter. Bangunan ini merupakan perpaduan bentuk bangunan model zaman Romawi Kuno dengan bangunan model timur, yang dinamai ronde tempel.

Di bagian kiri dan kanan pintu masuk museum terdapat hiasan makara berbentuk binatang laut. Bagian atap gedung berbentuk topi baja model Amerika dengan hiasan puncak lima buah bambu runcing yang berdiri tegak di atas bulatan dunia. Sedang bulatan dunia itu sendiri terletak di atas lima buah trap.

Di bagian atas pintu masuk museum terdapat hiasan berbentuk binatang bersudut delapan dengan peta kepulauan Indonesia di tengah-tengahnya. Di bawahnya ada candrasengkala ciptaan R.M Kuswaji Kawindro Susanto yang berbunyi : “Anggatra Pirantining Kusuma Nagara”. Suryasengkala memiliki arti tahun pendirian museum yaitu 1959.

Di bagian depan pintu masuk museum terdapat trap berjumlah 17 buah. Kemudian daun pintu masuk berjumlah 8 buah. Jendela pada sekeliling dinding luar museum dipisahkan oleh pilar yang dihias ukiran lung-lungan menyerupai api yang tak kunjung padam berjumlah 45 buah. Selain itu juga dilengkapi dengan 10 patung kepala pahlawan nasional serta 37 relief sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak zaman pergerakan nasional sampai dengan pemulihan kedaulatan tahun 1950.

Bentuk bangunan tersebut secara keseluruhan mengandung arti simbolis bahwa Kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan bangsa Indonesia sendiri, bukan hadiah dari bangsa lain, masyarakat Indonesia adalah masayarakat yang adil makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan jumlah trap, daun pintu dan jendela melambangkan tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan. Hiasan pilar pemisah jendela ini memiliki arti simbolis semangat bangsa Indonesia yang tak pernah pudar dalam memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan melaksanakan pembangunan menuju masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Source Sejarah Museum Perjuangan Yogyakarta Jawa Tengah
Comments
Loading...