Sepotong Kisah Hotel Pati

0 25

Sepotong Kisah Hotel Pati

Ternyata selain sebagai hotel pertama di Kabupaten Pati, tempat penginapan ini juga menyimpan sejarah bangsa melawan penjajah Belanda. Adalah Hotel Pati yang saat ini masih megah berdiri di Jl.P. Sudirman, ternyata menjadi saksi perjuangan kaum muda di masa agresi militer Belanda pasca kemerdekaan.

Pada awal berdirinya pada 1926, hotel ini hanya menyediakan 5 kamar berukuran 5x6m. Sang pemilik, Tan Shi ging atau akrab disapa Mr.Tan mendirikan penginapan untuk membantu para rekan dagangnya dari berbagai negeri ketika berbisnis di Indonesia. Kala itu, Mr. Tan memberi nama tempat penginapannya Pati Hotel yang merupakan satu-satunya hotel di pinggir Jl.Herman Willem Daendeles (sekarang Jl. P. Sudirman). H.W Daendeles dikenal sebagai Gub. Jend. Belanda yang membangun jalan raya mulai anyer samoai ke Panarukan yang saat ini disebut Jl. Pantura.

Kendati telah merdeka, konfrontasi pejuang kemerdekaan dengan Belanda terus berlangsung pada 1947, TAk terkecuali di kawasan Kudus ke timur. Pada masa itu, kalangan pelajar ambil bagian bersama Tentara Republik Indonesia (TRI) menahan laju serangan Belanda dari arah barat (Semarang).

Puncaknya, TRI (Batalyon 426 Munawar) meledakkan Jembatan Tanggulangin (perbatasan Kudus-Demak). Bersama dengan peristiwa itu, Tentara Pelajar (Brigadir 17) angkatan’45 meminjam Hotel Pati sebagai markas komando. Mengingat letak Pati cukup strategis sebagai daerah pertanahan lantaran berada di tengah Pelabuhan Juwana dan semarang (pelabuhan antarpulau di Pantai Utara Jawa) pada masa itu.

Agresi itu berhasil ditahan dan tidak sampai ke Pati. Gejolak berangsur mereda dengan digelarnya Perjanjian Linggarjati antara RI dan Belanda. situsi yang mulai kondusif membuat para tentara pelajar kembali meneruskan pendidikannya di sekolah. Sebelum perpisahan setelah tamat sekolah, tentara pelajar mendirikan monument di depan bekas markasnya.

Sejak dibangun monument itu sempat dipugar atas prakarsa Alm. AKBP (purn) R. Soedartono yang pernah menjabat Ketua TP Exs 17 dan Ketua Dewan Harian Cabang (DHC) Angkatan 45 Pati. Monumen itu berbetuk piramida setinggi 75 cm dengan mengambil areal 100 m2 di pojok timur pelataran Hotel Pati. Bangunan tersebut berlatar patug dua pejuang menenteng senapan dan mengepalkan tangan seakan berteriak.

Kata “teroeskan” yang tertoreh di piramida seakan menjadi pengingat bagi generasi saat ini dan mendatang untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa serta bisa lebih menanamkan nilai patrotisme.

Keturunan Soedartono, Panji Soeryo Nugroho mengatakan setelah ayahnya wafat, 16 November 2008, kepengurusan Angakatn 45 stagnan. Begitu pula dengan kegiatan peringatan di Monumen Tentara Pelajar juga mandeg.

Source https://ayokepati.wordpress.com https://ayokepati.wordpress.com/2011/10/11/sepotong-kisah-hotel-pati/
Comments
Loading...