Sepenggal Kisah Nama Jalan di Kota Batu

0 204

Sepenggal Kisah Nama Jalan di Kota Batu

Sebagai masyarakat yang tinggal di kota Batu dan sekitarnya, haruslah mengetahui makna-makna tersirat dari nama-nama jalan yang ada di daerahnya. Mengapa nama pahlawan-pahlawan itu dijadikan nama jalan? Apa istimewanya mereka? Nah, berikut ada ulasan mengenai jawaban-jawaban tersebut.

Sebuah sumber mengatakan bahwa mulai sekitar tahun 1947, pasukan penggempur atau pasukan ”Berani Mati” yang dipimpin Mayor Abdul Manan mengoperasikan pasukannya di wilayah Batu dan sekitarnya. Ratusan pemuda bergabung dalam pasukan ini dan memulai perang melawan Belanda secara gerilya. Beberapa tokoh pejuang yang tergabung dan gugur di medan laga akhirnya diabadikan sebagai nama jalan di Kota Batu. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:

  1. Munif

Munif adalah nama seorang tokoh pejuang kelahiran Kota Batu. Beliau berprofesi sebagai guru madrasah dan anggota Laskar Hizbullah, sebuah laskar rakyat pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, yang salah satu anggotanya adalah Ali Moertopo. Belakangan melebur ke dalam Tentara Islam Indonesia (TII). Munif gugur dalam usia 29 tahun di dusun Jeding, desa Junrejo – Kota Batu. Namanya sekarang diabadikan menjadi nama jalan di sebelah selatan alun-alun Kota Batu. Jl. Munif juga merupakan jalan yang cukup strategis karena letaknya yang berada di jantung kota sehingga pusat kegiatan ekonomi, hiburan, dan aneka serangkaian  acara-acara besar digelar di jalan ini.

  1. Kapten Ibnu (Susanto Benu)

Beliau adalah juga salah seorang tokoh pejuang yang berasal dari Desa Tlekung, Kota Batu. Dikatakan meninggal pada tahun 1949 bersama empat orang pejuang lainnya saat melakukan gerilya di malam hari. Namanya kini diabadikan menjadi nama jalan di Desa Sisir, Kota Batu.

  1. Sudarno

Menurut sumber, beliau adalah sahabat karib dari Kapten Ibnu. Gugur  pada saat menyerbu Belanda. Sebagai seorang tokoh pejuang, namanya kemudian diabadikan menjadi nama jalan di desa Ngaglik, Kota Batu. Salah satu tempat penting di Jalan Sudarno adalah SMK Brawijaya Batu, yang dulunya bernama STM Brawijaya.

  1. Abdul Gani

Abdul Gani adalah nama seorang tokoh pejuang dari desa Ngaglik, Kota Batu, tepatnya di sebelah selatan Belik Tanjung di kampung Klebengan.  Beliau memiliki seorang istri yang oleh penduduk biasanya dipanggil dengan Ibu Suin. Menurut sebuah sumber, beliau gugur bersama 13 orang pejuang lainnya pada saat menyerbu Belanda di desa Gunungsari, Kota Batu. Namun ada sumber lain mengatakan bahwa beliau meninggal di desa Kaliputih dalam keadaan mengenaskan dan jasadnya diseret oleh kendaraan Belanda yang dikemudikan oleh seorang serdadu Belanda bernama Mison. Sebagai penghormatan atas perjuangannya, namanya kini dijadikan nama jalan di Desa Ngaglik, dan jalan ini merupakan akses utama menuju tempat-tempat wisata yang cukup terkenal seperti Agrowisata dan Museum Angkut. Jl. Abdul Gani juga merupakan jalur utama bagi kendaraan umum seperti bus dari Malang menuju Jombang atau Kediri dan sebaliknya.

  1. Ikhwan Hadi

Ikhwan Hadi adalah juga nama seorang tokoh pejuang dari Kota Batu yang gugur saat melawan Belanda di desa Gunungsari. Namun ada sumber lain yang mengatakan, bahwa beliau gugur di Sidoarjo saat bergabung dengan Laskar Hizbullah Kota Batu yang pada waktu turut ambil bagian dalam peristiwa perang 10 November di Surabaya. Kini namanya diabadikan menjadi nama jalan di desa Ngaglik.

  1. Kasan Kaiso

Kasan Kaiso adalah nama seorang tokoh pejuang yang berasal dari dusun Klerek. Dikatakan bahwa tugas beliau adalah mencuri senjata di markas Belanda yang pada waktu itu menempati gedung “Jambe Dawe” yang sekarang berubah menjadi Hotel Kartika Wijaya. Beliau juga memiliki seorang adik yang juga seorang tokoh pejuang bernama Rochiem, namun namanya jarang disebut-sebut. Kasan Kaiso ditembak mati oleh Belanda di sebuah gua di dusun Klerek.

  1. Mohammad Sahar

Mohammad Sahar adalah juga nama seorang tokoh yang tugas utamanya adalah mencuri senjata Belanda. Menurut sebuah sumber beliau ditembak mati oleh Belanda di tengah-tengah Kebun Kopi yang saat ini digunakan sebagai Balai Desa Ngaglik. Namanya kini diabadikan menjadi nama jalan yang membelah atau merupakan batas antara desa Sisir dan desa Ngaglik.

  1. Bedjo

Bedjo adalah nama seorang tokoh pejuang yang gugur bersama delapan orang kawannya di sebuah hutan bambu atau dalam bahasa Jawa lebih sering disebut dengan “barongan” di desa Sisir. Diceritakan bahwa beliau disiksa oleh Belanda hingga usus dan otaknya terburai keluar. Namanya kini menjadi nama jalan di desa Sisir.

  1. Pejuang Lainnya

Selain nama-nama tokoh yang telah disebutkan di atas, ada juga beberapa nama tokoh pejuang yang gugur pada tahun 1948 karena serangan mortar oleh Belanda secara besar-besaran di desa Punten. Para pahlawan tersebut akhirnya juga menjadi nama-nama jalan di Kota Batu, antara lain : Diran, Samadi, Sajid, dan Sudiro.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2016/09/15/sepenggal-kisah-nama-jalan-di-kota-batu/
Comments
Loading...