Sejarah Tugu Kunstkring Paleis Jakarta

0 499

Lokasi Tugu Kunstkring Paleis

Gedung ini terletak di Jalan Teuku Umar No. 1 Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta.

Sejarah Tugu Kunstkring Paleis

Keberadaan gedung Tugu Kunstkring Paleis ini tidak terlepas dari adanya pembangunan perumahan kelas menengah ke atas di kawasan Menteng (sebelumnya dikenal dengan Nieuw Gondangdia) pada era Hindia Belanda. Kisah ini bermula ketika NV De Bouwploeg dipercaya untuk mengerjakan proyek real estate yang pertama di Hindia Belanda. Bouwmaatschappij NV De Bouwploeg yang dipimpin oleh Pieter Adriaan Jacobus (P.A.J.) Moojen adalah instansi penggarap perumahan di Menteng. Moojen merencanakan tata kota serta wilayah yang dibangun dalam pembangunan wilayah Menteng. Wilayah yang pertama kali dibangun adalah gedung kantor NV De Bouwploeg (sekarang menjadi Masjid Cut Meutia), baru disusul pembangunan gedung Bataviasche Kunstkring.

Gedung kuno tersebut mulai dibangun pada 1913, setelah NV De Bouwploeg menghibahkan sebidang tanah yang strategis di Entrée Gondangdia yang baru saja dikembangkan. Lahan tersebut diberikan karena Moojen di samping mengerjakan tugasnya sebagai seorang arsitek maupun planolog, ia juga banyak bergaul dengan seniman dan pecinta seni di Batavia. Bersama-sama kawan-kawanya, pada 1907, dia mendirikan Lingkar Seni Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Kunstkring). Tiga tahun pertama, Moojen menjadi sekretaris perkumpulan tersebut. Empat belas tahun seterusnya, dia menjabat ketua.

P.A.J. Moojen, selain ditunjuk oleh perkumpulan tersebut sebagai ketua sekaligus sebagai arsitek gedung tersebut. Gedung Bataviasche Kunstkring diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Willem Frederik Idenburg pada 17 April 1914. Pada saat peresmian tersebut dibarengi dengan gelaran pameran pertama yang terdiri dari karya-karya pelukis Belanda yang lahir di Hindia Belanda. Ruang-ruang di gedung yang luas juga dipergunakan untuk pertunjukan musik dan ceramah. Buku-buku tentang kesenian dikumpulkan dalam perpustakaan khusus untuk melayani masyarakat yang berminat. Gedung ini lantas menjadi pusat berkumpulnya para pecinta seni amatir, untuk mengadakan pertunjukan musik, belajar seni, memamerkan karya mereka, atau sekadar mencari inspirasi.

Sejarah juga mencatat, bahwa fungsi gedung ini pernah mengalami perubahan. Kunstkring berfungsi sebagai pusat seni berlangsung hingga tahun 1936. Ia sempat digunakan sebagai kantor pusat Madjlis Islam Alaa Indonesia (1942-1945) dan kemudian menjadi Kantor Imigrasi Jakarta Pusat (1950-1997), sebelum kemudian terkena ruilslag lalu berpindah kepemilikan ke tangan swasta. Saat pengalihan status ini, gedung ini sempat terbengkelai dan dijarah, lalu kembali dipugar dan diresmikan pada tahun 2007. Kemudian gedung ini pernah menjadi Budha Bar yang namanya sempat menjadi kontroversi dan diprotes oleh umat Buddha.

Sejak April 2013, bangunan legendaris Bataviasche Kunstkring ini telah dibuka kembali dengan nama Tugu Kunstkring Paleis, dan dibawa kembali ke kehidupan awalnya menjadi gedung seni yang cantik oleh Tugu Hotels & Restaurant Group. Tanpa mengubah keindahan arsitekturnya, pengelola menyegarkan suasana dalam gedung melalui interior klasik yang megah dan mengisinya dengan koleksi karya seni yang indah. Hal ini untuk menciptakan suasana yang selaras dengan tujuan didirikan Tugu Kunstkring Paleis ini, yaitu seni, jiwa, dan romansa Indonesia.

Kini, Tugu Kunstkring Paleis mampu menghadirikan gelaran pameran seni serta acara-acara lain dengan apresiasi yang tinggi terhadap keindahan seni dan sejarah. Gedung ini mampu menyelenggarakan acara dengan kapasitas hingga 1.000 orang yang dilengkapi shop. Tak hanya itu, pengunjung bisa menikmati masakan di restoran yang menempati lounge yang elegan, bread corner maupun tea house.

 

Source Sejarah Tugu Kunstkring Paleis Jakarta Jakarta
Comments
Loading...