Sejarah Toko Merah Glodok

0 146

Toko Merah Glodok

Mengenai asal usul namanya, ada berbagai versi cerita mengenai nama Glodok. Ada yang mengatakan bahwa kata Glodok berasal dari bahasa Sund, ‘Golodok’ yang bermakna pintu masuk rumah. Hal ini berdasarkan dari keberadaan Pelabuhan Sunda Kelapa yang menjadi pintu masuk ke Kerajaan Sunda.

Sementara itu versi yang lain, yang disebutkan dalam buku berjudul ‘Betawi: Queen from The East’ kata ‘Glodok’ berasal dari bunyi air “grojok-grojok”. Sebelumnya, daerah Glodok memang menjadi tempat pemberhentian dan pemberian air minum kuda penarik beban. Air-air tersebut berada dalam bangunan persegi delapan yang berada di tengah-tengah halaman gedung Balai Kota atau yang kala itu disebut dengan Stadhuis. Dari pancuran air tersebut kemudian orang Jakarta mengenal daerah tersebut dengan nama ‘Pancoran’ atau yang juga dikenal dengan nama Glodok Pancoran.

Sampai hari ini pun ada sejumlah gedung peninggalan masa lalu yang bisa Anda saksikan. Salah satunya Toko Merah.

Toko Merah adalah sebuah peninggalan bangunan kolonial Belanda yang terletak di tepi barat Kali Besar, Kota Tua, Jakarta. Lokasi ini merupakan salah satu bangunan tertua di Jakarta. Ciri khas warna merah ini dikenal dengan sebutan Toko Merah di kalangan masyarakat luas.

Toko Merah dibangun pada 1730 oleh Gustaaf Willem baron van Imhoff di atas tanah seluas 2.471 meter persegi. Toko merah merupakan toko milik warga Tionghoa, Oey Liauw Kong, sejak pertengahan abad ke-19.

Nama Toko Merah tersebut juga didasarkan pada warna tembok depan bangunan yang bercat merah hati dan tidak diplester langsung pada permukaan batu bata. Namun ada juga yang mengatakan bahwa nama ‘Toko Merah’ itu diambil setelah peristiwa ‘Geger Pecinan’ yang pada saat itu banyak mayat orang Tionghoa bertebaran di Kali Besar sehingga permukaan air menjadi warna merah.

Di samping itu dalam akta tanah No. 957, No. 958 tanggal 13 Juli 1920 disebutkan bahwa persil-persil tersebut milik NV Bouwmaatschapij “Toko Merah”.

Selain van Imhoff, bangunan ini juga menjadi kediaman beberapa Gubernur-Jenderal seperti Jacob Mossel (1750–1761), Petrus Albertus van der Parra (1761–1775), Reinier de Klerk (1777–1780), Nicolaas Hartingh, dan Baron von Hohendorff.

Pada tahun 1743-1755, Toko Merah dijadikan Kampus dan Asrama Académie de Marine (akademi angkatan laut). Kemudian pada tahun 1786-1808 digunakan untuk Heerenlogement atau hotel para pejabat.

Tahun 1809-1813 seluruh bangunan dijadikan rumah tinggal oleh Anthony Nacare. Kurun waktu 1813-1851 kepemilikan beberapa kali berganti hingga kemudian dimiliki oleh Oey Liauw Kong yang berfungsi sebagai taka, sehingga populer dengan sebutan “Taka Merah”.

Tahun 1920 dibeli dan dipugar oleh NV Bouw Maatschappij “Toko Merah” yang menelan biaya satu juta gulden. Bangunan ini diperbaiki lagi oleh Bank Voor Indie yang kemudian berkantor di Jakarta hingga 1925.

Kemudian ditempati oleh sejumlah Biro dan Kantor Dagang: Algemene Landbouws Syndicaat, De Semarangse Zee en Brandassuransi Mij dan WM Muller. & Co. Pada 1934-1942 menjadi Kantor Pusat N.V. Jacobson vanl den Berg salah satu perusahaan ‘The Big Five’ milik Kolonial Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang menjadi Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, Toko Merah berubah melewati fase-fase perubahan pindah tangan pemilik kantor yang salah satunya adalah PT Satya Niaga pada 1964. Selanjutnya pada 1977 berubah menjadi PT Dharma Niaga (Ltd) dan gedung tersebut tetap digunakan sebagai kantor. Pada 1990-an, Toko Merah dijadikan bangunan cagar budaya berdasarkan UU No. 5 Tahun 1992 dan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tanggal 29 Maret Tahun 1993. Setelah sekian lama terabaikan, Akhirnya Toko Merah direstorasi pada 2012 dan sekarang Toko Merah menjelma menjadi function hall yang dapat dijadikan sebagai tempat konferensi dan pameran.

Source https://lifestyle.okezone.com https://lifestyle.okezone.com/read/2017/02/08/406/1612832/kisah-toko-merah-glodok-jeritan-pilu-pembantaian-perbudakan-zaman-belanda
Comments
Loading...