Sejarah Terminal Sawahan

0 66

Terminal Sawahan

Terminal Sawahan merupakan satu dari tiga terminal bersejarah yang pernah ada di Kota Malang namun kini cuma tinggal kenangan. Dulunya, terminal ini menjadi terminal penghubung Kota Malang dengan kawasan Malang sebelah selatan, dan wilayah Malang sebelah timur. Terminal ini ada setelah Terminal Petjinanstraat di sebelah selatan Pasar Besar dianggap sudah tidak layak lagi dalam menampung jumlah kendaraan dan penumpang sekitar tahun 1950. Terminal ini sendiri selesai dibangun pada tahun 1951.

Lokasi Terminal Sawahan ini sebenarnya cukup strategis, yakni di pojokan pertemuan antara Tonganstraat (sekarang Jalan Yulius Usman) dengan Celebes weg (sekarang Jalan Sulawesi). Jika dilihat, memang tak terlalu luas, tapi bisa menampung beberapa bus berukuran standar dan angkutan kota seperti bemo, dan lain-lain.

Terminal Sawahan melayani penumpang yang mencari bus dengan bermacam rute. Ada bus jurusan Malang ke arah selatan, seperti Malang-Turen-Dampit, Malang-Tulungagung, Malang-Blitar-Trenggalek dan Malang-Lumajang. Ada pula bus yang ke arah Malang utara seperti Malang-Surabaya, dan lain-lain.

Terminal Sawahan sempat berjaya sebagai salah satu denyut nadi perekonomian Kota Malang. Jika ditengok, terdapat Pasar Besar di sebelah timur, Stasiun Jagalan di sebelah selatannya. Kedua tempat itu menjadi lokasi strategis kerumunan orang di mana ada pedagang, pembeli, dan juga pemasok barang hasil pertanian, seperti sayur, dan buah-buahan dari wilayah Malang selatan dan Malang barat. Keramainan di dua tempat itu turut memengaruhi ramainya Terminal Sawahan.

Selain itu, di seberang jalan, tepatnya di sebelah tenggara Terminal Sawahan, juga terdapat deretan lapak pedagang buah. Tak hanya menumpang hidup dari aktivitas terminal, lapak-lapak buah itu juga turut saling menghidupkan perekonomian di sekitar daerah tersebut. Lapak-lapak buah yang kebanyakan menjual apel khas Malang itu menjadi jujugan para penumpang, terutama mereka yang datang dari luar kota. Sementara itu, di sisi selatan terminal ini terdapat warung-warung kaki lima yang menjual aneka pilihan makanan untuk para penumpang. Ada penjual bakso, mie ayam, sate, gule, rawon, dan lain-lain. Ada pula deretan lapak yang menjual cemilan, permen, dan makanan pengganjal perut lainnya di belakang lapak-lapak makanan tadi.

Di depan warung-warung makan tersebut, biasa menjadi lokasi mangkal bus yang bisa disebut terminal bayangan. Mereka menanti penumpang yang malas masuk ke dalam Terminal Sawahan. Di sana banyak berkeliaran para makelar yang berkeliaran mencari calon penumpang. Sering juga terjadi tarik-menarik tangan penumpang yang menjadi rebutan oleh para makelar tersebut.

Sudut terminal di sebelah utara juga menjadi tempat strategis, karena menjadi pemberhentian terakhir bagi para penumpang angkot dari arah kota yang enggan masuk ke dalam Terminal Sawahan. Kebanyakan para penumpang itu beralasan lebih praktis turun di luar, karena sudah ada angkutan penghubung seperti becak, dokar dan bemo yang mangkal di luar terminal.

Kebiasaan tersebut yang akhirnya memaksa terjadinya pemandangan yang tak tertata rapi di Jalan Yulius Usman, terutama di utara Terminal Sawahan. Pintu keluar dan pintu masuk terminal tampak carut-marut dan menyebabkan kemacetan di pertigaan Sawahan. Apalagi ketika jam-jam aktivitas masyarakat saat berangkat dan pulang bekerja, ditambah dengan kegiatan para pedagang di sekitar terminal. Kondisi ini diperparah oleh sempitnya lahan di sekitar terminal, sehingga tak bisa diperluas ke mana-mana lagi.

Tahun 1977 menjadi akhir masa kejayaan Terminal Sawahan, di mana ketika Pemerintah Kota Malang akhirnya memutuskan untuk menon-aktifkan terminal ini. Tugas sebagai terminal pemberhentian terakhir untuk kendaraan umum dari dan ke Malang akhirnya dialihkan ke terminal baru, Terminal Pattimura yang letaknya sekitar dua kilometer di sebelah utara terminal yang lama.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2018/09/14/cerita-terminal-sawahan-kini-menjadi-spbu/
Comments
Loading...