Sejarah Taman Putroe Phang Aceh

0 109

Sejarah Taman Putroe Phang

Taman Putroe Phang (Taman Putri Pahang) dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Sultan Iskandar Muda membangun Taman Putroe Phang untuk Permaisurinya, Putri Pahang. Menurut sejarah, Putri Pahang selalu merasa rindu akan kampung halamannya, Pahang, Malaysia. Sultan yang mengetahui kerinduan permaisurinya kemudian membangun taman sari ini, berbentuk menyerupai bukit-bukit yang terdapat di Pahang. Aslinya Putri Pahang atau dalam bahasa Aceh Putroe Phang bernama Putri Kamaliah. Namun rakyat Aceh memanggilnya dengan sebutan Putroe Phang (Putri Pahang).
Tidak hanya cantik, tapi beliau juga seorang wanita yang cerdas. Beliau adalah penasehat suaminya dalam pemerintahan. Seperti terlihat dalam semboyan yang banyak dikenal dalam kehidupan bermasyarakat. Beliau juga membuat hukum tentang perlindungan anak dan perempuan. Hukum ini kemudian diterjemahkan dan diwujudkan oleh putri beliau, Ratu Safiatuddin sehingga di Aceh Besar dan Aceh Pidie, hukum waris tidak saja berdasarkan pada hukum Islam, tapi juga dipengaruhi oleh hukum adat. Misalnya oleh orang tua, rumah selalu diwariskan pada anak perempuan. Mungkin hal inilah yang menyebabkan munculnya sebutan “Porumoh” (pemilik rumah) untuk istri dalam masyarakat Aceh.
Keindahan dan kemegahan Kesultanan Aceh dapat tergambar dalam uraian naskah Bustan as-Salatin “Syahdan, di darat Balai Keemasan yang memiliki Balee Ceureumeen (Balai Cermin) di istananya yang megah, di dalam istana ada Maligai Mercu Alam, dan Maligai Daulat Khana dan Maligai Cita Keinderaan dan Medan Khayali, dan aliran sungai Dar al-Isyki itu suatu dan terlalu amat luas, kersiknya daripada batu pelinggam, bergelar Medan Khairani yang amat luas. Dan pada sama tengah medan itu Gegunungan Menara Permata, tiangnya dari tembaga, dan atapnya daripada perak seperti sisik rumbia, adalah dalamnya beberapa permata puspa ragam dari Sulaimani dan Yamani”.
Kondisi asli dari komplek istana ini hanya dapat dilacak dari catatan utusan bangsa asing berdasarkan kesaksian utusan Kerajaan Perancis, Komplek Istana Dalam Darud Dunya (istana Kesultanan Aceh) luasnya lebih dari 2 kilometer persegi.
Pintoe Khop yang berukuran 2 x 3 x 3 meter ini dulunya merupakan pintu gerbang yang menghubungkan istana dengan Taman Sari Gunongan (dulu bernama Taman Ghairah). Pintoe Khop ini disebut juga Pintu Biram Indrabangsa yang artinya “pintu mutiara keindraan atau raja-raja”.
Gunongan berarti “gunung kecil” dan merupakan miniatur perbukitan yang mengelilingi kerajaan Putroe Phang di Pahang. Sengaja dibangun sedemikian rupa agar Putroe Phang tidak selalu bersedih karena teringat Kerajaan Pahang.
Hari-hari sang Permaisuri banyak dihabiskan di sekitar Gunongan. Bersama dayang-dayangnya, dia senang memanjati bangunan Gunongan ini. Selain sebagai tempat bercengkerama, juga dijadikan sebagai tempat Putroe Phang berganti pakaian dan mengeringkan rambut usai berenang di kolam pemandian.
Di samping Gunongan, ada sebuah bangunan yang dinamakan Kandang. Bentuknya persegi empat. Ada sebuah pintu masuk seperti pintu pagar besi yang lebih besar daripada pintu masuk ke Gunongan. Dulu, Kandang merupakan tempat jamuan makan Sultan Iskandar Muda dan Putroe Phang bersama orang-orang istana, juga rakyat.
Source https://gpswisataindonesia.wordpress.com https://gpswisataindonesia.wordpress.com/2014/05/05/wisata-sejarah-di-nanggroe-aceh-darussalam-nad/
Comments
Loading...