Sejarah Swalayan Pelita Hidup Mahasiswa di Jalan Gajayana Malang

0 56

Swalayan Pelita Hidup Mahasiswa di Jalan Gajayana Malang

Anda mahasiswa yang pernah atau sedang berkuliah di Perguruan Tinggi di Malang sedikit banyak pasti tahu nama Sardo Swalayan. Banyak yang menjuluki swalayan tersebut sebagai pelita hidup mahasiswa di Malang.

Berdiri kokoh di Jalan Gajayana, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, sejak lama Sardo menjelma sebagai swalawan yang “ramah” bagi para mahasiswa. Apalagi kalau bukan soal harga. Ya, harga barang-barang yang dipajang di etalase swalayan ini tergolong murah ketimbang di swalayan lainnya, seperti Indomaret, Alfamart, dan sejenisnya.

Nama Sardo memang tenar di kalangan mahasiswa, terutama yang berkuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim dan Universitas Brawijaya. Letaknya cukup strategis, lantaran berada di antara menjamurnya rumah kost dan kontrakan untuk para mahasiswa di sekitar kampus.

Akses jalan menuju swalayan yang bangunannya bermodel Eropa kuno ini cukup mudah. Ada lima angkot yang melewati jalan pertigaan depan swalayan tersebut, yaitu AL, GL, LG, JDM, dan TSG.

Bangunan Sardo Swalayan memiliki tiga lantai. Tiap lantainya menyediakan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang berbeda. Jika Anda seorang Maba (Mahasiswa Baru), maka hal pertama yang harus Anda lakukan saat datang ke sini adalah menghafalkan letak barang-barang yang akan dibeli. Swalayan ini buka mulai pukul 08.00 hingga pukul 21.00 WIB.

Dimulai dari lantai satu. Ketika pertama kali kita menginjakkan kaki melalui pintu masuk yang lumayan besar, etalase alat tulis kantor (ATK) atau yang kondang disebut stationary menyambut mata kita. Di sana terdapat buku tulis, binder, isi ulang kertas binder, kertas HVS dan A4, pulpen, pensil, spidol, penggaris, serta perlengkapan menulis lainnya yang biasa dibutuhkan mahasiswa pada umumnya.

Masih di lantai satu, coba bergeser sedikit ke dalam. Di situ Anda akan menemukan bahan-bahan makanan sehari-hari. Mulai dari beras, gula pasir, tepung, kopi instant, susu, kecap dan sambal botolan, mentega, roti, dll. Ini yang paling penting, di sebuah sudut lantai satu terdapat stand makanan favorit anak kost, apalagi kalau bukan mie instant. Dari berbagai macam merk, mau yang goreng atau kuah, sampai yang dibungkus pakai cup juga ada dan siap memanjakan perut anak kost.

Jika sudah puas berada di lantai satu, kita beranjak naik ke lantai dua melalui tangga manual. Ingat, tidak ada lift ataupun eskalator di swalayan ini. Di lantai dua ini khusus menjual pakaian. Mulai dari pakaian pria, wanita, anak-anak, berupa kaus, kemeja, celana kain, jeans, ada di lantai dua ini. Menariknya, harga pakaian di swalayan ini bisa dibilang murah-murah. Anda mau cari kemeja dengan harga di bawah Rp 50 ribu, ada!

Khusus di lantai dua ini disediakan kasir khusus. Jadi, jika Anda membeli barang di sini (berupa pakaian pastinya), wajib membayarnya di kasir tersebut, tanpa harus membawanya ke kasir di lantai satu.

Puas melihat-lihat koleksi pakaian di lantai dua, kita beranjak ke lantai atasnya. Di lantai tiga ini disediakan barang-barang pecah belah, seperti piring, mangkuk, gelas, dan lain-lain. Ada pula alat-alat dapur, seperti pisau, panci, dan lain-lain. Jika Anda membeli barang-barang di lantai ini harus dibawa ke kasir lantai satu, karena di sini tidak ada kasirnya.

Sardo Swalayan ini terletak di Jalan Gajayana yang bisa dibilang selalu padat akan kendaraan. Mengingat parkir gratis yang disediakan tak terlalu luas, lebih baik hindari berbelanja di waktu-waktu ramai, yakni antara sore hingga malam hari. Jika tidak, maka siap-siaplah memarkir kendaraan di parkir-parkir “informal” yang ada di sekitar halaman swalayan ini yang ongkosnya antara Rp 2000 hingga Rp 3000.

Saking tenarnya, swalayan ini hampir tak pernah sepi dari antrian pengunjung yang hendak membayar di kasir di lantai satu. Namun demikian, kadang berbelanja di jam-jam padat pengunjung bisa menjadi pengalaman menarik bagi seorang mahasiswa. Mulai dari sekedar tebar-tebar pesona kepada lawan jenis yang disinyalir juga berstatus mahasiswa, hingga kenalan dengan mbak-mbak yang jaga kasir bisa dilakukan sambil menunggu antrian saat ingin bayar barang belanjaan.

Hal unik lainnya, di Sardo ini tak semua barang ada barcode yang bisa langsung di-scan dengan mesin scanner yang dibawa mbak-mbak penjaga kasir. Ketika ada barang tanpa barcode, si penjaga kasir kadang kembali ke etalase tempat barang tersebut berada untuk melihat harga yang tertera di barang lain yang serupa, atau si kasir bakal mengecek di arsip harga barang di komputernya. Hal ini kadang yang membuat antrian semakin lama.

Meski demikian, hal tersebut tak mengurangi kisah betapa legendarisnya nama Sardo Swalayan di kalangan mahasiswa yang pernah dan atau sedang berkuliah di Malang, terutama yang berkampus di UIN atai UB. Sardo, hingga kini tetap saja menjadi pelita bagi para mahasiswa karena harganya yang sesuai kantong mereka yang kebanyakan berstatus anak kost.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2015/12/03/sardo-swalayan-pelita-hidup-mahasiswa-di-malang/
Comments
Loading...