Sejarah Stasiun Tuban

0 215

Stasiun Tuban

Stasiun Tuban (TN) adalah stasiun kereta api nonaktif kelas I yang berada di Doromukti, Tuban, Tuban. Stasiun yang terletak pada ketinggian +7 meter ini termasuk dalam Wilayah Aset VIII Surabaya.

S.A. Reitsma menyebutkan bahwa stasiun dan jalur kereta apinya merupakan bagian dari program kerja NIS agar masyarakat Tuban dapat menikmati moda kereta api. Oleh karenanya, setelah sukses dengan jalur kereta api Gambringan–Surabaya Pasarturi, dibangunlah jalur-jalur cabangnya, yaitu dari Bojonegoro menuju Jatirogo dan Babat menuju Merak-Oerak (Merakurak). Jalur Merakurak–Babat panjangnya 46 km dan diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1920.

Dahulu, perjalanan kereta apinya diformat dua kali pergi pulang sehari baik dari Babat ke Tuban maupun dari Tuban ke Babat. Awalnya lokomotif yang dijalankan untuk melayani kereta itu menggunakan lokomotif uap. Namun, memasuki tahun 1970-an, peran lokomotif uap digantikan oleh lokomotif diesel hidraulik seperti D300 atau D301. Karena kalah bersaing dengan moda transportasi lainnya dan juga karena prasarana yang sudah tua, maka stasiun dan jalurnya ditutup pada tahun 1990.

Emplasemen stasiun ini sekarang telah menjadi permukiman padat penduduk namun tanahnya masih dikuasai oleh PT KAI. Sedangkan untuk bangunan Stasiun Tuban sendiri disewa untuk dijadikan bengkel las. Stasiun ini juga memiliki subdipo lokomotif yang masih asli sejak zaman Belanda, terletak di timur stasiun setelah melewati perlintasan kereta yang sekarang berlokasi di Gang Ikhlas, Kebonsari, Tuban, Tuban yang sekarang menjadi rumah tinggal. Namun, banyak sarana dan prasarana di subdipo itu yang hilang tak berbekas karena dirobohkan. Stasiun Tuban juga dilengkapi menara air yang dahulu berfungsi mengisi air lokomotif uap.

Dari stasiun ini dulunya terdapat percabangan rel kereta api menuju eks-pabrik pengolahan batu kapur yang bernama Pabrik Kapur Ronggolawe. Sedangkan eks Pabrik Kapur Ronggolawe sendiri telah ditutup oleh Pemerintah Kabupaten Tuban pada kisaran tahun 1989, karena dianggap sebagai salah satu sumber polusi udara dan tidak cocok dengan perkembangan kota. Meski demikian lahan tersebut masih ada dan dikuasai oleh pemerintah kabupaten Tuban yang saat ini digunakan untuk hutan kota.

Pada masanya, dulu di era DKA klasifikasi stasiun ini di golongkan sebagai stasiun kelas IV dibuktikan dengan adanya surat keputusan DDKA No.20493/BB/54. tertanggal 16 Maret 1954.

Dahulu sekali, NIS pernah menyusun masterplan perpanjangan jalur ini sampai ke Lasem, Rembang. Saat itu Stasiun Lasem sudah ada, tinggal pembangunan jalur kereta apinya saja. Konstruksi tubuh baan memang sudah mulai. Namun, begitu sampai Merakurak, rel yang dipasang selalu amblas, sehingga hanya sampai Merakurak. Proyek ini gagal dan akhirnya dinonaktifkan penuh pada masa pendudukan Jepang.

Source https://id.wikipedia.org https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Tuban
Comments
Loading...