Sejarah Stasiun Takalar

0 29

Stasiun Takalar

Stasiun Takalar merupakan stasiun akhir jalur kereta api Makassar-Takalar sepanjang 47 kilometer. Perusahaan milik pemerintah Hindia Belanda, Staatstramweg op Celebes, mengoperasikan kereta api di jalur ini selama delapan tahun, 1922 hingga 1930.

Pada masa Hindia Belanda, jalur kereta Makassar-Takalar memiliki delapan halte (sekarang dikenal sebagai stasiun) dan 12 stopplats (perhentian, sekarang dikenal sebagai halte). Sebagian besar stasiun dan halte ini sudah runtuh. Stasiun Jongaya serta Stasiun Takalar merupakan dua bangunan stasiun lama yang masih terawat. Keduanya menjadi jejak sejarah peradaban di Sulawesi Selatan yang pernah dirambah jasa transportasi massal kereta api.

Kini, pemerintah berusaha menghidupkan kembali perkeretaapian di Sulawesi, yang dimulai dengan proyek Trans-Sulawesi dari Makassar sampai Parepare. Stasiun Takalar berada di kawasan pesisir Cilalang, Desa Takalar. Pada masanya, stasiun ujung, seperti Stasiun Takalar, dilengkapi meja putar lokomotif dan sarana lainnya, seperti dipo untuk perawatan lokomotif ataupun gerbong serta sarana bak penampungan air untuk ketel uap lokomotif. Nurdin (71), warga yang tinggal tak jauh dari bekas Stasiun Takalar, menunjukkan beberapa bekas sarana perkeretaapian tersebut.

Lokasinya terletak di sebelah selatan stasiun, mendekat ke arah pantai. Hampir semua bangunannya sudah rata dengan tanah. Ada sisa bangunan beton berbentuk kotak yang cukup besar. Menurut Nurdin, benda itu adalah bekas bak penampungan air untuk ketel uap lokomotif. Tak jauh dari situ, terdapat bekas bangunan yang menyisakan potongan dinding dan lantai berkeramik yang dahulu sebagai kamar mandi. Di sebelahnya, Nurdin menunjukkan bekas bangunan sarana meja putar lokomotif. Hanya tersisa bagian as atau poros meja putar lokomotif dari beton.

Pada sebelah timurnya terdapat bekas bangunan penjara yang berukuran cukup besar. Bangunan ini merupakan cagar budaya yang dilindungi pemerintah. ”Pada masa kecil, saya tinggal di daerah ini. Bangunan penjara sudah ada sejak lama,” ujar Darmawan Denassadi, pemilik tempat pendidikan konservasi Rumah Hijau Denassa, di Kelurahan Tamallayang dan Desa Bontolangkasa, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulsel. Ia turut terlibat dalam kegiatan Susur Rel Kompas jalur Makassar-Takalar. Menurut Denassa, pembuatan jalur kereta api hingga Stasiun Takalar yang tidak jauh dari bangunan penjara mungkin memiliki maksud dan tujuan tertentu.

”Bisa saja penjara itu masih berfungsi saat kereta api dari Makassar ke Takalar dioperasikan. Kita masih membutuhkan banyak penelitian sejarah mengenai hal ini,” ucapnya. Denassa mempekerjakan warga setempat, Cindo Tata, berusia sekitar 80 tahun, di Rumah Hijau Denassa. Cindo menceritakan pengalaman ibunya naik kereta api dari Stopplats Rappokaleleng di Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa. ”Saat itu, ibu bercerita, naik kereta api ke Kota Makassar untuk bekerja memasak bagi orang Belanda di sana,” ujarnya.

Source https://travel.kompas.com https://travel.kompas.com/read/2016/12/09/104200327/stasiun.takalar.kokoh.berdiri?page=all
Comments
Loading...