Sejarah Stasiun Demak

0 37

Stasiun Demak

Demak ini dulunya merupakan stasiun kereta api besar yang melayani kereta api lokal antarkota. Stasiun ini dibangun tahun 1885 oleh pemerintahan Hindia Belanda dan dikelola oleh perusahaan swasta Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij.

Pada masa kemerdekaan tahun 1945 semua aset kereta api miliki Hindia Belanda kemudian diambil alih oleh Indonesia. Tetapi jalur dan stasiun ini ditutup pada tahun 1980-an karena saat itu rel kereta berada di pinggir jalan.

Stasiun ini dulunya terdapat percabangan menuju Blora yang melalui Purwodadi dan Wirosari. Namun, kini stasiun Demak hanyalah sebuah bangunan tua dan usang serta ditempati oleh warga sekitar baik untuk tempat tinggal maupun usaha salah satunya adalah kafe.

Kafe tersebut menggunakan bagian depan bangunan stasiun dan didepannya dibangun pagar yang berupa candi-candi sehingga terlihat seperti Pura dari kejauhan. Tetapi bagian belakang stasiun ini justru tak terawat bahkan ditumbuhi ilalang.

Sebelum menjadi sebuah kafe, stasiun ini sempat menjadi kantor DLLAJ dan menjadi gudang garam. Tampak terlihat kerapuhan bangunan tersebut karena terkena garam dan usia bangunan yang terbilang tua.

Di bagian depan stasiun ini berganti nama menjadi stasiun Angkasa yang tertera di bagian atas bangunan. Depan kafe tersebut juga masih terlihat rel kereta api yang digunakan pada jalur tersebut ketika beroperasi.

Tak hanya itu bekas loket kereta dan beberapa peninggalan sisa-sisa stasiun masih terlihat di kafe tersebut. Dari kabar yang tersiar, stasiun Demak yang kini menjadi kafe tersebut akan kembali dihidupkan untuk jalur kereta api Demak-Pati-Rembang. Kereta ini merupakan jalur kereta Pantura dari Demak, Kudus, Pati dan Purwodadi. Namun, hingga kini setelah tinjauan Dirut KAI Edi Sukmoro pada Maret 2015 lalu belum ada progres tentang pembukaan kembali jalur kereta Pantura tersebut.

Source https://www.kabarpenumpang.com https://www.kabarpenumpang.com/jalur-mau-dihidupkan-stasiun-demak-justru-sudah-menjadi-kafe/
Comments
Loading...