Sejarah Stasiun Cikajang

0 99

Stasiun Cikajang

Stasiun Cikajang, Garut, tercatat sebagai stasiun kereta api paling tinggi di Indonesia, yakni berada di ketinggian 1.530 m di atas permukaan laut. Stasiun ini dibangun pada 1926, sebelum kemudian dinonaktifkan pada tahun 1983, karena rusaknya jalur kereta dan penurunan jumlah penumpang. Stasiun Cikajang memiliki tiga jalur, jalur 1 merupakan sepur badug, jalur 2 merupakan sepur belok yang ujungnya memiliki banyak percabangan yang mengarah ke pabrik, serta jalur 3 yang merupakan sepur lurus. Stasiun yang merupakan stasiun ujung ini dikelilingi pegunungan.

Karena itu tidak heran bila hawa di sini sangat sejuk. Menurut Mang Irin, pria tua yang sempat menjadi juru wessel stasiun Bayongbong, pada masanya Cikajang tergolong stasiun yang sangat ramai. Sejak dibuka tahun 1926 dan ditutup tahun 1983, jalur kereta ini telah menjadi tulang punggung transportasi di dataran tinggi Garut. Para petani banyak menggunakan kereta api di jalur ini untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan mereka dan mengangkut hasil bumi. Masih menurut Mang Irin, meski jalur keretanya sudah ditutup, dan stasiun berhenti beroperasi, pada awal-awal penutupan, banyak teman Mang Irin yang tetap melaksanakan tugas masing-masing.

Mereka merawat semua peralatan operasional kereta. Tampak bahwa yang dilakukan Mang Irin dan teman-temannya saat itu adalah sebuah darma yang didorong oleh kesetiaan dan kecintaan pada dunia kereta. Meski stasiunnya sudah tidak beroperasi lagi, mereka semua merasa memiliki dan menjadi bagian dari stasiun. Namun seiring waktu dan kematian satu persatu para karyawan Kereta Api tersebut akibat usia tua, stasiun-stasiun yang tak lagi digunakan itu pun terbengkalai. Termasuk Stasiun Cikajang. SONY DSC Beberapa waktu lalu Stasiun Cikajang kembali didatangi lokomotif, meski sementara. Saat ini kondisi bangunan stasiun sudah rusak karena lama tidak dipakai. Yang kian menguatirkan, tembok-tembok pun sudah mulai terkelupas dan rusak. Bagian atap juga sudah bolong-bolong.

Di bagian tembok belakang sudah menempel tembok sebuah bangunan baru. Di bagian atas satu sisi bangunan masih dapat terbaca tulisan ‘Cikajang’. Jalur-jalur rel di depan stasiun pun sudah banyak yang terkubur tanah. Kadang beberapa jalur tersingkap di atas tanah. Sekitar 15-20 meter di depan rel ada sebuah jalur rel yang walaupun samar masih dapat ditelusuri arahnya, menuju ke arah kampong Cikajang.

Di ujung rel yang terdapat di tengah kampung ada sebuah sisa bak besar yang sudah dipenuhi oleh sampah. Menurut warga lokasi itu memang sudah menjadi Tempat Penimbunan Sampah (TPS). Beberapa tahun lalu, sebuah koran sempat menulis profil Undang, yang pada era 1950-an hingga sekitar 1972 menjadi juru langsir lokomotif di Stasiun Cikajang.

Kegagalan dia mengikuti ujian menjadi pegawai tetap pada perusahaan pengelola kereta api pada 1972 tidak menyurutkan semangat hidupnya. Stasiun Cikajang merupakan stasiun ujung dari lintasan cabang Stasiun Cibatu,yang melewati Stasiun Garut sepanjang sekitar 47 kilometer. Dari informasi tertulis yang ada di Stasiun Cipeundeuy di lintasan Kiaracondong-Banjar, lintasan Garut-Cikajang disebutkan ,”Sementara ditutup mulai bulan November 1982.” Rupanya tidak hanya lintasan Garut-Cikajang yang disebutkan “sementara ditutup”,tetapi informasi lainnya menyebutkan ada juga lintasan lain yang “sementara ditutup”.

Undang tidak bisa memastikan penyebab ditutupnya layanan angkutan transportasi massal kereta api tersebut. Dia hanya menyebutkan , masa-masa akhir operasional kereta api di daerah itu terjadi ,antara lain, karena kekurangan bahan bakar batu bara untuk lokomotif. Undang kemudian menjalani hidup sebagai kuli,selepas dinyatakan tidak diterima sebagai pegawai resmi perusahaan pengelola kereta api, yang sejak 15 september 1971 menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJ-KA). Nama sebelumnya adalah Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI).

Meski tidak lagi menjadi juru langsir, perhatian Undang pada perkeretaapian tidak menyurut. “Saya sekarang mencari nafkah menjadi tukang becak,” kata Undang, yang saat berita itu ditulis sudah berusia 82 tahun. Meski setua itu, tubuhnya masih tegap dan ia pun merasa sehat. Undang yang lahir pada 1932 itu bisa dikatakan saksi hidup denyut nadi perkeretaapian di Stasiun Cikajang. Stasiun ini beroperasi sejak 30 Agustus 1930. Kereta api selain berfungsi untuk mengangkut penumpang juga digunakan untuk mengangkut berbagai komoditas yang dihasilkan Garut. Di masa revolusi kemerdekaan Stasiun Cikajang pernah dibom. Undang mengenang, selama menjalankan pekerjaan juru langsir selama lebih dari 20 tahun, dia diberi upah sekitar 120 kilogram beras per bulan.

Source https://sportourism.id https://sportourism.id/explore/stasiun-cikajang-stasiun-tertinggi-yang-bernasib-malang
Comments
Loading...