Sejarah SMP BOPKRI I Yogyakarta

0 36

Sejarah SMP BOPKRI I Yogyakarta

Sejarah perkembangan pendidikan modern di Indonesia tidak terlepas dari Politik Etis yang diterapkan Belanda, dengan Trilogi Van Deventer yaitu pendidikan, imigrasi dan pengairan. Dengan Trilogi Van Deventer inilah pemerintah Belanda dituntut memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia yang telah memberi kekayaan kepada negeri Belanda. Dalam bidang pendidikan, pemerintah Belanda menjalankan “politik pemisahan” (segregation), yaitu politik diskriminasi ras menjadi tiga golongan : Belanda, Timur Asing (Cina), dan Pribumi. Pada awalnya persoalan pendidikan rakyat pribumi (inlandsche bevolking) kurang diperhatikan oleh pemerintah kolonial Belanda, termasuk pendidikan orang Cina di Indonesia. Keadaan sosial yang miskin dan belum mapan di perantauan menjadi alasan utama mereka dalam memikirkan pendidikan anak-anaknya.

Kalaupun ada orang Cina yang menyekolahkan anak-anaknya, jumlahnya sangat kecil dan terbatas pada mereka yang mampu. Sebelum abad ke-20, model pendidikan Cina di Indonesia adalah pendidikan tradisional, yaitu suatu sistem pendidikan yang diberikan oleh generasi tua pada generasi muda berdasarkan pengalaman nenek moyangnya. Dengan keluarnya Undang-Undang tahun 1854, anak-anak Cina diberi kesempatan memasuki sekolah-sekolah Belanda seperti halnya anak pribumi. Mereka belajar di sekolah-sekolah Kristen Belanda. Penyelenggaraan sekolah Kristen di Indonesia bersamaan dengan kegiatan penyebaran agama Kristen.

Usaha tersebut pertama kali dilakukan oleh Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) sebagai sarana penghapus pengaruh Katolik di wilayah Indonesia pada waktu itu. Zaman pemerintahan Belanda penyelenggaraan sekolah Kristen dilakukan oleh misi Zending sebagai salah satu sarana kegiatan mereka menyebarkan agama Kristen di seluruh wilayah Indonesia. Pada masa itu di Yogyakarta terdapat dua lembaga yang mengusahakan pendidikan Kristen bagi warga masyarakat , yaitu Zending Gereeformerde Kerken (ZGK) dan Vereeniging Scholen met den Bijbel.

Zending Gereeformerde Kerken (ZGK) mendirikan sekolah-sekolah Zending, sedangkan Vereeniging Scholen met den Bijbel menyelenggarakan sekolah- sekolah dengan pengantar bahasa Belanda, yaitu : HJS (Hollandsch Javaansche School), ELS (Europesche Lagere School), HCS (Hollandsch Chineesche School) dan MCS (Malaische Chineesche School). Sekolah HCS (Hollandsch Chineesche School) pertama kali didirikan di Jakarta tahun 1908 sebagai tindak lanjut dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam memajukan pendidikan anak-anak Cina di Indonesia dan melawan nasionalisme Cina . Di Yogyakarta, sekolah HCS pertama kali didirikan pemerintah Belanda di kampung Gandekan pada tahun 1912 (sekarang SMP 3 Yogyakarta).

HCS lebih menarik minat bagi orang Cina karena dengan pengantar bahasa Belanda, lulusannya akan mudah mendapatkan pekerjaan maupun kehidupan yang layak. Di Yogyakarta terdapat empat buah sekolah HCS, yaitu : HCS Gubernemen di Gandekan, HCS Zending Protestan di kampung Gemblakan tahun 1917, HCS Nasional atau HCS Mayor Yap Hong Sing didirikan tahun 1921, dan HCS Katolik yang didirikan tahun 1934. Syarat masuk HCS bagi anak Cina lebih lunak yaitu usia maksimum 7 tahun dan penguasaan bahasa Belanda tidak diberlakukan dengan ketat.

Biaya pendidikan di HCS disesuaikan dengan penghasilan orang tua siswa. Pada tahun 1942, Jepang mendarat di Jawa dan menggantikan kekuasaan pemerintah Belanda. Jepang menerapkan beberapa kebijakan terhadap orang-orang Cina di Indonesia seperti menghidupkan kembali budaya Cina dan mendirikan organisasi orang Cina yang dikenal dengan nama Hoa Chiao Chung Hui (HCCH). Di Yogyakarta, HCCH didirikan tanggal 7 Juli 1942 dan diresmikan Jepang pada 5 Oktober 1942. Seiring dengan kedatangan Jepang, semua sekolah ditutup termasuk sekolah Cina.

Namun, atas bantuan Woo Sung dan Kwik Sie Liong, akhirnya dengan izin dari Jepang maka sekolah Cina di Yogyakarta dibuka kembali tanggal 7 September 1942. Jumlah sekolah Cina di Yogyakarta pada tahun 1942-1945 ada 6 buah sekolah, yaitu di Poncowinatan, Dagen, Gemblakan, Ketandan, Wates dan Wonosari. Sekolah Cina di Gemblakan dikenal dengan nama “sekolah nomor tiga” (ti san siauw). Pada masa perang kemerdekaan umat Kristen tidak mau ketinggalan. Mereka turut berjuang dalam mengisi kemerdekaan. Hal ini ditunjukkan dengan didirikannya Partai Kristen Indonesia (Partindo)pada tanggal 10 November 1945.

Dalam kongresnya yang pertama di Surakarta diputuskan untuk mendirikan lembaga pendidikan dengan nama Badan Oesaha Pendidikan Kristen Indonesia (BOPKRI). BOPKRI didirikan pada 18 Desember 1945 di Yogyakarta. Yayasan BOPKRI bertujuan memajukan pendidikan masyarakat Kristen khususnya di wilayah Yogyakarta. Pada pertengahan tahun 1946, BOPKRI mendirikan sekolah setingkat SMA sebanyak 2 buah (SMA I dan SMA II), yang keduanya menempati gedung sekolah Cina (HCS) di Gemblakan. Dalam tahun 1949, bangunan tersebut dialih fungsikan menjadi gedung SMP BOPKRI. Akhirnya, pada tahun 1952, gedung tersebut menjadi gedung SMP BOPKRI I Yogyakarta sampai sekarang.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/tinjauan-sejarah-smp-bopkri-i-yogyakarta/
Comments
Loading...