Sejarah SMP 8 Yogyakarta

0 59

Sejarah SMP 8 Yogyakarta

Salah satu bagian yang cukup penting dari kebijaksanaan Politik Etis adalah bidang pendidikan. Kebijaksanaan dalam bidang pendidikan bukan hanya suatu bagian dari politik kolonial, akan tetapi menurut Brugmans merupakan inti politik kolonial. Munculnya Politik Etis membawa perkembangan pendidikan yang cukup pesat di seluruh wilayah Hindia Belanda termasuk Surakarta. Dalam pelaksanaan Politik Etis memang banyak penyelewengannya, namun demikian bukan berarti tidak berdampak positif. Politik Etis telah mendorong perubahan sosial dikalangan penduduk pribumi.

Hal itu disebabkan banyak penduduk Bumiputera yang kemudian mengenyam pendidikan Barat sebagai suatu cara untuk merubah pemikiran yang tradisional. Pendidikan dianggap sebagai alat penyeleksi dan latihan seseorang untuk memperoleh jabatan dalam masyarakat, seperti halnya di Jawa yang merupakan pusat kekuasaan kolonial. Sistem pendidikan di Jawa menunjukkan bahwa pendidikan menjadi kriteria yang lazim untuk pengangkatan pegawai pada berbagai dinas, baik pada lembaga pemerintah maupun pada perusahaan-perusahaan individual.

Sejarah perkembangan pendidikan modern di Indonesia tidak terlepas dari Politik Etis yang diterapkan Belanda, dengan Trilogi Van Deventer yaitu pendidikan, imigrasi dan pengairan. Dengan Trilogi Van Deventer inilah pemerintah Belanda dituntut memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia yang telah memberi kekayaan kepada negeri Belanda. Dalam bidang pendidikan, pemerintah Belanda menjalankan “politik pemisahan” (segregation), yaitu politik diskriminasi ras menjadi tiga golongan : Belanda, Timur Asing (Cina), dan Pribumi. Pada awalnya persoalan pendidikan rakyat pribumi (inlandsche bevolking) kurang diperhatikan oleh pemerintah kolonial Belanda, termasuk pendidikan orang pribumi di Indonesia.

Pada awalnya gedung SMP 8 Yogyakarta merupakan gedung Neutraale MULO ( sekolah setingkat SMP dengan pengantar bahasa Belanda), yang terletak di jalan Jati No. 2 Yogyakarta (sekarang Jl Prof DR. Kahar Muzakkir). Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya 1 April 1943, gedung ini dipergunakan sebagai tempat pendidikan SGP (Sekolah Guru Putri) atau SGB II dibawah pimpinan Sri Umiyati, adik Dr. Sutomo (pendiri Budi Utomo). Terjadinya Clash II dan kota Yogyakarta diduduki Belanda, maka SGP mulai tanggal 18 Desember 1948 sampai 29 Juni 1949 ditutup dan dibuka kembali tanggal 8 Agustus 1949. Gedung ini pernah digunakan untuk pertemuan Jenderal Soedirman pada perang mempertahankan kemerdekaan. Di ruang aula pernah dipakai sebagai tempat pelantikan Jenderal Soedirman. Dalam perkembangannya bangunan ini digunakan untuk SMP 7 Yogyakarta dan akhirnya digunakan sebagai gedung SMP 8 Yogyakarta sampai sekarang.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/sejarah-smp-8-yogyakarta/
Comments
Loading...