Sejarah SMA Negeri 9 Malang, Adik Angkat Sabhatansa

0 180

Sejarah SMA Negeri 9 Malang, Adik Angkat Sabhatansa

Ternyata, sekolah yang berada di Jalan Puncak Borobudur No. 1, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ini bisa dibilang sebagai ‘adik angkat’ Sabhatansa alias SMA Negeri 7 Malang.

Sebutan ‘adik angkat’ itu tak lepas dari keberadaan seseorang bernama M Kamilun Muhtadin, yang ketika itu menjabat sebagai Kepala SMAN 7 Malang. Sejak bulan Agustus hingga September 1992, ia harus bolak-balik dari Malang ke Surabaya, tepatnya ke Kanwil Depdikbud (sekarang Dinas Pendidikan Nasional) Provinsi Jawa Timur) untuk kepentingan membahas pendirian Sekolah Menengah Atas baru di Malang, yaitu SMAN 9 Malang.

Dalam sejarah SMA Negeri 9 Malang, sekolah itu sudah direncanakan akan dibangun di kawasan Jalan Soekarno-Hatta di bagian paling utara (saat ini masuk Jalan Puncak Borobudur). Kebetulan, di tahun 1990-an ke atas, kawasan itu jalannya masih belum diaspal, sehingga ketika terjadi hujan maka lumpur memenuhi jalanan, sedangkan di musim kemarau debu pun beterbangan. Selain akan dibangun SMA negeri baru, di kawasan tersebut juga tengah berlangsung pembangunan hunian perumahan.

Akhirnya, pada bulan Desember 1992, proses perencanaan yang lebih matang terkait pembangunan SMAN 9 Malang dimulai oleh Tim Kanwil bersama pemborong yang sudah disetujui. Ada pula perwakilan dari Kantor Depdikbud Kota Malang (sekarang Dinas Pendidikan Kota Malang) bersama Kepala SMAN 7 Malang, M Kamilun yang turut terlibat di dalamnya.

Tak butuh waktu lama, pada bulan Januari 1993, proses pembangunan sekolah baru ini pun bisa dimulai di atas sebidang tanah yang luasnya 8.880 m2. Pembangunannya hanya butuh waktu sekitar empat bulan saja, sehingga Mei 1993 sudah bisa ditempati. Awal mula berdirinya SMA berjuluk Smanawa ini terdiri dari enam ruang kelas, dua ruang kamar kecil untuk siswa dan satu ruang kamar kecil untuk guru, satu ruang kepala sekolah, satu ruang guru, satu ruang Tata Usaha, satu ruang Bimbingan Konseling dan satu ruang UKS. Ruangan-ruangan itu masih tampak cukup sederhana, dan bisa dibilang belum sempurna lantaran jendelanya belum diberi kaca. Pagar sekolah pun saat itu belum ada.

Seiring dengan diselesaikannya bangunan sekolah, meski sarana prasarana dan fasilitasnya masih belum memadai, PLT Kepala Sekolah yang saat itu dijabat oleh M Kamilun, mengadakan penerimaan guru yang siap mengabdikan dirinya di sekolah baru tersebut. Kendati proses rekrutmennya berjalan cukup singkat, SMA Negeri 9 Malang akhirnya memiliki 12 orang guru yang siap mengajar siswa angkatan perintis mulai tahun ajaran 1993-1994. Mereka adalah Dra. Darwiyanti, Dra. Qomariah, Eny Suhartini, Drs. Buadi, Dra. SH Retno, Drs. Bambang Sudrajat, Drs. M Ischaq, Drs. Imam Asengat, Dra. Heri Sujatmi, Drs. Kusuma Hadi, dan Diah Kismonowati. Selain itu, ada dua pegawai berstatus PNS, yaitu Yasin yang lama mengabdi di SMAN 8 Malang, yang kemudian ditetapkan sebagai Kepala TU, dan Azis sebagai stafnya. Ada pula Pegawai Tidak Tetap bernama Utami Sunarsih yang masih setia mengabdi hingga kini.

Mereka tetap semangat meski dalam kondisi yang serba terbatas dalam hal belajar mengajar. Mirisnya, kala itu belum ada bantuan sama sekali dari Depdikbud Provinsi Jawa Timur maupun Kandepdikbud Kota Malang. Akhirnya, berdasar persetujuan dari Kanwil, sekolah dapat meminjam dana SPP para siswa lebih dahulu, yang ketika itu berkisar antara 1.500 hingga 2.000 rupiah per anak. Uang itu kemudian dipakai untuk pengadaan ATK, bantuan pelaksanaan pendidikan belajar mengajar. Dalam hal ini, SMAN 7 Malang sebagai ‘kakak angkat’ pun berperan penting, termasuk membantu buku pegangan guru dan pengadaan bahan ajar. Uang SPP siswa tersebut sebagian kecil juga digunakan untuk membantu transportasi guru, karena di masa itu belum ada angkutan kota yang menjangkau lokasi SMAN 9 Malang. Honor Pegawai Tidak Tetap pun diambilkan dari uang SPP tersebut.

Ketika tahun ajaran baru 1993-1994 dimulai, SMAN Negeri 9 Malang menerima enam rombongan belajar (kelas) dengan total 252 siswa. Menariknya, lantaran belum ada kakak kelas atau senior, proses MOS (Masa Orientasi Siswa) SMAN 9 Malang pun ‘numpang’ di ‘kakak angkat’-nya, SMAN 7 Malang.

Pada awal Agustus 1993, akhirnya pihak SMAN 9 Malang mengajukan permohonan kepada Dirjen Dikdasmen Depdikbud RI, Prof. Dr. Arifin Ahmady yang merupakan mantan Rektor Universitas Brawijaya Malang untuk berkenan meresmikan SMAN 9 Malang. Saat itu pihak sekolah menyepakati tanggal 14 Agustus yang bertepatan dengan hari jadi Pramuka sebagai hari baik untuk peresmian SMAN 9 Malang secara formal. Karena Dirjen Dikdasmen Depdikbud RI harus mendampingi Mendikbud dan Presiden pada HUT Pramuka di Istora Senayan, sementara acara peresmian tidak bisa diundur, maka hadirlah Arifin Ahmady sebagai perwakilan dari Dirjen Dikdasmen Depdikbud RI.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2017/11/21/sejarah-sma-negeri-9-malang-adik-angkat-sabhatansa/
Comments
Loading...