Sejarah SLB/B Karya Bakti Wonosobo

0 69

Sejarah SLB/B Karya Bakti Wonosobo

Pada tahun 1936 para suster Putri Maria dan Yosef (suster PMY) telah membuka sekolah LPATR Dena Upakara di jalan Mangli Wonosobo. Pada awalnya mereka mengajar putra-putri. Baru berjalan selama 2 tahun, usaha mulia itu terganggu perang dunia II dengan segala akibatnya. Setelah situasi kembali lebih kondusif, para suster kembali membuka pintu sekolah dan mengajar untuk bekerjasama, dengan Bruder Karitas agar para Bruder Karitas mau mendirikan sekolah untuk anak tunarungu, karena sangat dibutuhkan tenaga untuk putra. Permohonan itu menjadi realita pada tahun 1955.

Pada tahun 1953 Tarekat/Kongregasi Bruder Karitas (FC) mengambil keputusan untuk membuka lembaga anak tuli bagian putra di Wonosobo, yang berada tidak jauh dari LPATR Dena Upakara, yang sekarang khusus mendidik anak-anak tuna rungu putri. Sarana dan prasarana untuk lembaga ini dipersiapkan di Wonosobo. Pada tanggal 8 Desember 1955 para Bruder Karitas membuka lembaga ini dan untuk memulai berkarya.

Pada bulan pertama setelah kedatangan mereka, para bruder mempersiapkan gedung dan sarana lainnya sehingga bisa digunakan, yaitu : Satu ruangan untuk Bruder, sedangkan kamar tidur mereka di kantor dan asrama. Mereka juga mempersiapkan kamar tidur, kamar makan, kamar mandi, kamar pengasuh, kamar sakit, dapur dan enam ruang kelas dan kantor sekolah. Setelah semua disiapkan, pada tanggal 8 Januari 1956, tiga puluh enam anak putra pindah dari LPATR Dena Upakara ke LPATR Don Bosco. Satu hari kemudian, Senin, 9 Januari 1959 pintu-pintu sekolah dibuka untuk pertama kali dengan kegiatan belajar mengajar dimulai.

Perkembangan selanjutnya berkat kasih karunia Tuhan Yang Maha Esa, tahun demi tahun jumlah murid, pendidik, dan karyawan lainnya bertambah banyak sehingga bangunan perlu diperluas, baik untuk keperluan sekolah dan asrama maupun untuk kantor, kamar tamu, ruang pendidik dan juga untuk para bruder.

Pada bulan Juni 1960 murid-murid pertama menamatkan tingkat dasar. Berdasarkan pendapat para staf pendidik bahwa pendidikan tidak cukup kalau hanya bisa membaca, berhitung dan menulis, maka sekolah diperluas dengan bagian teknik. Tujuannya agar siswa dibekali ketrampilan untuk masa yang akan datang/masa depan. Maka bulan Agustus 1960 Sekolah Teknik Luar Biasa (STLB) dibuka dan siswa–siswa mengikuti pendidikan di bagian sepatu dan tenun. Bagi siswa yang ingin menjadi penjahit mengikuti pelajaran dikota.

Source https://budipradana24.wordpress.com https://budipradana24.wordpress.com/sejarah/
Comments
Loading...