Sejarah Singkat Desa Pangeragoan

0 31

Sejarah Singkat Desa Pangeragoan

Desa Pangeragoan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daerah landai, yaitu sekitar 300 – 400 meter di atas permukaan air laut.

Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Pangeragoan tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 4.151 orang dengan jumlah 953 KK dengan luas wilayah 2.620,58 hektar. Desa Pangeragoan terdiri atas lima banjar, yaitu Banjar Dinas Pangeragoan Dangin Tukad, Banjar Dinas Pangeragoan Dauh Tukad, Banjar Dinas Badingkayu, Banjar Dinas Mengenuanyar, dan Banjar Dinas Pasut. Sebagian besar penduduknya adalah petani, pedagang, karyawan swasta, PNS, sopir, dan wiraswasta.

Secara administratif, Desa Pangeragoan dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Tista, Kabupaten Buleleng. Di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Gumbrih/Desa Gumbrih. Di sisi selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Sungai Yeh Leh.

Dalam Profil Desa Pangeragoan diceriterakan bahwa pada tahun 1919 para orang tua (pengelingsir) dari Desa Pangkung tibah Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, pindah tempat dengan berjalan kaki melalui pantai ke arah barat yang jaraknya lebih kurang 50 kilometer yang dipimpin oleh seorang bernama Pan Biring, Tujuannya untuk mencari tempat untuk lahan pertanian, dan sekaligus membangun desa, yang sudah jelas untuk meningkatkan kesejahteraan anggota keluarganya .

Sesudah berjalan beberapa hari lamanya, tibalah di sebuah muara sungai kecil di tepi pantai. Lalu orang tua itu menghentikan perjalanan, dan keesokan harinya masuk ke dalam kawasan untuk memeriksa apakah cocok tempat itu dibuka untuk dijadikan lahan, maka mulailah membuat tempat tinggal bersama (bangsal) saat itu kebetulan semua rombongan itu menganut agama Hindu , maka dibuatlah purus lumbung, untuk tempat memohon keselamatan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, yang tujuannya adalah semoga selamat semua dalam membuka lahan pertanian yang dimaksud. Turus lumbung tersebut diganti dibangunlah Pura Kawitan yang namanya Pura Segara. Sampai saat ini pura itu masih ada di sebelah selatan sungai Pengeragoan.

Setelah dibangun turus lumbung, barulah kemudian mulai bekerja membuka lahan secara gotong- royong setelah mendapat izin dari Pemerintah Belanda. Tidak terhitung beberapa lama ketua bertempat di sana, maka ada keinginan ketua membuat nama untuk tempat itu dan diadakan rembug bersama semua yang ada akhirnya ada kesimpulan nama yang dipakai adalah nama udang kecil “geraga” yang banyak terdapat di sungai sekitar daerah itu, sehingga suatu ketika geraga itu tidak habis untuk dimakan oleh masyarakat kala itu. Geraga berasal dari kata ngeraga dan geraga, yaitu gumi pangeragoan, yang sekarang menjadi Desa Pangeragoan.

Source http://kekunaan.blogspot.com http://kekunaan.blogspot.com/2014/02/sejarah-singkat-desa-pangeragoan.html
Comments
Loading...