Sejarah Sendang Jatiningsih

0 93

Sendang Jatiningsih

Sendang Jatiningsih merupakan tempat ziarah bagi warga Katholik selain Sendangsono namun keberadaannya hampir sama yakni tempat ziarah berupa Goa Maria. Letak dari Sendang Jatiningsih sendiri tidak jauh dari Sendangsono namun sudah berada di Kabupaten lain yakni berada diKabupaten Sleman. Tepatnya berada di dusun Jitar, desa Sumber Arum, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kisah panjang terbentuknya tempat ini berawal dari sejarah perkembangan Gereja Katolik di Kawasan ini pada tahun 1952. Keberadaan masyarakat dusun Jitar yang terletak kurang lebih 18 km arah barat Tugu Yogyakarta ini belum mengenal agama yakni masih percaya dengan hal hal yang mistis dan kejawen. Namun karena putera puteri mereka yang memeluk agama Katolik berhasil dalam pendidikan maupun usahanya maka mulailah warga tertarik untuk memeluk agam katolik tersebut. Hingga akhirnya ada seorang yang memutuskan untuk dibaptis pada tahun 1952 Yakni FX. Dikin, yang akhirnya setahun kemudian diikuti oleh beberapa penduduk yang lain. Dari situlah hingga pemeluk agama Katolik semakin banyak dan pada setiap malam jumat mereka mengadakan ibadah, selain itu mereka juga berlatih kesenian berupa kethoprak, karawitan serta selawatan. HalSalib, Jatiningsih tersebut menggerakkan Ignatius Purwidono menghibahkan tanah tepat di pinggir sungai progo sebagai tempat ibadah seluas 800 meter persegi. Dengan pembiayaan secara swadaya dari masyarakat setempat akhirnya dibangunlah tempat ibadat tersebut.

Untuk pembangunan Goa maria sendiri dibuat dari batu putih yang diambil dari bebatuan di Gunung kidul sedangkan patung Bunda Maria dibuat oleh pematung asal Muntilan dengan tinggi 165 cm. Kemudian patung tersebut ditahtakan pada 15 Agustus 1986 dan di berkati oleh JB Mardi Kartono, SJ pada 8 September 1986. Lama kelamaan sendang ini dikenal oleh masyarakat luas dan akhirnya tempat ini bukan hanya untuk ibadah bagai warga Jitar sendiri tapi sudah merupakan tempat berziarah bagi umat Katholik. Pada tahun 1999 dilakukan renovasi, dan setelah selesai dilakukan pemberkatan atas renovasi tersebut yang bertepatan dengan misa penutupan tahun yubellium agung 2000 pada tanggal 17 jatiningsihDesember 2000 yang dilakukan oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Dr. Ig. Suharyo Pr.

Komplek Goa Maria Jatiningsih yang berada tepat dipinggir sungai progo menambah kekhusukan kita dalam memanjatkan doa. Hanya terdengar gemericik air sungai serta gemerisik daun daun jati kering yang tertiup angin menambah keselarasan dengan alam yang masih alami dan hal ini dapat membuat anda menemukan ketenangan jiwa dan raga. Seperti halnya arti dari Sendang Jatiningsih sendiri yang berarti sumber air dari rahmat Tuhan yang mendatangkan kedamaian.

Semua bangunan yang ada ditempat ini berbentuk pendopo tanpa dinding dan bertiang kayu jati utuh, satu satunya yang berdinding keramik hanyalah bangunan utama yang berfungsi sebagai altar untuk misa atau ekaristi. Sedjatiningsihangkan disebelah altar letak Goa Maria dengan latar belakang pohon jati yang rimbun. Didepan Goa Maria ini biasanya para peziarah menikkan doa mereka serta menyalakan lilin. Disebelahnya lagi berupa Patung salib besar sebagai pemberhentian jalan salib dan pelataran sebagai tempat berdoa juga. Di Sendang Jatiningsih ini terdapat sendang atau mata air yang dialirkanmelalui kran kran yang dipasang didinding batu kapur dan air yang mengalir tersebut diberi nama Tirta Wening Banyu Panguripan.

Source http://yogyakarta.panduanwisata.id http://yogyakarta.panduanwisata.id/wisata-religi/menemukan-ketenangan-jiwa-dan-raga-di-sendang-jatiningsih/
Comments
Loading...