Sejarah Sekolah Kadet Malang

0 29

Sejarah Sekolah Kadet Malang

Pemrakarsa pembentukan Sekolah Kadet tersebut adalah Letkol Soekandar Tjokronegoro dan Mayor Moetakat Hoerip. Sekolah Kadet ini semula akan diberi nama Akademi Militer, akan tetapi Letkol Soekandar Tjokronegoro menyarankan agar sekolah itu diberi nama sederhana yaitu cukup Sekolah Tentara. Maka Sekolah Kadet Malang pun mula-mula bernama Sekolah Tentara Divisi VIII/Suropati. Pada tahun 1946 nama Divisi VIII berganti nama menjadi Sekolah Tentara Divisi VII Suropati dengan simbol melati. Di Malang, sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kadet Malang karena siswanya biasa disebut dengan kadet. Nama sekolah tersebut kemudian diganti menjadi Sekolah Kadet Malang dan akhirnya menjadi Sekolah Tentara Malang (STM).

Sekolah Kadet Malang dibuka pada awal bulan November 1945 dengan tujuan memenuhi kebutuhan komandan-komandan seksi (peleton). Lama pendidikan mula-mula satu tahun, kemudian diperpanjang menjadi tiga tahun. Persyaratan untuk masuk Sekolah Kadet Malang antara lain berijazah MULO (setingkat SMP), belum kawin, dan umur tidak melebihi 25 tahun. Pemuda-pemuda yang berasal dari luar Pulau Jawa mendapat dispensasi. Selesai pendidikan, mereka akan dikirim kembali ke daerah asalnya. Tes yang diberikan hanya meliputi pengetahuan umum dan kesehatan. Kurikulumnya sudah lebih maju, karena sudah dimasukkan mata pelajaran nonmiliter, seperti ilmu pasti, ilmu mekanika, balistik, bahasa Inggris, dan bahasa Jerman.

Direktur pertama Sekolah Kadet ini adalah Mayor Moetakat Hoerip, kedua Mayor Prayudi dan kemudian diganti oleh Mayor Wiyono sampai angkatan kedua. Mereka semua adalah mantan Peta (pasukan Pembela Tanah Air). Para instruktur berasal dari latar belakang berbeda. Di samping berlatar belakang Peta, juga berlatar belakang Legiun Mangkunegaran. Para instruktur dari mantan perwira Legiun Mangkunegaran adalah Letkol KPH Suryosurarso sebagai instruktur kepala beserta beberapa perwira dari legiun dan dua perwira lainnya adalah abiturien Akademi Militer Breda, Belanda. Letnan Kolonel Tjokronegoro, bekas Chu-i (Letnan I) tentara Jepang, menjadi guru termasuk Kapten Faturachman, bekas Legiun Madura. Pada umumnya mereka adalah instruktur perang gerilya, antara lain mantan Shodancho Yugekitai Sidik Parwoko dan Djajusman.

Dari instruktur mantan Peta, untuk mendidik para kadet menjadi prajurit siap tempur seperti saat pembentukan Peta. Sedangkan para instruktur dari mantan Legiun Mangkunegaran mengisi aspek teknis yang tidak didapat di Peta, seperti ilmu medan. Sesuai dengan tujuan mendirikan Sekolah Kadet, maka termasuk aspek yang bersifat teknis tersebut menitikberatkan pelajaran VPTL petunjuk aksi polisionil tentara, tertuju untuk menumpas pemberontakan pribumi, seperti pada masa KNIL.

Semula Sekolah Kadet Malang menggunakan gedung HBS di Jalan Thamrin sebagai tempat pendidikan. Kemudian, pindah ke gedung Fraterschool di Jalan Celaket (sekarang gedung SMAK Frateran) dan akhirnya ke gedung bekas Marine Belanda di Sawahan, bekas tempat interniran keluarga warga negara Belanda. Tempat ini dulu sebagai tempat peristirahatan khusus bagi perwira Angkatan Laut Tentara Belanda. Oleh karena itu areanya cukup luas dan terdapat fasilitas ruangan untuk kamar para kadet, ruangan untuk pelajaran klasikal dan lapangan untuk latihan baris berbaris dan keperluan lainnya.

Khusus mengenai praktik sebagai kurikumijibakutai (pasukan bunuh diri), diajarkan oleh Kapten Jusuf, mantan Heiho (pasukan pembantu tentara Jepang). Sedangkan Mayor Prayudi mengajar strategi militer, teori Clausewitz, yaitu intisari strategi pengetahuan militer, sebagai faset bagi yang berprofesi militer. Hal itu sebagai kelengkapan pengetahuan kepemimpinan yang merupakan ilmu yang langka pada waktu itu. Dalam rangka pengetahuan kepemimpinan teori dan praktek diberikan oleh Letkol S. Tjokronegoro. Ia sering memberikan pelajaran dalam bahasa Inggris. Mayor Bambang Supeno, komandan Polisi Militer waktu itu, juga mengajar dalam rangka gunjing seising (semangat prajurit).

Pendidikan angkatan pertama berlangsung selama satu tahun, sedangkan pendidikan angkatan kedua diperpanjang menjadi tiga tahun. Kadet angkatan pertama berjumlah 120 orang, terdiri atas Angkatan Darat 80 orang, Angkatan Laut 20 orang, dan Angkatan Udara 20 orang. Selama dalam pendidikan, siswa mendapat perubahan pangkat empat kali. Pangkat yang diberikan dalam kuartal pertama adalah kopral kadet, akhir kuartal kedua diberi pangkat sersan kadet, akhir kuartal ketiga sersan mayor kadet, dan akhir kuartal keempat berpangkat vaandrig kadet.

Setelah setahun masa pendidikan, dari jumlah sekitar 250 kadet, hanya tersisa kurang lebih 80 orang. Pada tanggal 30 November 1946 para kadet sebanyak 68 orang dilantik menjadi vaandrig oleh Panglima Divisi VII, Jenderal Mayor Imam Sudja’i. Jumlah kadet yang dilantik berkurang karena beberapa orang keluar dan meneruskan sekolah lagi. Sebagian lagi gugur dan sisanya mengundurkan diri atau dinyatakan tidak ada keterangan. Kadet angkatan pertama sudah berpangkat vaandrig kadet (pembantu letnan calon perwira), banyak yang ditempatkan sebagai komandan seksi (komandan peleton) di batalyon infanteri, depot pendidikan, dan Resimen Polisi Militer.

Sekolah Tentara di Malang ini hanya menghasilkan satu angkatan saja yang dilantik sebagai perwira dengan pangkat letnan dua pada tanggal 1 Januari 1948 oleh Panglima Divisi VII, Kolonel Bambang Supeno di Markas Divisi Turen Selatan, Malang. Beberapa orang tidak sempat menerima pengangkatan ini karena terputus hubungan berkaitan dengan keberadaan mereka di daerah pendudukan Belanda sesudah Agresi Militer 21 Juli 1947. Jumlah perwira yang dilantik 69 orang.

Sesudah Malang diduduki Belanda, pada tahun 1947 sekolah dipindahkan ke Sumberagung dekat Dampit, Malang Selatan. Kemudian, dipindahkan lagi ke Turen. Sejak saat itulah para kadet disebar, ada yang diperbantukan kepada beberapa staf komando teritorial dan subteritorial, atau sebagai pelatih di depot batalyon dan pasukan pertahanan rakyat. Angkatan kedua Sekolah Kadet dibuka pada bulan September 1947. Sebagai komandan kompi latihan sampai komandan regu dilaksanakan oleh abiturien kadet angkatan pertama. Lama pendidikan angkatan kedua adalah tiga tahun, sama seperti Akademi Militer di Yogyakarta. Pada awal tahun 1948, sesudah terjadi gencatan senjata, mulai dipersiapkan penggabungan Sekolah Kadet Malang dengan Militer Akademi Yogyakarta. Saat itu, para kadet sudah dilantik dengan pangkat letnan dua.

Sekolah Kadet Malang yang semula secara administratif tergabung kepada Divisi VIII/Suropati, kemudian diserahkan kepada Pusat Pendidikan Ketentaraan di Markas Besar Tentara (MBT). Kemudian dalam perkembangannya diadakan integrasi antara Sekolah Kadet Malang dengan Akademi Militer Yogyakarta. Angkatan kedua Sekolah Kadet Malang lalu digabungkan dengan angkatan kedua kadet Akademi Militer Yogyakarta pada 7 Juni 1948. Pelaksanaan penggabungan kedua lembaga pendidikan perwira itu dilaksanakan pada bulan November 1948. Namun, baru satu setengah bulan integrasi berlangsung, pecah Agresi Militer Belanda kedua. Untuk kedua kalinya para kadet dari Malang diperbantukan lagi pada pelbagai kesatuan. Ada yang mengikuti long march ke Jawa Barat bersama pasukan Siliwangi, ada yang ke Sumatera, dan ada pula yang ke Kalimantan.

Alumni Sekolah Kadet Malang cukup banyak mencapai puncak karier, di antaranya dari angkatan pertama yaitu Letjen Norman Sasono, Letjen Murgito, Mayjen Sukotjo, Mayjen Pamuji, Letjen Harun Suwardi, Mayjen Darjono, Brigjen Pranowo, Brigjen Abdul Karim. Sedangkan alumni angkatan kedua di antaranya Mayjen Suhodo Rachwono, Mayjen Suprapto, Mayjen Soeharto, Brigjen Ariawan dan lain-lain.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/5074/sejarah-sekolah-kadet-malang/
Comments
Loading...