Sejarah Sekolah Bumiputera

0 42

Sekolah Bumiputera

Pasca diberlakukannya politik etis tahun 1901 beberapa sekolah mulai dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda di tanah Jawa. Pembangunan sekolah ini ditujukan untuk memenuhi ketersediaan tenaga terdidik bagi pemerintah dan kalangan swasta. Kelak tenaga terdidik ini akan mengisi jabatan atau pekerjaan pada kedua sektor tersebut. Sayangnya sekolah-sekolah yang dibangun pemerintah Belanda jumlahnya terbatas. Itupun juga khusus untuk siswa dengan kelompok sosial tertentu. Masyarakat kelas bawah dan bumiputera justru terpinggirkan oleh dunia pendidikan yang diatur pemerintah kolonial.  Namun hal itu tidak menyurutkan semangat sebagian masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan terutama dengan membangun sekolah-sekolah yang diperuntukkan bagi kalangan bumiputera di pedesaan. Sekolah-sekolah di pedesaan ini, gedung dan fasilitasnya disediakan oleh desa sedangkan pemerintah menyediakan guru.

Salah satu elemen pendidikan dasar di pedesaan adalah Sekolah Desa (Volksschool). Sekolah ini disediakan bagi anak-anak golongan bumiputera. Bahasa pengantarnya memakai bahasa Jawa dan lama sekolah tiga tahun. Setelah lulus dari Volksschool, siswa melanjutkan ke Vervolgschool (Sekolah Lanjutan) dengan lama pendidikan dua tahun. Disini bahasa Jawa masih dipakai sebagai bahasa pengantar. Setelah menempuh pendidikan pada kedua sekolah ini, siswa bumiputera bisa melanjutkan ke Schakelschool (Sekolah Peralihan) dengan pengantar bahasa Belanda dan lama belajarnya lima tahun.

Disamping sekolah dasar tersebut, ada pula sekolah lanjutan kejuruan (vakonderwijs). Salah satu diantaranya adalah pendidikan keguruan (kweekschool). Lembaga keguruan ini adalah lembaga yang tertua dan sudah ada sejak awal abad ke-19.

Sekolah guru negeri yang pertama didirikan pada tahun 1852 di Surakarta. Sampai awal tahun 1914, jumlah sekolah yang tercatat di karesidenan Surakarta ada 48 sekolah. Disamping itu pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normal Kursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru-guru sekolah desa.

Pada awal abad ke-20 terdapat tiga macam pendidikan guru, yaitu :

  1. Normalschool, sekolah guru dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima tahun, berbahasa pengantar bahasa dearah.
  2. Kweekschool, sekolah guru empat tahun yang menerima lulusan berbahasa Belanda.
  3. Holland Indlandschekweekschool, sekolah guru 6 tahun berbahasa pengantar Belada dan bertujuan menghasilkan guru HIS-HCS.
Source https://klatenqta.wordpress.com https://klatenqta.wordpress.com/dulu-dan-kini/sekolah-pribumi/
Comments
Loading...