Sejarah Rumah Sakit Umum Santo Antonius

0 111

Rumah Sakit Umum Santo Antonius

Memasuki umur yang ke-85, Rumah Sakit Umum Santo Antonius memiliki perjalanan yang cukup panjang. Diawali pada permulaan abad 20, dimana Vikaris Apostolik Jakarta meminta bantuan tenaga kepada kelompok-kelompok religius di Negeri Belanda. Hasilnya ialah para pastor Ordo Kapusin Provinsi Belanda menerima tanggung jawab atas Prefektur Apostolik Borneo (Kalimantan) yang baru saja didirikan pada tanggal 11 Februari 1905. Sejak saat itulah para misionaris mulai berdatangan secara teratur ke berbagai tempat di Kalimantan. Pada tanggal 30 November 1905 para misionaris pertama tiba di Singkawang. Tahun 1906, Sejiram mendapat imam lagi, dan tahun 1908 dibuka sebuah stasi baru di Laham, di pinggir sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Tahun 1909 Pontianak menjadi tempat kediaman Prefek Apostolik Mgr. Pacificus Bos, dan dengan demikian menjadi pusat segala kegiatan misi di pulau Kalimantan.

Mula – mula Mgr. Pacificus Bos, Ofm. Cap. D.D hanya melakukan turne ke Pontianak, dan mendirikan gereja Katedral Pontianak Santo Yosef pada tahun 1909. Dia mendapatkan tidak ada rumah sakit. Warga Pontianak umumnya berobat ke dukun / tabib dan hanya sesekali berobat ke mantri pemerintah Belanda. Atas inisatif Mgr. Pacificus Bos, pimpinan umat Katolik pada waktu itu yang memandang perlu adanya rumah sakit di Kota Pontianak. Setelah beberapa kali mengadakan perundingan dengan wakil pihak pemerintah Belanda waktu itu, maka barulah pada tahun 1928 permohonan mendirikan rumah sakit tersebut dikabulkan, menggantikan komplek bangunan perumahan polisi yang terletak di antara kebun kelapa yang dibelah sungai Jawi yang bermuara ke sungai Kapuas.

Sungai itu merupakan salah tempat lalu lintas masyarakat dari Kakap dan sekitarnya ke Kota Pontianak. Rumah sakit ini didirikan untuk keperluan umum penduduk kota Pontianak dan seluruh daerah Kalimantan Barat, tanpa memandang suku ataupun agama. Untuk mewujudkan berdirinya rumah sakit ini, maka dibentuklah sebuah panitia pengumpulan dana untuk membiayai proyek rumah sakit ini dan mereka mulai bekerja pada bulan April 1928. Bangunan ini akan diserahkan oleh pihak pemerintah Belanda kepada Missi dengan perjanjian bahwa Missi harus mengganti 1/4 (seperempat) dari harga taksiran. Mengingat bahwa bangunan yang ada adalah perumahan polisi, maka harus dilakukan perbaikan sesuai dengan fungsi rumah sakit.

Pada bulan April 1928, pimpinan Sekolah Pertukangan Bruder Cosmas dengan stafnya mulai membangun rumah sakit yang sederhana tetapi cukup memuaskan pada waktu itu. Bangunan yang didirikan adlaah : 3 (tiga) ruang untuk pria, 2 (dua) ruang untuk wanita, 1 (satu) ruang untuk anak – anak dan satu ruang lagi untuk pasien kelas. Di samping itu ada beberapa kamar lagi yaitu : ruang isolasi, kamar bedah, kamar bersalin, ruang poliklinik, kamar obat, kantor umum / dokter, dapur dan kamar cuci. Daya tampung rumah sakit ini semula 136 tempat tidur. Rumah sakit ini diresmikan pada tanggal 31 Desember 1928; dan pada tanggal 1 Januari 1929 pasien yang pertama kali masuk rumah sakit. Rumah sakit ini diberi status Rumah Sakit Swasta bersubsidi, penyelenggaraan maupun pemeliharaan rumah sakit ditangani oleh missi Katolik dengan mendapat subsidi dari pemerintah.

Pada permulaannya rumah sakit ini belum mempunyai dokter ahli, hanya ada dokter umum dan diberi tanggungjawab sebagai pimpinan. Tenaga lainnya adalah para suster dari Fransiskanes, pastor dan tenaga lainnya. Sungguh pun demikian, karena masyarakat masih banyak menggunakan dukun dan tabib dalam pengobatannya, belum begitu banyak pasienya karena masyarakat belum tahu situasi rumah sakit itu sendiri, agak takut dan belum memiliki pengetahuan mengenai rumah sakit. Namun selanjutnya pasien yang berobat ke rumah sakit semakin bertambah banyak setelah mereka mulai percaya dengan pengobatan dan perawatan di rumah sakit.

Source http://www.rs-antonius.com http://www.rs-antonius.com/sejarah.php
Comments
Loading...