Sejarah RSD Mardi Waluyo

0 100

RSD Mardi Waluyo

Rumah Sakit Daerah (RSD) Mardi Waluyo terbilang rumah sakit tua. Ia hadir sebelum Indonesia merdeka: 1942. Rumah sakit warisan Belanda ini baru bangkit dan bergerak cepat di awal tahun 2.000, ketika walikota mencanangkan pembangunan gedung baru di lokasi yang sekarang: Jl. Kalimantan. Pembangunan tahap pertama rampung 7 tahun kemudian dan pada 13 Agustus 2007 sebagian layanan rumah sakit resmi meninggalkan gedung lama di Jl. Dr Soetomo. Yang pindah antara lain layanan Rawat Inap VIP-VVIP, Perkantoran dan Administrasi, Instalasi Gawat Darurat (IGD), Laboratorium, dan Radiologi. Setelah pembangunan tahap kedua rampung, pada 1 Juni 2010, RSD Mardi Waluyo pun pindah total.

Soal kisruh dengan Pemkab Blitar, rasanya wajar-wajar saja: kalau dilihat dari segi administratif. Bagi rumah sakit yang berstatus Badan Layanan Kesehatan Umum Daerah (BLUD), soal uang memang harus pertimbangan penting.

Ketika aksi tolak pasien mulai hangat diberitakan di penghujung 2011, Pemkab Blitar mengakui kalau APBD 2011 menyediakan dana yang hanya cukup untuk membayar tagihan Januari-Maret 2011 saja, yang besarnya mencapai Rp 587 juta. Buntutnya, RSD Mardi Waluyo pun lantas dikabarkan menolak pasien Jamkesda asal Kabupaten Blitar. Kalau pun tak ditolak langsung, pasien itu dirujuk kembali ke RSUD Ngudi Waluyo, RS milik Pemkab Blitar yang ada di Kecamatan Wlingi.

Pada Juli 2012, angin perubahan datang. RSUD Mardi Waluyo mau menerima lagi warga Kabupaten Blitar yang datang berobat. Ini lantaran utang Pemkab Blitar yang pernah mencapai total Rp 3 miliar, saat itu tersisa sekitar Rp 1 miliari. Sudah bereskah seluruhnya? Entahlah. Yang pasti, Agustus 2013 lalu, Direktur RSD Mardi Waluyo Kota Blitar, dr. Husein Abdur Rahman, menyatakan pihaknya siap melakukan ‘kerjasama ulang’ dengan Pemkab Blitar.

Source https://indoplaces.com https://indoplaces.com/mod.php?mod=indonesia&op=view_region&cid=13®id=3809
Comments
Loading...